INILAH.COM, Jakarta Tekanan jual akhir pekan lalu yang melanda bursa tampaknya sudah mereda. Saham-saham grup Astra memberi kontribusi cukup besar pada kenaikan bursa, didukung ekspektasi kinerja yang menarik. Salah satunya adalah PT United Tractor (
UNTR). Emiten perkebunan kelapa sawit ini terus melaju, melanjutkan penguatan pekan lalu sebesar 5,2%.
Fundamental perseroan yang baik, didukung melesatnya penjualan Komatsu pada Januari 2010, menjadi indikator atas positifnya kinerja UNTR di masa depan. Kami rekomendasikan beli dengan target harga 20.000 untuk 3 bulan ke depan,ujar analis Darma Pardede dari Wanteg Securindo, Senin (22/2).
UNTR memang mengawali kinerja yang baik untuk tahun ini, dimana penjualan Komatsu Januari lalau mencapai 339 unit, angka penjualan bulanan tertinggi sejak September 2008. Penjualan ini naik 22% dari bulan sebelumnya.
Sedangkan Pama memproduksi 6 juta ton batubara dan overburden 46,3 juta ton, turun tipis ketimbang bulan sebelumnya, karena pengaruh musim hujan di awal tahun. Sementara itu tambang Dasa Eka Jasatama (DEJ) memproduksi 232 ribu ton batubara, tertinggi dalam lima bulan terakhir.
Terkait hal ini, Joseph Pangaribuan analis dari Samuel Sekuritas juga memberi rekomendasi positif untuk UNTR. Adapun koreksi yang terjadi akhir-akhir ini dinilai merupakan momentum bagi investor untuk membeli saham UNTR. Kami masih mempertahankan rekomendasi beli untuk UNTR dengan target harga Rp21.500/saham, katanya.
Menurutnya, target harga ini menggunakan metode discounted
cash flow, sehingga
upside potensial adalah 27% dari harga saat ini. Adapun UNTR saat ini diperdagangkan pada
price earning ratio (P/E) 2010 sebesar 18,1 kali dan EV/EBITDA 9,3 kali.
Walaupun penjualan Komatsu naik signifikan, pihaknya belum melakukan perubahan asumsi dalam prediksi UNTR. Kami melihat penjualan Komatsu Januari ini belum dapat dijadikan representasi rata-rata penjualan bulanan komatsu ke depannya, ujarnya.
Namun, Ia optimistis, kinerja seluruh unit bisnis tahun ini masih baik, didukung ekspansi sektor pertambangan dan kenaikan harga batubara. Selain biaya produksi tambang di Indonesia yang relatif lebih rendah ketimbang negara lain seperti Australia (US$27-28/ton vs Australia US$33-35/ton).
Indikator lain adalah biaya impor dari Indonesia ke negara-negara tujuan ekspor utama di Asia, seperti China dan India yang lebih murah dari pada biaya impor dari Australia. Sementara kenaikan permintaan batubara, terutama untuk pengembangan power plant di beberapa negara seperti China, India, dan Indonesia.
Kami yakin hal ini akan meningkatkan penjualan Komatsu ke sektor pertambangan, termasuk produksi batubara dan overburden Pama, serta volume penjualan tambang DEJ dan tambang Tuah Turangga Agung (TTA) yang direncanakan berproduksi pada kuartal dua 2010, paparnya.
Hal ini ditambah akuisisi dua tambang baru di Kalimantan Tengah yang menunjukkan kemajuan. Status tambang tersebut greenfield dengan total cadangan diperkirakan 20-30 juta ton. Mengingat lokasi tambang yang dekat lokasi tambang Tuah Turangga Agung (TTA), Joseph perkirakan UNTR tidak butuh dana besar untuk pembangunan infrastuktur.
Langkah UNTR untuk terus berekspansi di
coal mining, merupakan hal yang tepat karena masih tingginya permintaan batubara dan adanya kenaikan harga batubara, pungkasnya.
Sedangkan daya tarik saham PT Astra International (
ASII) yang siang ini terpantau naik Rp250 ke 36.400, juga berasal dari kinerjanya. Emiten otomotif ini pada Januari lalu mencatatkan penjualan yang meningkat secara bulanan 5,8% menjadi 31,074 unit. ASII saat ini diperdagangkan pada P/E 2010 sebesr 16.2 kali. Rekomendasi hold untuk ASII, katanya.
Pangsa pasar ASII terhadap penjualan mobil nasional pada Januari 59% atau turun 2% dari bulan sebelumnya. Dari penjualan ASII tersebut 67% merupakan merek Toyota, 26,7% Daihatsu, 5,8% Isuzu dan sisanya Nissan dan Peugeot. Sementara itu total penjualan mobil nasional pada Januari 2010 naik 10% atau menjadi 52,806 unit.
Di sisi lain, Wakil Kepala Riset Valbury Asia Securities Nico Omer Jonkheere merekomendasikan para investor agar mengoleksi saham PT Astra Agro Lestari (
AALI) sebagai pilihan utama. Emiten ini akan menguat seiring kenaikan harga CPO. Meski kondisi alam yang kurang bersahabat kadang membuat produksi CPO tidak stabil, paparnya.
Nico memprediksikan, harga CPO tahun ini akan tumbuh 5% hingga 10% menjadi RM2.800-3.000 per ton. Hal ini bisa memberikan gambaran bahwa kinerja para emiten yang memproduksi CPO masih cukup menjanjikan. Siang ini, AALI diperdagangkan naik Rp200 ke Rp24.200. [mdr]