INILAH.COM, Jakarta - Sebagian hasil penjualan saham PT Matahari Department Store kabarnya, akan dipakai untuk membayar obligasi yang belum jatuh tempo. Lantas sisanya yang masih banyak untuk apa?
Berita tentang rencana pelunasan obligasi itu berhembus ketika manajemen PT Matahari Putra Prima (MPPA) diketahui menghubungi wali amanat surat utang yang mereka terbitkan. Sebuah sumber menyebutkan sedang menjajaki kemungkinan membayar obligasi global dan sukuk ijarah yang menjadi tanggungannya.
Seperti diketahui, 14 April mendatang, sukuk ijarah yang diterbitkan MPPA senilai Rp226 miliar akan genap berusia setahun. Kelihatannya utang itu akan dibayar pada saat berusia setahun, kata satu sumber. Alasannya, imbal hasil yang harus dibayar untuk obligasi syariah ini cukup mahal, yakni antara 16-17%.
Begitu pula kupon bunga atas obligasi global senilai US$200 juta, yang menjadi tanggungannya, cukup tinggi. Untuk yang satu ini MPPA harus membayar kupon 10,75%. Ini tergolong utang mahal. Jadi wajar kalau pemilik Matahari berniat untuk melunasinya, kata sang sumber.
Apalagi, bagi perusahaan milik Grup Lippo ini, dana bukan masalah. Seperti diketahui, perseroan baru saja menjual 90,76% saham miliknya di PT Matahari Department Store.
Dari hasil penjualan sebesar Rp7,16 triliun tersebut, MPPA mengantungi uang tunai Rp 5,28 triliun. Sedangkan sisanya dibayar dengan 20% saham dan 8,88 juta waran Meadow Asia Company Ltd.
Perusahaan yang disebut terakhir adalah yang mengakuisisi saham Matahari Department. Jadi, kalaupun seluruh obligasi yang menjadi tanggungannya dibayar tunai, MPPA masih mengantungi banyak uang. [mdr]