INILAH.COM, Jakarta - Pertumbuhan ekonomi yang disokong oleh aliran hot money dan utang, bersifat rapuh. Pesimis dapat mendukung target pertumbuhan ekonomi sebesar 4,3%.
Ekonom ECONIT Hendri Saparini menyatakan, pihaknya memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2009 akan berada pada kisaran 4,4-4,5%. "Tapi pertumbuhan yang didorong oleh hot money dan dibiayai oleh utang itu bukan pertumbuhan yang cukup tumbuh artinya ini pertumbuhan ekonomi yang rapuh," ujarnya ketika ditemui di auditorium Perpustakaan Nasional Jakarta, Selasa (9/2).
Namun, kendati memprediksikan di atas target pemerintah, Hendri menyatakan, angka tersebut adalah angka yang rapuh karena pertumbuhan tersebut bukan didukung sektor riil. Selain itu, ia menilai, dua sektor yang menunjang pertumbuhan ekonomi yaitu manufaktur dan pertanian, bersifat semu karena tidak dapat menyerap tenaga kerja secara maksimal. "Dua sektor yang menyerap (tenaga kerja) yakni manufaktur tumbuh 1,4 persen dan pertanian 3,4 persen, tapi bukan pertanian rakyat. PE (pertumbuhan ekonomi) tinggi tapi dengan ongkos mahal dan ekonomi rapuh, dan ketidakadilan hasil-hasil kepada masyarakat," ujarnya.
Sebagai informasi, Hendri dan beberapa ekonom serta ahli politik yaitu Ichsanuddin Noorsy, Revrisond Baswir, Muhammad Yunus, Sri Edi Swasono, Kwik Kian Gie, Kriminolog UI Dr Muhammad Mustofa, dan Ahli Ekonomi Politik UGM Muhctar Mas'ud, pada Selasa ini mendeklarasikan pembentukan Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) di Gedung Auditorium Perpustakaan Nasional. [mre/hid]