SAYA berada di Manila, berjalan menyusuri kumuhnya Tondo, salah satu daerah termiskin di ibukota Filipina. Moriones Street di Tondo berada dekat 'Smokey Mountain'. Lahan pembuangan sampah ini sempat menjadi pusat perhatian, yang membuat pers Barat berdatangan bagai semut mengejar gula.
Benigno Aquino III, kandidat presiden dari Partai Liberal, sedang bersiap melancarkan kampanyenya di Tondo. Ada sebuah panggung kecil di tengah jalan, seperangkat peralatan lampu, lengkap dengan generatornya. Setelah mengikuti jalannya kampanye besar-besaran Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saya agak kaget melihat persiapan kampanye di Tondo yang seadanya.
Sementara itu, para penjaja dan pedagang dengan warung-warung kecilnya berdatangan memanfaatkan keramaian yang akan terjadi. Mereka menjual gorengan, mie dan minuman dingin. Di salah satu sisi, ada tenda yang menyuguhkan makanan gratis.
Terlihat kerumunan orang yang asyik menonton persiapan dengan niat aji mumpung. Makanan gratis tampaknya terlalu berharga untuk dilewatkan.
Sambil menunggu acara mulai, saya mampir ke gereja setempat, Santo Nino. Sebuah misa sedang berlangsung. Di ujung dalam, saya bisa melihat seorang pastor dengan jubah panjangnya. Khotbahnya berganti-ganti dari bahasa Tagalog ke Inggris. Ternyata bangunan gereja itu sangat besar dan dindingnya terbuat dari marmer. Jemaah misa dinaungi langit-langit yang menjulang hingga 30 meter.
Kemegahan ini terasa ganjil, sesuatu yang tidak terduga di tengah area yang miskin dan keras ini. Sebagian besar warung instan yang berdiri dipenuhi orang, dan terlihat banyak sekali anak muda. Sekelompok remaja laki-laki bercanda satu sama lain di depan saya. Saya perhatikan begitu banyak anak kecil di mana-mana bocah-bocah berkaki telanjang.
Setelah menjelajahi Indonesia untuk mengamati pemilu tahun lalu, saya mencatat ada perbedaan yang cukup mencolok antara kedua negara ini. Jumlah anak-anak di Filipina jauh lebih banyak.
Saya berada di Manila untuk melihat bagaimana penerimaan rakyat setempat terhadap Aquino, atau yang lebih akrab dikenal dengan Noynoy. Sikapnya telah berhasil memenangkan hati masyarakat kelas menengah.
Seperti ibunya, mendiang Presiden Corazon Aquino, Noynoy dikenal jujur dan penuh integritas, dua hal yang sangat berarti bagi kawasan Makati dan Quezon City. Kata-kata I will not steal (saya tidak akan mencuri), terdengar berulang-ulang.
Tapi apakah pengaruh sang ibu cukup kuat menjangkau jauh ke dalam lapisan masyarakat? Berkampanye di Tondo hampir bisa dibilang sebuah kehormatan. Manny Villar, seorang pengembang properti yang kuat secara finansial, dan kandidat presiden yang membuntuti Aquino dalam polling, sudah merambah Tando, di mana sejumlah masalah yang mengemuka lebih konkret dan tidak terlalu mengawang-awang. Bagaimana kami bisa dapat pekerjaan? Bagaimana dengan harga beras dan gula?
Aquino dan Villar tampak menonjol di antara ramainya deretan kandidat presiden yang lain (total jumlahnya 10 orang). Mantan Presiden Joseph Estrada termasuk di dalamnya, tapi dia sekarang tak ubahnya bahan olokan, dengan wajah yang habis dipermak Botox dan tutur bahasanya yang kasar. Presiden yang sekarang, Gloria Macapagal Arroyo, serta partainya, Lakas, juga mengedepankan kandidatnya: Gilbert Teodoro, seorang profesional cerdas lulusan Harvard. Tapi, kepribadiannya yang menarik simpati tidak cukup mengimbangi efek dari dukungan Arroyo. Keterlibatan Arroyo seperti sudah menjadi stempel mati dalam pemilu.
Tetap saja, Aquino semakin kehilangan momentumnya, dan kampanyenya di Tondo yang kurang terorganisir dengan pidato-pidato yang terlalu panjang dan disiplin yang kurang semakin mengisyaratkan potensi chaos yang dapat terjadi bila dia naik jadi pemimpin.
Sementara itu, Villar semakin fokus. Wajahnya yang lebar, dengan senyum penuh percaya diri, muncul di mana-mana. Dia sudah mengincar Istana Malacanang selama tiga tahun lebih. Dia datang dari latar belakang sederhana, dengan riwayat personal dinamis. Kiprah bisnisnya diwarnai kontroversi dan masyarakat kelas menengah sudah sangat kecewa padanya, walaupun dia cukup cerdik menampilkan sisi-sisi lebih positif dari riwayatnya ini. Contohnya, media yang suka menampilkan berita bombastis memberitakan ibunya yang mempunyai toko sari-sari semacam warung versi Filipina.
Sementara itu, Aquino lebih mudah terlupakan. Dengan figur yang kurus dan kepala membotak, dia tidak punya aura yang menarik perhatian. Sosoknya yang tidak berkharisma benar-benar mengkhawatirkan.
Penghitungan suara akan dilakukan pada Mei. Kendati Aquino tetap menjadi sentimental favorite, kepribadiannya yang kurang mencolok dan otoritasnya yang lemah bahkan terhadap partainya sendiri tampaknya akan menjadi bumerang. Sementara itu, Villar, dengan dukungan tim solid, terus mengancam untuk menyalip posisi Aquino.
Aquino hanya punya tiga bulan untuk mengukuhkan keberadaannya dan membuktikan kapabilitasnya. Waktu semakin sempit. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !