inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Rupiah Tak Terpengaruh Krisis Eropa

Headline
Inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
Selasa, 9 Februari 2010 | 11:31 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Krisis utang di negara Eropa tidak akan mempengaruhi rencana penerbitan global bond oleh pemerintah dan nilai tukar rupiah. Penguatan rupiah karena Euro melemah.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, krisis yang terjadi di Eropa saat ini akan berdampak pada nilai tukar rupiah. "Ini kemudian mempengaruhi persepsi dari stabilitas mata uang Euro. Kalau
kita pengaruhnya akan kelihatan dari nilai tukar," ujar Menkeu di Gedung Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) Jakarta, Selasa (9/2).

Menkeu melanjutkan, pihaknya akan terus memantau pergerakan yang terjadi, termasuk komposisi antara nilai tukar yen Jepang dengan rupiah. "Tapi dolar AS menguat karena euro melemah. Tapi dalam hal ini yen juga akan mempengaruhi. Komposisi ini akan kita lihat terus," ujarnya.

Selain nilai tukar rupiah, krisis Eropa tersebut juga akan memberi pengaruh terhadap ekspektasi surat utang negara. "Itu akan muncul dalam bentuk yield dan price yang dianggap sesuai. Namun karena APBN kita dianggap relatif sehat maka kalau anda lihat kinerja bonds kita yang 5-10 tahun yield-nya malah menunjukkan pembaikan yang cukup signifikan," paparnya.

Menkeu mengatakan, adanya krisis tersebut tidak akan terlalu berdampak pada defisit sehubungan dengan rencana penerbitan global bond. "Kalau dilihat dari size surat utang yang kita terbitkan tahun ini dibandingkan dengan kapasitas market yang bisa absorb, saya tidak lihat ada persoalan yang mengkhawatirkan," tuturnya.

Namun, menkeu mengatakan, Indonesia harus tetap waspada dengan keadaan politik yang dinilai jauh lebih berdampak terhadap sentimen investasi di dalam negeri. "Kecuali kalau terjadi sentimen pembalikan, ini kan yang dilihat lebih pada stabilitas politik negeri kita. Ini yang harus kita lihat. Tapi di luar masalah itu semua sepertinya Indonesia termasuk negara berkembang yang paling diminati," ujarnya. [mre/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.