Senin, 28 Mei 2012 | 18:04 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Boediono-Sri Mulyani Kembali Disorot Pansus
Headline
Inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Ahluwalia
web - Rabu, 10 Februari 2010 | 07:36 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Langkah Pansus Hak Angket Bank Century untuk mencari kebenaran terus menggelinding. Mantan Menko Ekuin Kwik Kian Gie yang juga turut dimintai pendapat oleh pansus sepakat dengan pernyataan Fraksi PKS bahwa kesalahan Boediono 80% dan Sri Mulyani 20% dalam kasus Bank Century.

"Kalau itu jelas. Di sini saya cenderung sepakat dengan PKS. Walaupun sebetulnya yang menandatangani itu Sri Mulyani sebagai ketua KSSK (Komite Stabilitas Sektor Keuangan)," kata Kwik Kian Gie usai acara AEPI (Asosiasi Ekonomi-Politik Indonesia) di Perpustakaan Nasional, Jakarta, Selasa (9/2).

Menurut Kwik, yang menandatangani itu sebenarnya adalah Menteri Keuangan Sri Mulyani yang juga Ketua KSSK. Karena, sepanjang rapat Sri Mulyani bersikap selalu ragu-ragu dan mengajukan pertanyaan. "Rapat konsultasi itu berlangsung singkat. Yang mengatakan, pokoknya kemudian menjadi sistemik dan harus di-bail out, itu satu orang," ujar mantan Menteri Koordinator Bidang Ekonomi Industri era Presiden Megawati Soekarnoputri ini. "Maka dua-duanya harus bertanggung jawab," kata Kwik.

Sejauh ini, anggota pansus dari Fraksi PKS Mahfudz Siddiq menyatakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak terlibat dalam proses pengambilan kebijakan bailout Bank Century. Presiden hanya mendapat laporan kebijakan yang sudah diambil KSSK.

"Jadi pihak yang paling bertanggungjawab dalam skandal bailout Bank Century ini adalah Boediono dan Sri Mulyani, dengan porsi kesalahan 80% di Boediono dan 20% di Sri Mulyani," ujar Mahfudz .

Bank Century merupakan merger tiga bank sakit karena salah urus dan diperkirakan telah terjadi tindak pidana perbankan oleh pemilik/manajemen CIC, Pikko, dan Danpac.

Mengapa Bank Indonesia (BI) mengizinkan Chinkara Capital, perusahaan dari Pulau Bahama yang diperkirakan hanya kendaraan untuk maksud tidak baik, mengakuisisi dan menggabungkannya? Tiga bank sakit digabung menjadi satu bank tak akan menjadi lebih sehat karena sumber penyakitnya ada pada pemilik yang mengendalikan manajemennya. Kenapa waktu itu tidak ditutup? Apakah ada kolusi atau persekongkolan?

Setelah merger menjadi Bank Century, Rafaat menguasai 15% saham, Hesyam Al Wareq sekitar 10%, Robert Tantular 35%, dan saham publik 40%. Mengingat tak ada pemegang saham Bank Century lain yang melancarkan protes, patut diduga 40% saham publik Bank Century juga dikuasai ketiga orang tersebut.
Praktik penyimpangan di Bank Century terus berlanjut, berupa penyaluran kredit kepada lingkungan pemilik, pembelian mahal commercial paper yang tidak punya rating, penyedotan uang masyarakat melalui berbagai instrumen bank, serta laporan palsu kepada BI. Mengingat penyimpangan itu berlangsung bertahun-bertahun, perlu dipertanyakan efektivitas pengawasan BI; apakah ada kolusi atau persekongkolan?
Para analis ekonomi melihat, gagal bayarnya Bank Century murni karena mis-management yang ditengarai ada tindak kriminal di dalamnya. Berbeda dengan kegagalan sejumlah bank pada 1997 yang dipicu oleh krisis ekonomi. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
5 Komentar
Firmansyah
Kamis, 11 Februari 2010 | 19:58 WIB
Pejabat BI udah digaji tinggi tapi kerjanya seperti pns golongan II. mana rasa malumu
stress
Kamis, 11 Februari 2010 | 07:41 WIB
contoh kesalahan kwik. Dia sering cerita tentang professor kodok. Katanya kodok menyeberagi sungai cuma perlu loncat dua kali. sekali waktu nyemplung kedalam air. sekali lagi waktu loncat dari dalam air ke darat. Pertanyaannya: siapa yang bisa loncat dari dalam air ke darat??? gak ada yang bisa!!! paling merangkak. Jadi kwik berpikir tidak logis dan tidak mengamati dengan baik, cuma mendengarkan kata orang yang tidak benar.
barong
Rabu, 10 Februari 2010 | 16:32 WIB
Aneh si Kwik ini, kelihatan nya kok dendam sekali dengan Boediono. Lihat aja kalau dia komentar dimana pun sejak dari mulai PilPres sampai sekarang..., selalu Boediono yg diincar dengan tuduhan2 negatip yg tak berdasar.... Kelihatannya Kwik seperti orang iri dan dengki pada Boediono... Mungkin dia iri melihat keberhasilan Bodiono menjadi menteri perekonomian..., karena dia saat jadi menteri tidak menghasilkan apa2 alias gagal.......
harry
Rabu, 10 Februari 2010 | 08:59 WIB
Nulut si kwiek ini seperti comberan, terus terang saya sebagai WNI keturunan merasa malu punya oranbg seperti itu, kemana mana yg ada cuma dengki dan iri hati, sedangkan prestasi ,NOL BESAR, semasa jadi Menteri dulu, sama sekali ndak ada prestasinya. lagian inilah.com koq bisa bilang kalangan ekonom....., jelas salah, kalangan ekonom yg asli termasuk pelaku usaha justru merasakan dampak hebatnya krisis saat itu, justru tidak diundang pansus, kan aneh bin ajaib
wong cilik pintar
Rabu, 10 Februari 2010 | 08:08 WIB
mas jurnalis, bikin berita itu yang imbang,jgn berat sebelah. Wong cilik sudah pintar sekarang. Kwik Kian Gie itu cuma doktorandus alias S1 bukan Doktor, Phd dan menteri yang gagal. Sudah ketinggalan ilmunya. Apalagi dia itu musuh politk Boediono, jelas conflict of interest, sdh gak netral. Jilat sana jilat sini, sekarang jilat PKS, besok PDI-P jilat ludah sendiri.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.