inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Malaysia yang Salah Arah

Headline
Oleh: Karim Raslan
Jumat, 26 Februari 2010 | 15:54 WIB
MANILA bukanlah kota yang cantik. Seperti Jakarta, kota ini bisa sangat menguras tenaga. Setelah menghabiskan seminggu bertemu dan mendengarkan politisi di sana, saya sudah tidak tahan untuk segera keluar dari ibukota.

Atas rekomendasi beberapa teman, saya pergi ke bagian selatan Filipina, sebuah pulau bernama Bohol, yang terletak di Kepulauan Visaya, jejeran pulau yang berakhir di Cebu dan diapit Luzon di utara, dan Mindanao di selatan.
Ada yang bilang kalau Bohol akan menjadi Bali kedua. Bahkan lebih daripada Boracay, yang dikenal sebagai party island di Filipina. Menurut sumber saya ini, Bohol juga punya pantai yang sama indahnya dengan Boracay. Tapi, lebih dari itu, pulau ini punya budaya, sejarah, dan pemandangan pedesaan yang indah.
Jadi, karena sudah penat dikepung macet di jalan EDSA, semacam Jalan Gatot Subroto dan Jalan Jenderal Sudirman, saya segera berangkat. Tapi, teknologi modern seakan tak pernah mengizinkan kita untuk benar-benar lari sejenak dari dunia nyata. Dengan Blackberry saya yang tak pernah berhenti berkedip, berita-berita dari Kuala Lumpur dan Jakarta tetap membuntuti saya saat melintasi dataran Bohol yang luar biasa cantik.
Berita-berita yang datang dari Malaysia jauh lebih terasa mengganggu pikiran. Kisah tiga perempuan yang dihukum cambuk karena tertangkap berhubungan seks pranikah sudah menyebar ke seluruh dunia, yang disambut kecaman di mana-mana. Memang tidak diragukan lagi kalau Malaysia sudah kelewat batas dengan hukuman cambuk ini. Menurut mantan Perdana Menteri Mahathir Mohamad, sejak Malaysia sudah menjadi negara Islam, di mana hal-hal seperti ini dianggap 'normal' walaupun saya tidak setuju dengan pandangan ini.
Seiring perkembangan terbaru, Malaysia telah membuat gerakan yang dramatis dengan menempatkan pemerintah dengan segala kekurangan dan prasangka di dalamnya ke dalam wacana moralitas pribadi.
Jelas hal ini sudah tercium dari kasus Anwar Ibrahim. Vonis untuk menghukum cambuk ketiga perempuan ini (yang tampak sangat menyesal dengan insiden memalukan yang menimpa mereka ini) adalah sebuah titik balik bagi Malaysia. Sekarang pemerintah membebaskan aparat keamanan mengatur moral rakyat dan urusan kamar tidur mereka.
Dan harus diingat bahwa ini bukanlah pemerintahan yang dipimpin oleh Partai Islam se-Malaysia (PAS). Inisiatif justru datang dari para mantan modernis di United Malays National Organization. Betapa waktu sudah berubah.
Jadi saya berkeliling Bohol dengan berita yang terus merongrong, berkedip-kedip di Blackberry saya. Sesuatu yang tak henti mengingatkan saya akan kepicikan dan diskriminasi yang telah membuat hidup di Kuala Lumpur semakin hari semakin sulit.
Walaupun keindahan Bohol tidak bisa sepenuhnya mengalihkan pikiran saya, pulau ini beserta sejarahnya mengingatkan saya akan keragaman hidup di Asia Tenggara. Sebagai salah satu titik kontak pertama antara Spanyol dan penduduk lokal pada 1565, Bohol kemungkinan besar tadinya adalah wilayah Muslim. Tapi orang-orang Spanyol dengan gigih menyebarkan agama Katolik.
Menariknya, para pendatang ini menyadari bahwa mereka hanya bisa berhasil membuat rakyat setempat pindah agama kalau mereka sendiri (dan pastur-pastur mereka) belajar bahasa lokal. Dan itulah yang mereka lakukan: menyebarkan agama Katolik dengan campuran bahasa Tagalog atau Bisayan, tergantung daerahnya. Ini hampir sama dengan akulturasi yang terjadi di Jawa pada abad ke-15 dan 16, ketika Islam disebarkan menggunakan bahasa Jawa, sesuai adat setempat.
Bohol benar-benar sebuah kejutan manis, membuat saya teringat akan banyak tempat yang sudah saya kunjungi di Asia Tenggara beberapa tahun ini. Ada bagian-bagian yang mengingatkan saya pada Trengganu di Malaysia, Sabah di Kalimantan, Ambon, Bangka, dan bahkan Pagan di Burma.
