Sabtu, 26 Mei 2012 | 02:13 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Saham Properti Prospektif Meski Terguncang
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh: Asteria
web - Selasa, 9 Februari 2010 | 15:27 WIB
INILAH.COM, Jakarta Saham properti masih tak bertenaga pada perdagangan siang ini. Namun, sektor ini sebenarnya menarik untuk dikoleksi. Hal ini didukung perbaikan kondisi ekonomi dan gencarnya aksi korporasi beberapa emiten.
Pada perdagangan Selasa (9/2) sesi siang, sektor properti terpantau anjlok 0,48%, dimana PT Bakrieland Development (ELTY) turun Rp5 ke Rp230, PT Summarecon Agung (SMRA) melemah Rp10 ke Rp720, PT Ciputra Development (CTRA) terkoreksi Rp10 ke 650, PT Ciputra Surya (CTRS) turun 15 ke 495 dan PT Ciputra Property (CTRP) turun Rp10 ke 255.
Panin Sekuritas menilai, pasar tertekan kekhawatiran seputar masalah utang di Eropa plus data klaim pengangguran yang meningkat ke level yang tidak diprediksi sebelumnya. Pelemahan bursa juga terdorong guncangan Wall Street kemarin, yang membawa Dow Jones ke posisi terendahnya dalam 9 bulan terakhir.
Saat ini berapa besarnya masalah pada Spanyol dan Portugis belum semuanya terungkap. Mungkin pasar akan menunggu hingga berita baik kembali berhembus, ujar Purwoko Sartono, analis Panin Sekuritas.
Ia pun menilai, beberapa saham dari sektor properti masih akan tertekan, seperti SMRA dan ELTY. Menurutnya, kedua emiten ini sudah menikmati kenaikan berturut-turut yang cukup signifikan. Sehingga, ketika bursa dilanda isu negatif dari luar, saham sektor ini akan ambruk. Kami rekomendasikan jual untuk SMRA dan ELTY, ungkapnya.
Namun, untuk jangka menengah panjang, saham sektor properti sebenarnya cukup menarik. CIMB Securities Indonesia memberi peringkat outperform pada saham SMRA karena dianggap sebagai salah satu pengembang properti terbaik.
Hal ini karena perseroan konsisten memberikan imbal hasil di atas 1 kali return on capital employed (ROCE)/WACC ratio sejak listing. Kami rekomendasikan beli dengan target harga Rp 1.000, kata Mastono Ali, analis dari CIMB securities.
Menurutnya, target harga Rp 1.000 diperoleh dari metode discounted cash flow/DCF (weighted average cost of capital/WACC 12%) atau sekitar 30% discount to RNAV. CIMB pun menaikan estimasi keuntungan perseroan sebesar 65% dan 8% untuk proyeksi kinerja 2010 dan 2011, karena EBIT marjin yang lebih tinggi, dengan mulai masuknya arus kas (cash flow) dari proyek Summarecon Bekasi.
Sementara analis PT BNI Securities Maxi Liesyaputra memiliki outlook positif terhadap kinerja ELTY. Hal ini dipicu rampungnya proyek Rasuna Epicentrum dalam waktu dekat, ditunjang pengembangan kluster-kluster baru di kawasan perumahannya. Kami rekomendasikan beli dengan target harga dapat mencapai level Rp 730, ujarnya.
Seperti diketahui, Bakrie Tower dan Lifestyle Center yang termasuk dalam super blok Rasuna Epicentrum, akan selesai April 2010. Bakrie Tower memiliki luas 65 ribu meter persegi dengan sebagian besar dijual (strata title), sedangkan sisanya disewakan. "Kedua jenis properti tersebut diharapkan akan menjadi daya tarik di Rasuna Epicentrum," katanya.
Perseroan juga mengembangkan infrastruktur untuk menunjang pertumbuhan kinerjanya, salah satunya proyek tol Kanci-Pejagan. Untuk itu, ELTY tahun ini menganggarkan belanja modal (Capex) sebesar Rp2,5 triliun, di mana Rp1 triliun digunakan untuk pengembangan properti dan Rp1,5 triliun untuk pengembangan jalan tol.
ELTY juga banyak mengembangkan hunian di kawasan Bogor, seiring kenaikan pangsa pasar rumah di kawasan tersebut. Tingginya pangsa pasar seiring pesatnya pertumbuhan populasi di wilayah Bogor, Tanggerang, dan Bekasi yang mencapai 3,8% per tahun. Maxi memproyeksikan, perseroan hingga akhir 2009 akan membukukan pendapatan Rp 1,1 triliun dan laba bersih Rp 232 miliar.
Sedangkan Isfhan Helmy, analis dari Etrading Securities kepincut saham PT Bumi Serpong Damai (BSDE). Salah satunya disebabkan kinerja perseroan pada 2009 yang memuaskan.
Melemahnya pasar properti tahun lalu mengakibatkan sedikit penurunan pendapatan BSDE sebesar 8% menjadi Rp1,271 triliun. Namun, laba bersih BSDE melonjak 38%, hingga Rp309 miliar akibat peningkatan harga jual, imbuhnya.
BSDE juga didukung neraca keuangan yang sehat. Perseroan memiliki posisi kas bersih, dengan total uang tunai per Desember 2009 mencapai Rp1,050 triliun. Sedangkan total utang perseroan mencapai Rp 845 miliar, terdiri dari pinjaman bank Rp250 miliar dan obligasi II Rp595 yang akan jatuh tempo pada Oktober 2011. Kami percaya bahwa perusahaan akan mampu membayar utang menggunakan kas internal, jelasnya.
Perseroan menargetkan penjualan pemasaran mencapai Rp2 triliun pada 2010, terdiri dari Rp1,5 miliar di sektor perumahan dan Rp500 miliar unit komersial. Sementara pada 2009, penjualan pemasaran BSDE jatuh 19% menjadi Rp 1.329 miliar.
Tahun ini, BSDE akan meluncurkan 11 baru cluster seluas 70 hektar. Pengeluaran modal perusahaan tahun ini mencapai Rp1 triliun, terdiri dari 70% untuk pengembangan lahan, 20% pembangunan Infrastruktur dan 10% untuk akuisisi tanah. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.