INILAH.COM, Jakarta Mendung memang masih menaungi saham PT Matahari Putra Prima (MPPA) untuk jangka pendek. Namun, ada potensi penguatan, terutama pasca perseroan menggelar RUPSLB. Hal ini diungkapkan analis Asia Kapitalindo Securities, Arga Paradita. Menurutnya, Matahari (
MPPA) akan tertekan hari ini hingga paling hingga tidak awal Maret mendatang.
Sentimen penjualan saham PT Matahari Departmen Store (
LPPF) masih menjadi katalisnya, katanya kepada
INILAH.COM, Selasa (23/2) petang.
Namun Arga mengingatkan, sebenarnya masih ada potensi upside saham ini. Pasar kini menantikan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang digelar 4 Maret 2010. Agenda utama rapat adalah persetujuan penjualan 90,76% saham LPPF milik MPPA kepada Meadow Asia Company Limited (MAC).
Pertemuan ini sedianya akan mendapat pengawasan ketat dari Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK), karena perdagangan saham LPPF terindikasi kasus insider trading.
Arga menilai Bapepam-LK harus mengawasi aksi korporasi MPPA karena sangat berkaitan dengan pemegang saham minoritas. "Ini berarti Bapepam-LK juga perlu memeriksa perdagangan sahamnya," ujarnya.
Seperti diketahui, MPPA telah meneken perjanjian penjualan 90,76% saham LPPF kepada Meadow Asia Company, senilai Rp7,16 triliun. Meadow adalah perusahaan patungan MPPA dengan CVC Capital Partner Asia, perusahaan pengelola dana internasional. Nantinya, perbandingan sahamnya adalah 20% banding 80% antara MPPA dan CVC.
Menurut Arga, strategi penjualan LPPF merupakan langkah yang sangat tepat dilakukan karena perseroan bisa lebih fokus di Hypermart. Apalagi unit usaha tersebut merupakan unit ritel yang segmennya menengah ke atas. Berbeda dengan LPPF yang menengah ke bawah. Sehingga jika LPPF tak dilepas, malah menjadi beban.
Sebab kontribusi
earning akan tergerus. Hal ini tak lepas dari pesaing kuatnya yakni PT Ramayana Lestari Sentosa (
RALS). Lebih baik dilepas dan berkonsentrasi ke Hypermart, paparnya.
Arga menilai, kelas menengah ke atas tidak terlalu sensitif dengan harga. Konsumen jenis ini lebih mementingkan kualitas, lebih kuat, dan tidak mudah berpindah ke kelas lain terutama yang berada di bawahnya.
Kinerja MPPA di 2009 juga masih memuaskan. Dalam periode tersebut, pendapatan perseroan mencapai Rp13,8 triliun, naik 15,9% dari pendapatan tahun lalu yang mencapai Rp11,9 triliun.
Peningkatan penjualan itu ditopang pertumbuhan dua unit bisnis yaitu LPPF yang tumbuh 16,1% dengan kontribusi Rp6,9 triliun dan PT Matahari Food Business yang melonjak 23% berkontribusi hingga Rp6,5 triliun.
Ini berarti, LPPF menyumbang 50,1% terhadap pendapatan MPPA. Sementara kontribusi MFB mencapai 47%. Sementara sisa pendapatan MPPA sebesar Rp400 miliar, berasal dari pendapatan lain-lain.
Terkait aksi korporasi MPPA, analis E-Trading Securities Isfhan Helmy memprediksikan, penjualan saham LPPF akan melemahkan pendapatan perseroan. Ini wajar mengingat department store itu bisa menyumbang hingga 50% dari total pendapatan MPPA, imbuhnya.
Isfhan memprediksikan, pendapatan MPPA tahun ini hanya akan mencapai Rp7,78 triliun, turun 43,6%. Sedangkan laba bersih MPPA diprediksi mampu mencapai Rp234 miliar, melemah 6% dari estimasi laba 2009 sebesar Rp249 miliar. [ast/mdr]