INILAH.COM, Jakarta - Pemerintah akan mengkaji tiga kontrak ekspor gas karena dinilai terlalu murah. Bahkan harganya masih di bawah harga gas domestik.
Negosiator Gas Alam Cair (LNG) dan Pemanfaatan Gas Departemen ESDM Kardaya Warnika di Jakarta, Selasa (17/6) mengatakan, ketiga kontrak ekspor tersebut ditujukan ke Malaysia, China, dan Korea Selatan. "Kami akan upayakan harga ekspor gasnya lebih tinggi dibanding sekarang," katanya.
Kontrak ke Malaysia adalah ekspor gas melalui pipa dari Blok Natuna yang dioperasikan ConocoPhillips. Harga ekspor ke Malaysia tersebut masih memakai ceiling (batas atas) high sulfur fuel oil (HSFO) pada 118 dolar AS per metrik ton atau setara dengan harga minyak mentah 25 dolar AS per barel. "Dengan ceiling itu harga gasnya sekitar 2,75 dolar AS per MMBTU," katanya.
Harga tersebut sangat murah karena harga gas ke Pupuk Kaltim mencapai 10 dolar AS per MMBTU, sedang kontrak gas ke Fujian, China dan Korea Selatan berasal dari LNG Tangguh, Papua.
Sama seperti ke Malaysia, kontrak gas ke Fujian dan Korea Selatan juga memakai harga ceiling. "Kalau ke Fujian pakai ceiling 38 dolar AS per barel, maka ke Korea masih 25 dolar AS per barel," katanya.[*/L5]