MANILA bukanlah kota yang cantik. Seperti Jakarta, kota ini bisa sangat menguras tenaga. Setelah menghabiskan seminggu bertemu dan mendengarkan politisi di sana, saya sudah tidak tahan untuk segera keluar dari ibukota.
Atas rekomendasi beberapa teman, saya pergi ke bagian selatan Filipina, sebuah pulau bernama Bohol, yang terletak di Kepulauan Visaya, jejeran pulau yang berakhir di Cebu dan diapit Luzon di utara, dan Mindanao di selatan.
Ada yang bilang kalau Bohol akan menjadi Bali kedua. Bahkan lebih daripada Boracay, yang dikenal sebagai party island di Filipina. Menurut sumber saya ini, Bohol juga punya pantai yang sama indahnya dengan Boracay. Tapi, lebih dari itu, pulau ini punya budaya, sejarah, dan pemandangan pedesaan yang indah.
Jadi, karena sudah penat dikepung macet di jalan EDSA, semacam Jalan Gatot Subroto dan Jalan Jenderal Sudirman, saya segera berangkat. Tapi, teknologi modern seakan tak pernah mengizinkan kita untuk benar-benar lari sejenak dari dunia nyata. Dengan Blackberry saya yang tak pernah berhenti berkedip, berita-berita dari Kuala Lumpur dan Jakarta tetap membuntuti saya saat melintasi dataran Bohol yang luar biasa cantik.
Berita-berita yang datang dari Malaysia jauh lebih terasa mengganggu pikiran. Kisah tiga perempuan yang dihukum cambuk karena tertangkap berhubungan seks pranikah sudah menyebar ke seluruh dunia, yang disambut kecaman di mana-mana. Memang tidak diragukan lagi kalau Malaysia sudah kelewat batas dengan hukuman cambuk ini. Menurut mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, sejak Malaysia sudah menjadi negara Islam, di mana hal-hal seperti ini dianggap 'normal' walaupun saya tidak setuju dengan pandangan ini.
Seiring perkembangan terbaru, Malaysia telah membuat gerakan yang dramatis dengan menempatkan pemerintah dengan segala kekurangan dan prasangka di dalamnya ke dalam wacana moralitas pribadi.
Jelas hal ini sudah tercium dari kasus Anwar Ibrahim. Vonis untuk menghukum cambuk ketiga perempuan ini (yang tampak sangat menyesal dengan insiden memalukan yang menimpa mereka ini) adalah sebuah titik balik bagi Malaysia. Sekarang pemerintah membebaskan aparat keamanan mengatur moral rakyat dan urusan kamar tidur mereka.
Dan harus diingat bahwa ini bukanlah pemerintahan yang dipimpin oleh Partai Islam se-Malaysia (PAS). Inisiatif justru datang dari para mantan modernis di United Malays National Organization. Betapa waktu sudah berubah.
Jadi saya berkeliling Bohol dengan berita yang terus merongrong, berkedip-kedip di Blackberry saya. Sesuatu yang tak henti mengingatkan saya akan kepicikan dan diskriminasi yang telah membuat hidup di Kuala Lumpur semakin hari semakin sulit.
Walaupun keindahan Bohol tidak bisa sepenuhnya mengalihkan pikiran saya, pulau ini beserta sejarahnya mengingatkan saya akan keragaman hidup di Asia Tenggara. Sebagai salah satu titik kontak pertama antara Spanyol dan penduduk lokal pada 1565, Bohol kemungkinan besar tadinya adalah wilayah Muslim. Tapi orang-orang Spanyol dengan gigih menyebarkan agama Katolik.
Menariknya, para pendatang ini menyadari bahwa mereka hanya bisa berhasil membuat rakyat setempat pindah agama kalau mereka sendiri (dan pastur-pastur mereka) belajar bahasa lokal. Dan itulah yang mereka lakukan: menyebarkan agama Katolik dengan campuran bahasa Tagalog atau Bisayan, tergantung daerahnya. Ini hampir sama dengan akulturasi yang terjadi di Jawa pada abad ke-15 dan 16, ketika Islam disebarkan menggunakan bahasa Jawa, sesuai adat setempat.
Bohol benar-benar sebuah kejutan manis, membuat saya teringat akan banyak tempat yang sudah saya kunjungi di Asia Tenggara beberapa tahun ini. Ada bagian-bagian yang mengingatkan saya pada Trengganu di Malaysia, Sabah di Kalimantan, Ambon, Bangka, dan bahkan Pagan di Burma.
Ketika saya mengendarai mobil melintasi Bohol, berhenti di pantai dan deretan bukit-bukit 'cokelat' di bagian tengah pulau ini (formasi batu gamping yang sudah kusam didera angin dan hujan), tanpa terasa saya jadi lupa akan berita-berita tidak menyenangkan dari Kuala Lumpur.
Saya sangat tertarik akan gereja-gereja di pulau ini. Bangunannya besar, dengan struktur batu gamping yang megah, dinding-dinding tebal yang dibangun oleh para Jesuit, perangkat altar bergaya barok, dan lukisan di langit-langit yang mewah.
Di sisi lain, saya masih belum bisa melupakan betapa sejarah adalah sesuatu yang tidak bisa diduga. Di sini, di negara yang tidak jauh berbeda dari negeri saya sama-sama dipenuhi pohon kelapa, bambu, mangga, dan sering diguyur hujan badai sebuah agama yang lain masuk dan menjadi dominan. Sementara di Malaysia, kita menjadi Muslim.
Sejak masuk ke agama ini pertama kalinya, kita di Malaysia sekarang menjadi Muslim yang begitu 'taat', sampai kadang-kadang melupakan masa lalu kita yang kaya, berbaur, dan jauh lebih toleran. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !