INILAH.COM, Jakarta - Facebook di Indonesia mulai memakan korban. Kejahatan seksual terjadi. Juga prostitusi. Inilah penelusuran terhadap ekses dari laman jejaring sosial yang makin nge-trend itu.
Publik dicengangkan saat dua remaja terlihat dalam prilaku seksual menyimpang melalui situs jejaring sosial facebook. Kasus Febriari alias Ari Power (18) dengan Marietta Nova Triani atau Nova (14), yang terjalin melalui Facebook harus berakhir di kantor polisi.
Ini bermula dari obrolan, lalu menjadi akrab dan tak lama kemudian muda-mudi tersebut bertemu di suatu tempat, dan terjadilah hubungan seks sebanyak tiga kali.
Dari penelusuran INILAH.COM, ada beberapa catatan tentang ekses atau akibat negatif facebook. Salah satunya, jejaring alternatif baru ini mulai dimasuki prostitusi seks.
Sebagaimana dikutip situs TopTenReviews.com, Indonesia masuk dalam kategori jawara dalam urusan 'esek-esek'. Dari statistik yang dikumpulkan oleh TopTenReviews.com, pada 2006 Indonesia ada pada urutan ke-7 sebagai negara yang pengguna internetnya paling kerap mengetikkan kata "sex" di search engine.
Indonesia berada di posisi ke-3 setelah Vietnam dan India untuk kategori negara pengakses situs seks terbanyak. Kemudian untuk kategori kota, data per 30 hari terakhir berdasarkan Google Trends menegaskan bahwa Jakarta ternyata menduduki posisi ke-2, setelah Delhi di India.
Sosiolog UI, Thamrin Amal Tamagola mencoba memetakan persoalan mengapa seorang remaja mau terjun dalam dunia prostitusi. Thamrin menuturkan, ada beberapa penelitian dan paper di UI yang mengupas praktek prostitusi di kalangan anak sekolah seperti yang terjadi baru-baru ini kasus pasangan copy-darat Nova dan Ari.
"Dalam beberapa paper, anak remaja itu menganggap melakukan hubungan seksual untuk mendapat uang itu hal yang biasa saja. Dalam benak mereka, para orangtua saja yang menilai seks itu menyimpang, kata Thamrin saat berbincang dengan INILAH.COM di Jakarta, Rabu (10/2).
Cara pendekatan orangtua yang selalu dianggap salah oleh anak-anak mereka.
"Si anak menafsirkan lain, ia akan berpikir orangtua tahu apa sih? Orangtua gaptek (gagap teknologi), tidak modern, terlalu kuno, dan cenderung mengekang," kata Thamrin.[bersambung]