INILAH.COM, Jakarta - Demokrasi di Indoensia sejak sepuluh tahun terakhir dinilai gagal menghasilkan kesejahteraan bagi rakyat. Lebih dari itu, demokrasi digugat karena berubah menjadi instrumen akumulasi kemakmuran elit politik, sembari membiarkan rakyat dalam kubangan kesengsaraan.
Itu terungkap dalam diskusi publik 'Wajah Demokrasi Kita' di Gedung Jakarta Media Center, Rabu (10/2). Menurut Dosen Fisipol UGM Cornelis Lay, tidak mengherankan jika rakyat merindukan kembalinya masa Orde Baru.
"Suara rakyat ini tidak bisa tidak harus dibahasakan sebagai kritik fundamental atas kegagalan demokrasi dalam men-deliver kesejahteraan sebagai kebutuhan yang sama pentingnya dengan demokrasi itu sendiri," ujarnya.
Sementara bagi anggota DPR Fraksi PDIP Budiman Sujatmiko, demokrasi Indoensia sepuluh tahun terakhir juga dikuasai oleh demokrat palsu dan sangat dipengaruhi oleh klan politik dinasti. "Demokrasi kita tereduksi, dari demokrasi prosedural menjadi demokrasi visual. Tokoh-tokoh lama didaur ulang dengan kemasan baru," tegas politisi yang juga mantan Ketua Umum PRD ini.
Budiman juga menilai, Indonesia baru sampai pada tahap demokrasi penghiburan. Di era demokrasi seperti ini mereka memilih wakil rakyat yang menghibur. Padahal penyakit sosial tidak dapat disembuhkan dengan hiburan, tapi butuh pil pahit yang bisa menyembuhkan seperti di Bolivia yang memilih presiden seorang petani dan Paraguay dengan
presiden seorang uskup.
"Rakyat kita butuh presiden yang ganteng dan lebay, pungkas Budiman. [jib]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !