INILAH.COM, Jakarta - Mantan Presiden KH Abduraahman Wahid (Gus Dur) menitipkan wasiat kepada adik kandungnya, KH Sholahuddin Wahid atau yang akrab disapa Gus Sholah. Mengapa dan ada apa?
Beberapa lama sebelum wafat, Gus Dur sudah merasa yakin bahwa Gus Sholah yang dianggapnya layak dan kredibel memimpin Nahdlatul Ulama (NU). Sebagai sosok darah biru dari keluarga pendiri dan pemimpin NU yakni Hadratussyeikh KH Hasyim Asy'ari, Gus Dur sadar bahwa adik kandungnya itu memiliki kemampuan, karena sudah tiba waktunya. Maret ini, Muktamar NU akan digelar di Makasar.
Gus Sholah kepada INILAH.COM menyatakan bertekad akan membawa NU lebih baik lagi dan mengembalikan pada posisinya sebagai organisasi kemasyarakatan dan keagamaan terbesar di Indonesia yang steril dari berbagai bentuk kepentingan politik partisan. Gus Sholah mau menjadikan warga nahdliyin sebagai masyarakat sipil yang demokratis dan kritis terhadap pemerintah
KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang gigih memperjuangkan kebhinekaan. Bagi sebagian simpatisannya, Gus Dur bahkan dianggap sebagai pahlawan yang turut menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui teladannya menghargai pluralisme. Gus Sholah bertekad meneruskan perjuangan Gus Dur itu
Di balik wasiat Gus Dur untuk Gus Sholah itu jelas bahwa Tebuireng tak ingin NU terpecah atau jatuh ke tangan yang salah. NU harus dikonsolidasi kembali di bawah spirit masyarakat madani yang kritis dan sehat agar bisa bermartabat.
"NU adalah aset bangsa dan negara yang sangat berharga. Sebagai benteng utama kebhinekaan, keluarga besar Tebuireng sudah membuktikan komitmen dan perjuangan yang tulus-ikhlas tiada tara," kata Dr Rizal Ramli,sebelum terbang ke Jenewa,Swiss akhir pekan lalu atas undangan suatu badan internasional. Rizal adalah teknokrat senior dan mantan Menko Ekuin era kepresidenan Gus Dur yang dianggap sebagai salah satu 'anak tertua' keluarga Tebuireng Jombang itu.
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, mengaku mendapatkan wasiat dari almarhum kakaknya yang juga mantan Presiden Abdurrahman Wahid soal kepemimpinan Nahdlatul Ulama.
"Persisnya hari Jumat tanggal 11 Desember 2009, Gus Dur telah meminta saya mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU (Pengurus Besar Nahdlatul Ulama)," kata Gus Sholah saat ditemui di Ponpes Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, Senin (8/2).
Saat itu Gus Dur menyampaikan permintaan kepada Gus Sholah untuk bersedia memimpin NU, dalam bahasa Jawa di PP Tebuireng. "Gus Dur sempat bertanya, "Tahu enggak, siapa yang mencalonkan kamu untuk memimpin NU nanti?" kata Gus Sholah menirukan pertanyaan yang diajukan Gus Dur kepadanya itu.
Gus Sholah pun hanya menggelengkan kepala. "Lalu beliau menjawab, yang mencalonkan kamu adalah Mbah Maimun (KH Maimun Zubair, pengasuh Ponpes Al Anwar, Sarang, Rembang, Jateng)," kata Gus Sholah lagi.
Wasiat kakaknya yang disampaikan sebelum meninggal dunia itu menjadi modal utama bagi Gus Sholah untuk maju dalam pencalonan di arena Muktamar ke-32 NU di Makassar, Sulawesi Selatan, pada 22-27 Maret 2010.
"Setidaknya, permintaan kakak saya itu menambah kepercayaan diri saya dalam muktamar nanti," katanya. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !