INILAH.COM, Jakarta Jika tak ada perubahan berarti, Bibit Waluyo-Rustriningsih akan memimpin Jawa Tengah lima tahun ke depan. Sukses mereka melambangkan kemenangan politik abangan di kawasan itu.
Apa arti kemenangan (hampir pasti) Bibit-Rustri pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jateng? Dia bisa dibaca dari berbagai sisi. Pada satu sisi, sukses kandidat usungan PDI Perjuangan ini menunjukkan masih kuatnya nasionalisme kaum abangan. Di sisi lain, bisa pula dibaca sebagai belum relanya rakyat Jateng dipimpin sipil murni.
Kemenangan pasangan PDIP ini mengingatkan publik pada kemenangan PNI pada pemilu 1955. Saat itu, kaum abangan sebagian besar menyalurkan aspirasi politiknya pada PNI. Fenomena itu kini terulang kembali.
"Jawa Tengah dikenal sebagai basis kaum abangan dan nasionalisme sekuler," kata Yudi Latif, pengamat politik dari Reform Institute. Artinya, dominasi BibitRustriningsih mengisyaratkan kekuatan abangan yang seolah tak lekang oleh perubahan.
Hasil hitung cepat Lembaga Survei Indonesia (LSI) hingga pukul 18.00 WIB menunjukkan Bibit unggul dengan perolehan suara 42,47%, sementara Bambang Sadono yang berpasangan dengan Muhammad Adnan memperoleh 23%. Bambang-Adnan adalah representasi Golkar dan sebagian besar warga NU. Posisi ketiga ditempati pasangan Sukawi Sutarip-Sudharto yang diusung oleh PKS dengan 15,23%.
Pemilahan antara kaum santri, abangan dengan priyayi atau kaum ningrat dan birokrat, pertama kali dilakukan antropolog Clifford Geertz di tahun 1950-an. Meski mengandung pelbagai kelamahan dan menjadi bahan perdebatan di kalangan ilmuwan sosial, analisis Geertz membantu memudahkan orang agar dapat menganalisis dan memahami persoalan budaya politik Indonesia secara sederhana.
Kekuatan NU, misalnya, sejak dulu diposisikan dalam kubu kaum santri. Pada Pemilu 1955, NU dominan di Jawa Timur, sementara PNI (nasionalis) di Jawa Tengah dan Masyumi di Jawa Barat.
Dalam konteks sosio-religius, dengan mudah dapat ditemukan beberapa perbedaan, terkait dengan, antara lain sistem upacara masing-masing. Abanganisme diwarnai unsur sinkretisme, dibanding dengan yang 'putihan' (santri). Abanganisme tidak taat 'syariat', hal ini berbeda dengan kalangan santri yang taat 'syariat'.
Konteks sosio-religius ini, tampaknya kurang menarik atau kalah populer dibanding dengan konteks sosio-politik. Perbedaan dua varian ini, dalam konteks sosio-politik, akarnya dapat ditelusuri sejak pergerakan nasional di masa kolonial.
Varian santri mengental pada kekuatan-kekuatan politik Islam (yang berasas Islam dan berkeinginan menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai syariat Islam). Sementara pada era Orde Lama, varian abangan diwakili oleh kekuatan politik komunis dan nasionalis-sekuler.
Dengan kemenangan abangan ini, para analis politik melihat, sejak gelombang Islamisasi negara era Orde Baru yang ditandai dengan lahirnya ICMI, tidak mampu menjinakkan abanganisme yang masih kuat di Jawa Tengah. Dan ini menunjukkan bahwa Islamisme belumlah mendapat tempat. Kekalahan calon gubernur dari PKS, mengisyaratkan kenyataan itu.
Ini berarti Islamisasi beberapa dekade terakhir ini hanya menerjang kawasan kota-kota tertentu, namun belum sepenuhnya hadir di pedesaan Jawa Tengah, yang warganya mungkin saja gelisah. Sejarah politik Jawa Tengah, nampaknya belum berubah. Tetap suka dipimpin abangan dan (mantan) militer. [I4]