Ketika saya mengendarai mobil melintasi Bohol, berhenti di pantai dan deretan bukit-bukit 'cokelat' di bagian tengah pulau ini (formasi batu gamping yang sudah kusam didera angin dan hujan), tanpa terasa saya jadi lupa akan berita-berita tidak menyenangkan dari Kuala Lumpur.
Saya sangat tertarik akan gereja-gereja di pulau ini. Bangunannya besar, dengan struktur batu gamping yang megah, dinding-dinding tebal yang dibangun oleh para Jesuit, perangkat altar bergaya barok, dan lukisan di langit-langit yang mewah.
Di sisi lain, saya masih belum bisa melupakan betapa sejarah adalah sesuatu yang tidak bisa diduga. Di sini, di negara yang tidak jauh berbeda dari negeri saya sama-sama dipenuhi pohon kelapa, bambu, mangga, dan sering diguyur hujan badai sebuah agama yang lain masuk dan menjadi dominan. Sementara di Malaysia, kita menjadi Muslim.
Sejak masuk ke agama ini pertama kalinya, kita di Malaysia sekarang menjadi Muslim yang begitu 'taat', sampai kadang-kadang melupakan masa lalu kita yang kaya, berbaur, dan jauh lebih toleran. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
14 Komentar
Erta @ Senin, 15 Maret 2010 | 08:01 WIB
Mksud si penulis d sini bhwa yg melakukan hukum cambuk d msia itu bukanlah yg pantas krn kita tau bgmna seenakx mereka mnghukum anwar demi kpntingan dalaman, cuma penulisnya d sini agak ngawur, ya gitulah mngkin penulisx orng msia yg takut dicambuk he3x
aan @ Rabu, 3 Maret 2010 | 13:47 WIB
Malaysia apa penulisnya yang salah arah ? dengan hukuman itu semua orang akan berfikir dua kali untuk melakukan hal yang sama. Bagaimana kalo anak perempuan anda yang berzina yah ? mungkin anda akan bilang itu adalah hak pribadi.
henry @ Senin, 1 Maret 2010 | 16:19 WIB
Kok bisa tulisan yang sangat gak bermutu ini dimuat di Tempo, apakah tempo sudah kehabisan penulis yang baik...? tulisan ini seperti orang buta mengatakan orang lain salah arah...
MAS X @ Senin, 1 Maret 2010 | 15:43 WIB
HUHAHAHHAHAAAA,,,,LUCU KIEEE NGOMONG APA KECEAN LIX,,,,RA GENAH MEN GOLEH NGMNG,,,BLJR NGOMONG NING LAPANGAN OJO NENG KENE MENGISINKAN,,,BETUL2 RA PAHAM W,,,,,,WKKWKWKKWKWKKWKW
ambar @ Senin, 1 Maret 2010 | 10:43 WIB
Tulisannya gak jelas dan gak tahu persoalan sebenarnya. Moral dan agama dilihatnya bersifat pribad, jadi pandangannya liberal. Seks diluar nikah juga baginya sah. Tapi kalau anak perempuannya diperawani entah bagaimana perasaannya...situs Inilah.com juga krang mendidik banyak berita infortainmen yang dimuat dan mengundang selera seks seakan visi koran ini adalah pemuasan seksual....
juwita @ Senin, 1 Maret 2010 | 07:59 WIB
Orang buta ngomong gajah, ya tergantung pada apa yang dipegangnya.....
KodeK @ Senin, 1 Maret 2010 | 07:48 WIB
Malaysia sudah sangat toleran dengan hukum cambuk yang ada sekarang ini di banding hukum yang ada dalam alqur'an. Apakah anda akan mengatakan setiap orang bebas untuk berzina,karena itu urusan tempat tidur masing-masing..? Ingat,budaya kita saja tidak membenarkan perkara ini,konon lagi agama.Siapa anda..?
Hidayat Nur @ Senin, 1 Maret 2010 | 07:02 WIB
Anda mau bilang apa pak? tujuan tulisan anda kemana? ga jelas..
agil @ Minggu, 28 Februari 2010 | 22:38 WIB
Kalo dibilang penyebar katolik spanyol yang gigih apa iya??? menurut kawan2 saya yang orang filipin yang juga beragama katolik, agama katolik disana di sebarkan dengen kekerasan, muslim ditindas, sampai akhirnya sekarang hanya tersisa di mindanao selatan
ardi artanugraha @ Minggu, 28 Februari 2010 | 11:13 WIB
kok bisa ya tulisan seperti ini di muat inilah.com? jadi kayak media murahan yang gak punya integritas and asal posting berita aja
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.