INILAH.COM, Jakarta George Soros ikut mengkritik kebijakan bail out Bank Century. Kebijakan itu dinilai keliru dan salah besar. Kritik Soros ini objektif dan menjadi pembelajaran.
Soros, seorang ekonomi sekaligus kapitalis dunia kelahiran Budapest, Hongaria, secara tidak langsung menyatakan kurang menyetujui cara-cara pemberian dana talangan (bail out) terhadap perbankan di Indonesia dan belahan dunia lainnya.
Yang harus dilakukan adalah perbaikan regulasi perbankan dan perekonomian agar mampu bertahan dengan pengaruh krisis keuangan, katanya, kemarin. Baginya, bail out akan menimbulkan persoalan besar dalam sistem finansial.
Bail out, menurutnya, tidak perlu dilakukan jika regulasi perbankan baik. Sebab, itu rentan terhadap ekonomi," papar Soros yang datang sebagai Pendiri dan Ketua Open Society Institute serta penyandang dana Yayasan Tifa.
Dalam kaitan ini, ekonom senior Rizal Ramli PhD dalam wawancara melalui telepon internasional dengan INILAH.COM, dari Jenewa, Swiss, Rabu (10/2) malam menyatakan alasan Menkeu dan Bank Indonesia bahwa bailout Bank Century harus dilakukan karena berdampak sistemik, tidaklah tepat, ceroboh, dan teledor.
Alasan itu dinilai sekadar alibi untuk memuluskan "perampokan" terhadap Bank Century oleh pemiliknya sendiri. Ada berbagai fakta menunjukkan bahwa hal itu sekadar alasan yang dicari-cari. Kesulitan likuiditas perbankan Indonesia pada akhir 2008 bukan karena dampak krisis ekonomi global, tetapi akibat kebijakan pengetatan moneter yang dilakukan Gubernur BI Boediono dan pengetatan fiskal Menkeu Sri Mulyani, paparnya.
Bank Century, menurutnya, adalah bank amat kecil sehingga penutupan bank itu akan berdampak minimum terhadap perbankan nasional dan tak berdampak sistemik. Justru langkah bail out itu menimbulkan dampak sistemik terhadap stabilitas politik, tambah Rizal.
Dana pihak ketiga di Bank Century hanya 0,68% dari total dana di perbankan, kredit Bank Century 0,42% dari total kredit perbankan, sementara asetnya 0,72% dari aset perbankan. Selain itu, bank-bank pada November 2008 memiliki CAR rata-rata di atas 12%.
Hanya ada tiga bank kecil yang memiliki CAR di bawah 8% yaitu batas minimum untuk bail out sesuai PBI Nomor 10 Tahun 2008 yaitu Bank IFI, Bank Century, dan satu bank lain. Namun yang diselamatkan hanya Bank Century padahal bank itu memiliki CAR hanya 2,35% per 30 September 2008. Bankan, CAR bank tersebut negatif (-3,5%) saat pelaksanaan bailout.
Kita tak ingin kesalahan sebagaimana kasus bailout Century terulang di masa datang. Karena itu pimpinan BI dan Depkeu harus kompeten, prudent dan kreatif dalam bekerja. Inilah saatnya yang salah mengaku salah, dan yang benar jangan pula jumawa, kata Rizal yang menjadi panelis pertemuan internasional PBB dan Bank Dunia soal ekonomi global dengan ekonom dunia dari AS, Amerika Latin, Asia dan Eropa.
Soros dan Rizal punya pandangan paralel soal bail out itu, yang justru membuat ekonomi Amerika Serikat, Eropa dan negara maju lainnya menjadi mengkerut dan merosot jauh karena telah keliru membuat kebijakan bail out itu. [mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !