INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Jumat (19/2) diprediksikan melanjutkan pelemahan. Hal ini seiring negatifnya sentimen dari Yunani dan China terhadap market. Buy on weakness!Nico Simatupang, analis investasi PT GMT Asset Management mengatakan potensi pergerakan markat yang tidak stabil akibat masih negatifnya sentimen dari eksternal seperti Yunani dan China. Karena itu,
BUMI akan mengarah ke level
support Rp2.200 dan Rp2.400 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada Ahmad Munjin dari
INILAH.COM, di Jakarta.
Pada perdagangan Kamis (18/2) saham BUMI ditutup melemah Rp100 (4,12%) menjadi Rp2.325 dengan intraday Rp2.425 dan Rp2.300. Volume transaksi mencapai 152,6 juta unit saham senilai Rp359,9 miliar dan frekuensi 4.755 kali. Berikut wawancara lengkapnya.
Bagaimana Anda memprediksi pergerakan saham BUMI akhir pekan ini?Saya kira BUMI masih berpotensi melemah. Sebab, faktor market saat ini tidak mendukung. Market tidak stabil. Indeks regional pun melemah sehingga indeks domestik pun tertekan. Indeks masih mendapat tekanan dari Eropa yang tidak tuntas dan kongkrit memberikan bantuan terhadap krisis defisit fiskal dan gagal bayar obligasi di Yunani.
Yunani, malah justru diberikan kesempatan satu bulan untuk meneyelesaikan persoalan defisitnya sendiri. Jika Yunani benar-benar berhasil menyelesaikan persoalan
budget defisit-nya, yang mencapai 12%, baru Eropa akan turun tangan. Bantuan Eropa nantinya, bisa fokus pada masalah gagal bayar (
default) obligasinya.
Ada sentimen lain yang mempengaruhi pasar?Ya. Indeks juga mendapat tekanan dari China yang mempertahankan kebijakan likuiditas ketat (
tight money policy). Padahal, di Eropa sendiri masalahnya belum selesai karena Yunani hanya diberi kesempatan 30 hari menyelesaikan masalahnya. Eropa mau bantu jika Yunani sudah membereskan anggarannya terlebih dahulu. Kalau persoalan defisit sudah selesai, pembayaran utangnya bisa dibantu Eropa. Bentuknya bisa di-
bailout atau diberikan garansi.
Bagaimana dengan harga minyak?Justru itu, sentimen Eropa dan China, juga memicu koreksi harga minyak mentah dunia. Kemarin minyak melemah ke level US$76 per barel

dari level US$77. Sekarang US$78. Hal ini menambah sentimen negatif bagi BUMI. Eropa dan China saling mempengaruhi negatif.
Namun, China dan AS lebih dominan berpengaruh negatif pada minyak. Pengetatan likuiditas di China dengan menaikkan Giro Wajib Minimum (GWM) menjadi 16,5% memicu perlambatan pertumbuhan akibat dikuranginya kucuran kredit. Karena itu, permintaan terhadap komoditas juga menjadi turun sehingga harga komoditas melemah.
Bagaimana dengan posisi asing saat ini?Asing sendiri saat ini masih melakukan
net sell. Hal ini tampak dari koreksi indeks kemarin. Asing tampaknya masih ingin keluar, tapi tidak ada yang mau beli karena tipisnya transaksi. Karena itu, tekanan jual masih besar di bursa termasuk BUMI.
Lalu, seperti apa sentimen dari internal BUMI?Dari sisi ini, belum ada hal-hal baru yang berpengaruh pada BUMI. Sebab, rumor pencarian dana sebesar US$500 juta melalu
Equity Linked Note (ELN) itu ternyata dibantah perseroan. Itu
kan semacam obligasi konversi tapi dengan tenor yang lebih pendek. Tidak mencapai lima tahun seperti obligasi konversi. Dana itu juga rencananya bisa diperoleh dari
rights issue tanpa Hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD). Semuanya sudah dibantah oleh perseroan.
Akan bergerak di kisaran berapa?BUMI akan mengarah ke level
support Rp2.200 dan Rp2.400 sebagai level
resistance-nya. Saya rekomendasikan
buy on weakness untuk BUMI. [jin/ast]