INILAH.COM, Dubai Pembunuhan petinggi faksi Hamas yang menguasi Jalur Gaza, Mahmoud Al Mabhouh, bulan lalu akhirnya terungkap. Benarkah pembunuhan ini merupakan bagian dari sebuah plot yang lebih besar, khususnya oleh Barat?
Penyelidikan Kepolisian Dubai, Uni Emirat rab (UEA) telah berujung pada 11 orang tersangka, termasuk di antaranya seorang perempuan. Mereka semua terlibat dalam tragedi pada 20 Januari yang memanaskan Palestina itu.
Enam di antaranya memegang paspor Inggris. Tiga orang, termasuk si perempuan, menggunakan paspor Irlandia. Dua lainnya menggunakan paspor Jerman dan Prancis.
Kami telah memastikan status mereka sebagai tersangka. Sangat disayangkan mereka menggunakan paspor negara-negara sahabat, papar Kepala Kepolisian Dubai, Lethen Dhafi Khalfan.
Kebetulan semua paspor tersebut memang berasal dari negara Barat atau dengan kata lain, sekutu Amerika. Fakta inilah yang membuat pihak Hamas secara tidak resmi menuding keterlibatan Barat, terutama Israel dalam pembunuhan itu.
Pasalnya, faksi Palestina yang kini dianggap kelompok teroris itu kini bersitegang dengan Israel. Hamas merupakan alasan Negeri Zionis itu menyerbu dan memporakporandakan Jalur Gaza selama 23 hari pada Desember 2008.
Hamas sendiri cenderung menuding 11 orang tersebut merupakan agen Mossad atau Biro Intelijen Israel. Namun Khalfan mengatakan tudingan itu terlalu awal, apalagi seluruh tersangka masih buron.
Data pribadi mereka kini telah disampaikan kepada polisi internasional Interpol dan akan dilepas ke kepolisian seluruh negara. Kita akan tahu siapa mereka secara terperinci, begitu tertangkap, katanya.
Status Mabhouh sebagai anggota senior angkatan bersenjata Hamas, sempat membuat begitu banyak pihak masuk dalam daftar tersangka pihak berwajib. Apalagi, ada indikasi mendiang bertanggung jawab atas penyelendupan senjata dari Iran ke wilayah Jalur Gaza yang terisoliasi.
Dua negara yang berbatasan dengan Jalur Gaza, Israel dan Mesir, menutup perbatasan mereka karena status Hamas yang masih kelompok teroris. Muncul juga tudingan bahwa Israel merencanakan perang tersembunyi dengan menghabisi satu persatu petinggi Hamas.
Tak hanya itu, Mossad juga dikabarkan mengincar sejumlah pejabat Iran yang terang-terangan mendukung Palestina dan Hamas. Kekhawatiran ini bertambah dengan indikasi Iran sedang mengembangkan nuklir untuk kepentingan militer, yang selama ini mendapat kecaman Barat.
Menurut mantan PM Israel yang memerintahkan agresi ke Jalur Gaza, Ehud Olmert, hanya ada dua pilihan dalam hal ini. Yakni menerima program nuklir Iran atau melakukan serangan militer penuh.
Namun juga ada hal-hal yang menurutnya sedang terjadi, merupakan sebuah komunikasi bagi Iran untuk menyampaikan sebuah pesan. Bahwa mereka memang tak diizinkan mencapai apapun yang ingin mereka capai, kata Olmert.
Sementara tudingan yang terus mengalir ke Mossad, menurut salah seorang agennya, bukanlah hal yang tidak masuk akal. Sebab, kata agen yang menolak memberikan identitasnya ini, mereka kerap bepergian dengan paspor asing ke luar negeri untuk menjalankan misi rahasia.
Terkadang menggunakan paspor asli dari orang yang memiliki kewarganegaraan ganda. Lain waktu, mereka harus mengusahakan paspor itu sendiri. Paspor Israel memicu tanda bahaya dan (penggunaannya) sebaiknya dihindari, katanya.
Si agen mengaku tak tahu apakah benar para pembunuh yang terlibat dalam kasus Dubai itu benar kawan-kawannya dan menggunakan paspor asing. Ia juga mengatakan pihaknya memang banyak bertanggung jawab atas sejumlah pembunuhan di Timur Tengah dan Eropa selama 40 tahun terakhir, yang kebanyakan mereka lakukan sebagai warga negara asing.
Dalam sebuah kasus di Selandia Baru pada 2004, pemerintah negeri Kiwi itu menuding Israel memperoleh paspor berbendera negara mereka dari Kedubes Israel di Australia. Dalam persidangan di Auckland, juga terungkap Mossad menggunakan paspor Kanada untuk masuk ke wilayah Selandia Baru.
Sementara Mabhouh yang ditemukan tewas di hotel mewah Al Bustan Rotana, sore hari 20 Januari, juga bukanlah orang biasa. Pria yang banyak menghabiskan waktunya di Damaskus, Suriah, ini juga memasuki Dubai dengan paspor palsu sebelum tewas. Ia adalah pendiri Brigade Izzedine Al Qassam, sayap militer Hamas. Polisi mengatakan ia berada di Dubai untuk mengatur pengiriman senjata ilegal ke Gaza.
Dalam sebuah video yang dilansir dua pekan setelah ia tewas, Mabhouh mengaku terlibat dalam penculikan dan pembunuhan dua serdadu Israel ketika intifada Palestina pertama, 1989 silam.
Ia juga diduga mendalangi penyelundupan senjata ke Gaza melalui Sudan tahun lalu. Konvoi penyelundupan itu diserang dan diledakkan Israel ketika mereka masih berada di wilayah Afrika. Detil pembunuhannya masih belum dirilis pihak Kepolisian Dubai. [mdr]