INILAH.COM, Jakarta Setelah 10 tahun malang melintang di bisnis supermarket, pengelola Ranch Market, PT Supra Boga Lestari akhirnya melebarkan sayap. Sebuah restoran dan outlet siap dibangun di tengah kota Jakarta, dengan investasi termahal.
Investasinya super mahal, satu outlet bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Untuk Grand Indonesia ini memang yang termahal, investasinya dua kali lipat biasanya, ujar CEO dan Presiden Direktur PT Supra Boga Lestari, Nugroho Setiadarma kepada Vina Ramitha dari INILAH.COM.
Ranch Market akan menggelar grand opening outlet terbaru di pusat kota. Tak hanya itu, supermarket penyedia bahan makanan segar asal AS ini pun akan memperkenalkan restoran baru bernama Ninety Nine. Dengan area total seluas 3.200 meter persegi, restoran berkonsep unik ini akan menghabiskan area seluas 1000 meter persegi. Seperti apa? Berikut wawancara lengkapnya.
Bisa gambarkan ekspansi Ranch Market kali ini?
Ya. Bertepatan dengan Hari Bumi 22 April mendatang, kami akan menggelar grand opening outlet terbaru Ranch Market, sekaligus restoran pertama yang terinspirasi dari gaya hidup. Kami menyebutnya, Ninety-Nine (99). Ini akan menjadi tambahan bagus di tengah kota.
Untuk Ninety Nine, kami menggunakan area seluas 3.200 meter persegi di Grand Indonesia East Mall, yang akan dibagi antara outlet Ranch Market dan restoran. Restorannya mungkin seluas 1000 meter persegi. Ada enam seating yang berbeda di tempat ini dan merupakan outlet terbesar di Indonesia sejauh ini. Sasaran tetap warga kelas menengah ke atas, serta ekspatriat yang saat ini merupakan 40% konsumen kami.
Apa yang membuat Ninety Nine beda dengan lainnya?
Ninety Nine akan seperti Ranch Kitchen di setiap outlet kami yang memberikan demo agar ibu-ibu tahu dan bisa memutuskan apakah mereka mau membeli makanan jadi, setengah jadi, atau bahan mentah untuk mengolah sendiri di rumah. Kami menggunakan konsep food service. Hanya saja Ninety Nine nanti jadinya seperti kafe.
Ninety Nine memiliki chef asing untuk mempertahankan standar. Mereka konsisten sehingga rasa tidak akan berubah. Selain itu, chef asing juga akan mengajarkan ilmu mereka kepada chef lokal. Kami berusaha menyesuaikan rasa dengan selera pelanggan. Tetap melayani konsumen, meski tak sefleksibel Ranch Kitchen.
Mengapa memilih Grand Indonesia?
Kami memilih Grand Indonesia, karena tempat ini merupakan mal besar yang menjadi ikon Jakarta. Ini akan menjadi the best location karena belum ada supermarket yang berlokasi di bawah butik-butik ternama seperti Gucci dan Chanel. Bahkan untuk meminta izin buka saja, kami harus menghubungi Chanel di Singapura. Mereka juga tak ingin ada supermarket sembarangan karena akan menurunkan citra produk. Jadi mereka ikut survei dulu ke lokasi.
Pasti dana investasinya sangat besar ya?
Investasinya super mahal, satu outlet bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Untuk Grand Indonesia ini memang yang termahal, investasinya dua kali lipat biasanya. Kami memperbanyak cabang di Jakarta, karena 80% uang berputar di ibukota. Produk domestik bruto (PDB) Jakarta saja sudah sama dengan PDB Australia. Kalau Singapura yang lebih kecil saja bisa menyaingi, mengapa Jakarta tidak.
Bagaimana persaingannya di Indonesia, terutama dengan pasar tradisional?
Kami ini 100% perusahaan lokal, tidak ingin mematikan pedagang lokal. Seharusnya pemerintah ada peraturan soal ini, sehingga pedagang lokal, terutama tradisional tetap mampu bersaing dengan asing. Persaingan memang besar, tapi di Indonesia 70% pasar masih di tradisional. Sisanya 30% itu yang modern. Bagi saya, ini sebuah kesempatan untuk menumbuhkan pasar modern.
Pertumbuhan Ranch tidak terlalu agresif, terutama dengan jumlah outlet saat ini. Apalagi kami bermainnya di industri fresh, dalam arti produk yang kami jual harus selalu segar. Di Indonesia, hal ini sangat sulit. Butuh banyak waktu untuk mencapai seperti sekarang.
Lalu, apa rencana ekspansi lain ke depannya?
Proyek ini bukan yang terakhir. Ini benchmark untuk melebarkan sayap dengan berbagai perbaikan. Tahun ini kami berencana membuka dua outlet baru. Ada kemungkinan juga kami akan membuka outlet pertama yang pernah tutup di Kebon Jeruk, pada kuartal ketiga tahun ini. Selain akan menambah satu lagi di Surabaya.
Dulu kami franchise perusahaan AS, yang pergi ketika kerusuhan Mei 1998. Sejak itu kami mandiri, semua saya pegang sendiri. Banyak yang minta franchise Ranch, namun saya tak memberikannya. Percuma jika hanya menyediakan tempat, tanpa passion untuk mengelolanya. Sebab ini perkara rumit, apalagi berurusan dengan bahan-bahan fresh.
Tahun lalu, memang terjadi pengetatan impor yang menghambat pertumbuhan. Pasalnya ada beberapa bahan yang tak bisa digantikan atau tak diproduksi dalam negeri, sehingga harus impor, misalnya mozarella. Tapi tahun ini kami melaju lebih baik. Saya menargetkan penjualan naik 15% tahun ini.[vin/ast]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !