INILAH.COM Jakarta - Para petambak plasma yang tergabung dalam PT Aruna Wijaya Sakti mendukung program revitalisasi tambak secara total oleh PT Central Proteinaprima Tbk (CP Prima).
Selain itu, dalam siaran persnya di Jakarta, Jumat (26/2), mereka menyatakan masih membutuhkan keberadaan perusahaan yang kini mengelola penambakan udang eks Dipasena itu.
Perwakilan petambak udang PT Aruna Wijaya Sakti (AWS) Ferly Gandhu mengatakan pihaknya masih semangat mengerjakan tambak mereka dan perusahaan inti menyiapkan sarana dan prasana yang menjadi kebutuhan material dalam mendukung pelaksaaan revitalisasi tambak.
AWS merupakan merupakan salah satu dari tiga kawasan pertambakan yang dikelola CP Prima. Dua kawasan penambakan lain dikelola oleh PT Central Pertiwi Bahari (CPB) dan PT Wahyuni Mandira (WM). Total luas ketiga tambak tersebut mencapai 59.000 hektare.
"Berita ataupun pernyataan yang negatif mengenai kegagalan program revitalisasi, yang disampaikan oleh pihak tertentu dengan mengatasnamakan plasma AWS bukan suara hati maupun sikap masyarakat plasma AWS pada umumnya," kata Ferly.
Ferly yang mewakili 15 kepala kampung petambak plasma menyatakan hingga saat ini keberhasilan budidaya yang berjalan telah meningkatkan kesejahteraan penambak udang yang menjadi plasma perusahaan eks Dipasena itu.
Ia juga menegaskan seluruh program revitalisasi dan perjanjian kerjasama kemitraan yang ada dilakukan berdasarkan kesepakatan bersama dari hasil-hasil pembahasan dan rapat bersama, sehingga segala persoalan sudah diketahui secara menyeluruh oleh kedua belah pihak.
Petambak plasma, lanjut Ferly, dengan dukungan perusahaan inti bersama-sama akan mengamankan program yang sedang berjalan. Perwakilan penambak plasma siap menjelaskan kepada pihak-pihak terkait yang berhubungan dengan permasalahan kemitraan, kondisi sosial ekonomi, dan keberhasilan yang telah dicapai.
"Berdasarkan kenyataan dan pernyataan di atas, kami perwakilan petambak plasma, meminta kepada perusahaan inti segera mengupayakan pencairan atau mencarikan kredit berupa KI (kredit investasi) dan KMK (kredit modal kerja) dari lembaga keuangan seperti, BRI, BNI, dan lain-lain," kata Ferly. [*/mre]