INILAH.COM, Jakarta Kinerja AALI 2009 lalu, menunjukkan penurunan namun outlook tahun ini masih menarik. Apalagi ditunjang recovery ekonomi global. Bagaimana pergerakannya hari ini? Analis Danareksa Securities Bonny Budi Setiawan masih melihat outlook PT Astra Agro Lestari (AALI) tahun ini akan lebih baik. Ia pun memprediksikan harga AALI akan mencapai Rp28.500. Hal ini berdasarkan
price earning (PE) 2010 sebesar 16,5 kali, mengimplikasikan EV/ha sebesar US$20,787.
Kami merekomendasikan beli untuk saham AALI, katanya, Rabu (24/2). Optimisme tersebut muncul, meskipun kinerja perseroan sepanjang 2009 tidak terlalu baik. Laba bersih AALI tercatat turun 36,88% ke Rp1,66 triliun, sedikit di bawah estimasi para analis.
Sedangkan penjualan terkoreksi 9,02% menjadi Rp7,42 triliun dan beban usaha naik 15,37% menjadi Rp491,56 miliar. Penurunan penjualan disertai kenaikan beban usaha mengakibatkan laba usaha AALI turun 22,71% ke Rp2,61 triliun.
Sementara Core NPAT (Net Profit After Tax) AALI turun 33%, dengan
gross margin turun 4,8%, dan EBITDA marjin turun 5,3%. Namun, perusahaan telah membayarkan utangnya sebesar Rp85 miliar di kuartal ketiga 2009, sehingga AALI tetap net kas.
Bonny menilai, turunnya NPAT disebabkan penurunan harga harga CPO sebesar 31% menjadi Rp6.242/kg. Sedangkan biaya panen yang naik 26% dan biaya maintenance melambung 27% diimbangi penurunan pembelian bahan baku sebesar 17%. Pembelian bahan baku tercatat 44% dari total biaya produksi.
Namun, produksi CPO AALI 2009 naik 10,3% menjadi 1,08 juta ton. Kenaikan tersebut didukung peningkatan produksi tandan buah segar (TBS) 9,1% menjadi 3,93 juta ton. Adapun produksi CPO perseroan tahun ini ditargetkan naik 6-7% menjadi 1,14-1,15 juta ton. AALI pun menyiapkan dana belanja modal (capital expenditure/capex) Rp1,4 triliun.
Tahun ini Bonny memprediksikan, produksi AALI akan stagnan, meskipun ada upaya untuk menaikkan produksi. Penanaman diperkirakan akan sama dengan tahun lalu, sekitar 12-13 ribu hektar. Namun masih ada potential upside dari tingginya harga CPO.
Terkait kinerja perseroan, Samuel Sekuritas mengatakan, penjualan AALI
in line dengan estimasi pasar. Sedangkan laba bersih sedikit berada di bawah estimasi. Hal ini mengingat AALI membukukan kerugian selisih kurs Rp111 miliar. Padahal, pada 2008, perseroan mencatat untung dari selisih kurs mencapai Rp78 miliar.
Sementara itu, Samuel melihat outlook harga CPO masih baik ke depannya, seiring recovery ekonomi global dan kenaikan harga minyak. Namun, faktor itu telah tercerminkan pada harga saham AALI saat ini.
Valuasi AALI premium yakni dengan PE estimasi 2010 sebesar 15 kali dibandingkan sektornya yang hanya 11,5 kali. Kami rekomendasikan
hold untuk AALI, imbuhnya.
Hal senada diungkapkan Purwoko Sartono dari Panin Sekuritas dengan pencapaian AALI pada akhir 2009 yang positif, telah tercermin pada harga saham. Dari sisi operasional, produksi AALI mencapai double digit (10,3%). AALI pada kuartal empat 2009 menjadi yang terbaik dengan penjualan CPO terbesar mencapai 288 ribu ton, tumbuh 5,3% dibandingkan kuartal sebelumnya.
Ia pun memperkirakan pertumbuhan dua digit ini merupakan yang terakhir. Adapun volume penjualan capai 8,8%. Kejutan terutama dari harga jual, dimana setelah mencapai angka terendah di kuartal tiga 2009 sebesar US$674/ton, harga CPO naik ke US$726/ton per kuartal empat, imbuhnya.
Purwoko menyarankan investor untuk menjual saham AALI, mengingat harga wajar emiten perkebunan ini berada di angka Rp25-27 ribu. Hal ini berdasarkan harga jual rata-rata 2010 yang diprediksikan berada di level US$800/ton. Kami rekomendasikan jual AALI, jelasnya.
Pada perdagangan Rabu (24/2) sesi siang, saham (
AALI) terpantau melemah Rp 250 ke level Rp 24.450. Harga AALI secara historis mencapai rekor pada 25 Februari 2008 sebesar Rp34 ribu. Saat itu, PER-nya (2008) 20 kali dan EV/ha US$25 ribu/ha dan harga CPO ketika itu mencapai US$1.250/ton. [mdr]