Minggu, 27 Mei 2012 | 15:53 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Veronica Tjong
Pancious, Hanya Berbekal Hobi Makan
Headline
Veronica Tjong - Dok/Pribadi
Oleh: Vina Ramitha
web - Minggu, 21 Februari 2010 | 14:42 WIB
INILAH.COM, Jakarta Pancake yang identik dengan menu tambahan, kini telah menjadi main course yang hip dan modern di restoran Pancious. Tak disangka, mengingat semua ini hanya berawal dari hobi makan.

Sebut saja Veronica Tjong, Fransisca Tjong, Fredy Tjong, dan Sisca Tan yang tidak bisa menghilangkan hobi makan pancake yang kerap dilakukan ketika studi di luar negeri. Sekembalinya ke Jakarta, mereka pun mengamb il keputusan untuk membuka outlet menu Pancake bernama Pancious.

Minim pengalaman di dunia F&B serta menu pancake yang sebenarnya agak asing bagi lidah orang Indonesia, tak membuat mereka gentar. Sukses pun perlahan diperolehn ya.
Enam bulan pertama, animonya sangat baik. Sehingga kita bisa tahu, konsep Pancious bisa diterima masyakarat sini, kata Veronica ketika dihibungi INILAH.COM.

Pada hari jadinya yang ketiga, Veronica mengaku antusiasme publik semakin meningkat terhadap menu pancake. Sehingga restorannya terus mengalami peningkatan customer satisfaction dan ia pun secara bertahap otomatis, menambah outlet baru.

Jelang ulang tahun ke-3, seperti apa Pancious saat ini?
Antusiasme publik semakin meningkat terhadap menu pancake. Hal ini membuat kami mengalami peningkatan customer satisfaction dan tentu saja penambahan outlet baru. Sebelumnya, kami hanya berada di Jakarta Selatan saja tapi kini kami sudah membuka dua outlet baru di Mal Taman Anggrek dan Mal Kelapa Gading. Masih di Jakarta saja sementara ini.

Persaingan makin banyak, dengan makin merambahnya mall. Bisnis food and beverages (F&B) pasti makin ketat. Saya percaya, kalau kita mempertahankan kualitas dan didukung dengan branding yang sudah cukup seperti saat ini, posisi kita akan membaik. Apalagi kompetitor kita itu semua restoran yang ada di dalam mall. Western atau bukan, semua kita anggap pesaing.

Lalu bagaimana animo masyarakat, mengingat pancake bukan masakan Asia?
Animo masyarakat sangat baik, terlihat sejak outlet pertama kita di Permata Hijau (Jakarta). Enam bulan pertama sangat baik. Sehingga kita bisa tahu, konsep Pancious bisa diterima masyakarat sini. Kemudian kami mulai berekspansi, membuka dua outlet baru lagi. Memang pancake bukan masakan Asia, ide awalnya saja dari hobi karena kebetulan kami bersekolah di luar negeri, di mana pancake itu merupakan makanan yang biasa.
Jumlah pengunjung kami saat ini memang masih bergantung pada lokasi. Paling ramai di Mal Kelapa Gading, karena yang paling baru. Per bulannya, ada sekitar 80 ribu pengunjung dari total semua outlet kami. Kapasitas pengunjung per outlet sekitar 150-200 orang.

Mengapa pancake, dari sekian banyak menu ala Barat?
Ketika kembali ke Jakarta, belum ada restoran yang khusus mendedikasikan pada pancake. Muncul ide, yang kemudian kita olah dan jadikan konsep. Saya rasa orang Jakarta sudah mengenal pancake. Hanya saja, belum ada yang memperkenalkan dengan baik. Sehingga kami melakukan sejumlah adaptasi untuk menyesuakna dengan cita rasa Indonesia. Tapi harus tetap dipertahankan keasliannya, mungkin kami mengurangi sedikit rasa manisnya. Beberapa bahannya kami masih impor juga, seperti mentega, butter, atau krim.

Strategi pemasaran yang selama ini Anda lakukan?
Untuk pemasaran kita fokus ke konsumen, misal mengatakan promo setiap bulannya. Kami tidak menekankan ke potongan harga (diskon), melainkan ke promosi produk kami. Target pemasaran tidak terbatas, namun kelas menengah ke atas. Sebab jenis makanan yang kami jual memang yang bisa diterima oleh masyarakat kelas itu. Mereka-mereka yang terbuka dengan hal-hal baru.
Daftar menu kami tak hanya terdiri dari pancake saja. Ada pasta yang menjadi favorit, juga burger dan steak serta banyak minuman spesial buatan kami. Masakan Indonesia belum kita masukkan, so far masih makanan Barat. Menu baru selalu ada, di samping 100-an yang saat ini ada. Kisaran harga, untuk pancake Rp19-48 ribu. Steak yang paling mahal, bisa sampai Rp120 ribuan.

Bisnisnya saat ini?
Krisis tidak terlalu berpengaruh kepada kami. Memang ada sedikit penurunan, namun masih dalam range yang wajar. Bisnis ritel seperti ini kan tidak selalu buka, ada hari liburnya. Kami tak bisa membahas seberapa banyak pemasukan, tapi setiap tahun membuka cabang baru jadi sulit menghitung secara tepat berapa besar pertumbuhan perusahaan. Yang jelas, kami sudah break even point (BEP), kecuali outlet di Mal Kelapa Gading karena yang paling baru.
Target pertumbuhan ada, tapi itu internal. Terpenting, operasional dan biaya terus terjaga, nantinya profit akan sesuai harapan kami.

Rencana lebih jauh ke depannya?
Ekspansi pasti ada, rencana buka cabang lagi pada semester kedua 2010 ini. Mungkin bulan Juni atau Juli saja dan masih di Jakarta. Sejauh ini kami belum berniat membuka franchise, masih di bawah satu manajemen saja. [ast]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
1 Komentar
Shienny Tan
Selasa, 5 Oktober 2010 | 22:49 WIB
Sewaktu di Jakarta, saya mencoba pancake di Pancious.. Dari segi harga, rasan ??? ukuran pancake sangat memuaskan.. Oleh karena itu saya tertarik untuk bekerjasama dg anda, apabila anda ingin mengembangkan bisnis anda sampai di Surabaya.. Saya tunggu kabar baiknya..Terimakasih.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.