INILAH.COM, Jakarta Jumat, 26 Februari ini, bertepatan 12 Rabiul Awal 1431 Hijriyah, merupakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Momentum ini harus dimaknai sebagai penyucian dosa-dosa koruptif seperti skandal Bank Century.
Mohamad Asrori Mulky, pengkaji keislaman di Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina mengatakan, secara bahasa maulid atau maulud dalam bahasa Arab bermakna kelahiran. Maulid Nabi, menurut dia, merupakan kelahiran Nabi Muhammad SAW.
Dalam konteks kekinian, lanjut Asrori, Maulid Nabi harus dimaknai sebagai kelahiran kembali, Artinya manusia kembali kepada fitrahnya yang suci sebagaimana saat Nabi Muhammad baru dilahirkan. "Dalam konteks Indonesia, makna maulid adalah sebuah usaha mengembalikan fitrah Indonesia kepada kesucian, katanya kepada INILAH.COM, di Jakarta, Kamis (25/2).
Kesucian ini, tandas Asrori, kini sedang direngut perilaku korup dan dosa-dosa politik para pejabat negara. Karena itu, alumni Fakultas Dirasat Islamiyah Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah ini mengingatkan agar peringatan Maulid Nabi 1431 Hijriah harus menjadi momentum untuk mengembalikan fitrah bangsa Indonesia kepada kesucian itu.
Kesucian fitrah bangsa Indonesia, menurut Asrori, saat ini sudah dan sedang terkotori oleh skandal Bank Century senilai Rp6,7 triliun yang melibatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Wakil Presdien Boediono. Karena itu, saya mengajak agar semua pihak memiliki komitmen kuat dan melaksanakannya untuk mensucikannya kembali, ucapnya.
Lebih jauh Asrori mengatakan, skandal Bank Century dan kasus-kasus sebelumnya seperti Bank Bali, BLBI, dan kasus-kasus sejenis telah mendzalimi masyarakat banyak. Berbagai skandal itu harus menjadi bahan renungan dan pelajaran. Dalam konteks Maulid Nabi ini, merupakan momentum mensucikannya dari bentuk-bentuk kedzaliman itu, tandasnya.
Sementara itu, cendekiawan muda Nahdhatul Ulama (NU), Abdul Moqsith Ghazali mengatakan, kelahiran Nabi Muhammad merupakan pertanda kehidupan baru dan perubahan sosial. Karena itu, pada saat kelahirannya dirayakan, sedangkan saat kematian Nabi Muhammad tidak dirayakan.
Menurutnya, sebagian umat Islam percaya bahwa Nabi Muhammad lahir pada Senin pagi menjelang subuh, 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (`am al-fil). Disebut Tahun Gajah karena bertepatan dengan tahun penyerangan Pasukan Gajah pimpinan Abrahah (Gubernur Abisinia) ke Kabah.
Ia menegaskan begitu tingginya kedudukan Muhammad di hadapan umat Islam. Akibatnya, momen-momen penting dalam kehidupannya selalu dikenang, dirayakan, dan diperingati. Mulai dari kelahirannya, pengangkatannya sebagai nabi, pendakian spiritualnya berupa Isra-Mi`raj hingga migrasinya dari Mekkah ke Madinah, imbuhnya.
Nabi Muhammad SAW adalah pusat keteladanan. Segala ucapan dan tindakannya menjadi rujukan umat Islam, dulu dan sekarang. "Haditsnya menjadi sumber hukum (mashdar al-hukm ) kedua setelah Alquran, pungkasnya. [mor]