INILAH.COM, Jakarta Aksi korporasi beberapa emiten di industri telekomunikasi membuat sektor ini kian menjanjikan. Hal ini terkait kinerja yang diekspektasikan positif. Saham-saham apa yang menarik?
Danareksa sekuritas menaikkan target harga untuk saham PT Indosat (ISAT), dengan pertimbangan outlook perseroan jangka menengah akan cerah. Terutama karena fokus perseroan pada layanan data internet.
Kami menguubah rekomendasi untuk Indosat menjadi beli dengan target harga Rp5.670, katanya, Kamis (18/2) usai interview dengan CEO dan CFO Indosat.
Saat ini Indosat merupakan perusahaan terbesar kedua setelah Telkom, dengan total pelanggan 33 juta dan pangsa pasar 25%. Sementara itu posisi XL di bawah Indosat dengan total pelanggan mencapai 31,4 juta pada 2009 (lebih rendah 2 juta dari Indosat).
Adapun fokus pada segmen pasar yang lebih kecil dinilainya merupakan bagian dari strategi perseroan ke depan. ISAT yakin masih ada kesempatan menguasai pasar melalui strategi marketing dan penetapan harga pada tiap segmen yang berbeda.
Selain itu, perseroan juga akan lebih fokus pada pengembangan infrastruktur jaringan internet dan mempercayakan pembangunan aplikasi kepada pihak ketiga. Fokus akan diarahkan kepada data broadband dan data cellphone. Manajemen yakin akan dapat melakukan penghematan biaya, dengan demikian akan ada potensi pertumbuhan EBITDA marjin 1-2%, paparnya.
Samuel Sekuritas pun menyarankan investor menyimpan dulu saham ISAT, hingga target harga tercapai. Hal ini terkait aksi perseroan yang menunjuk lima underwriter untuk menerbitkan obligasi.
Saat ini ISAT diperdagangkan pada price earning (P/E) 2010 sebesar 16,3 kali, premium dibanding TLKM 13,6 kali. Kami rekomendasikan hold untuk ISAT, ungkapnya, Kamis (18/2).
ISAT dikabarkan menunjuk lima underwriter yaitu Citi, DBS Vickers, Deutsche Bank, HSBC dan RBS, untuk menerbitkan obligasi senilai US$00-750 juta tahun ini. Dana hasil obligasi akan digunakan untuk refinancing dan membiayai capex tahun ini.
Kabar ini rencananya baru akan dirilis secara resmi pada awal Maret 2010. Adapun utang ISAT yang jatuh tempo tahun ini cukup besar, mencapai Rp4,3 triliun, sebesar Rp2,7 triliun di antaranya berdenominasi dolar AS.
Secara teknikal, Trimegah Securities juga masih melihat adanya potensi penguatan pada ISAT. Menurutnya, patahnya trend naik, membawa ISAT dalam trading range di Rp4.950-5.350.
Hal ini didukung volume yang naik tiga hari terakhir, setelah sebelumnya turun signifikan. Meski indicator Stochastic berada pada area overbought, namun ISAT masih berpotensi menguat. Rekomendasi kami adalah trading buy dengan level resistance di Rp5.350-5.400, paparnya.
Di sisi lain, saham PT Bakrie Telecom (BTEL) menjadi pilihan Kresna Graha Sekurindo. Selain dinilai bisa berhemat dan kreatif dalam berbisnis, kinerja BTEL tahun lalu diprediksi masih stabil. Apalagi BTEL dianggap memiliki pasar yang kuat di Pulau Jawa. Investor bisa lakukan aksi beli pada BTEL, ujarnya.
BTEL hari ini mengikuti equity non deal roadshow (NDR) bersama Bank of America Merrill Lynch di Inggris. Roadshow dilakukan pada 18-19 Februari 2010. Roadshow ini dalam rangka memberikan informasi seputar kinerja dan prospek perseroan. Langkah itu berpotensi mempengaruhi pembentukan harga atau keputusan investasi pemodal.
BTEL tahun ini juga akan menginvestasikan dana US$200juta, sebanyak 75% digunakan untuk membiayai pelayanan jaringan dan sisanya sarana pendukung. BTEL memiliki target pelanggan pada akhir 2010 mencapai 14 juta. Selain itu BTEL juga akan menerbitkan obligasi global US$200juta untuk memenuhi kebutuhan perseroan dan refinancing utang.
Sementara ekspektasi peningkatan kinerja PT Telkom (TLKM) membuat emiten pelat merah ini mendapat rekomendasi beli. Analis BNI Securities Akhmad Nurcahyadi mengatakan, ekspansi usaha mendukung kinerja emiten di masa depan. Harga TLKM berpeluang menembus level targetnya di Rp9.700 per lembar saham. Akumulasi beli saham ini, katanya baru-baru ini.
Seperti diketahui, TLKM berencana mengakuisisi sedikitnya tiga perusahaan pada 2010. Akuisisi ini diharapkan dapat mendukung konsep model bisnis perusahaan yang baru, yaitu TIME (telekomunikasi, informasi, media, dan edutaintment).
Dari belanja modal US$2 miliar atau setara Rp18,5 triliun, perseroan telah mengalokasikan Rp1 triliun untuk mewujudkan aksi korporasi tersebut. Saya optimistis, TLKM dapat tetap menjadi pemimpin pasar domestik, didukung lini usaha yang kuat, serta kontinuitas perkembangan infrastruktur, paparnya.
Selain itu, kekuatan kas internal, tingkat gearing ratio yang terjaga, serta komposisi utang berdenominasi dolar AS yang turun signifikan menjadi katalis lain yang mampu membantu perusahaan tetap tumbuh beberapa tahun mendatang. Saya targetkan kinerja TLKM tahun ini akan meningkat, dimana pendapatan menjadi Rp64,28 triliun dan laba bersih Rp11,38 triliun, pungkasnya. [mdr]