Minggu, 27 Mei 2012 | 20:27 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Curi Pandang Lengking Saksofon Jembatan
Headline
istimewa
Oleh: Vina Nurul Iklima
web - Minggu, 28 Februari 2010 | 19:05 WIB
INILAH.COM, Jakarta Jembatan penyeberangan adalah sosok keangkuhan ibukota. Wajah-wajah tak karib, berderap mengejar waktu di kota penuh arogansi. Siapa sangka, lengkingan merdu saksofon mampu menghangatkan suasana. Mereka pun saling curi pandang.
Alunan musik simfoni indah, sayup-sayup terdengar di tengah hiruk pikuk jalan protokol ibukota. Di atas jembatan penyeberangan Bundaran HI, Jl Sudirman, seorang pemuda tampak lihai membawakan nada-nada romantis lagu I'm in the mood for love. Lagu klasik Amerika yang sempat dipopulerkan Frances Langford dalam film Every Night at Eight.
Mulanya, hanya dua perempuan pegawai bank yang terpukau kemahiran Lucki (37) meniup saksofon. Kedua perempuan bermake-up tebal yang mengempit tas Gucci aspal itu sepertinya terpana. "Bagus banget mainnya! Kayak bukan pengamen biasa, unik, ini baru pertama ada di Jakarta," aku Femmy (26) antusias.
Lengking merdu saksofon memang bukan hal lumrah di atas jembatan. Tak heran, bila aksi pria berpenampilan biasa itu mendapat perhatian lebih. Lihat saja di ujung jembatan ini. Seorang pria muda yang baru menaiki anak tangga teratas, langsung tertumbuk pandangannya pada kerumunan kami. Ia pun berhenti, seakan enggan melewatkan pertunjukan ini.
Pria itu berusia kira-kira 25-an. Mukanya yang kusut menggambarkan kehidupan Jakarta yang memang tidak mudah. Di tangannya, terlihat amplop cokelat besar yang sedikit bernoda dan kucel. Mungkin sudah banyak berpindah tangan sepanjang hari ini.
"Keren! Saya jadi serasa ada di sepanjang jalan Vaclavske Namesti, Praha," ungkap pria yang mengaku barnama Rendhi itu.
Di sisi lain, sepasang muda-mudi terlihat sibuk membidik Lucki dengan DSLR Canon D30-nya. Tentu sambil sesekali mengatur komposisi dan pencahayaan, agar hasilnya sempurna. Cahaya emas lampu neon jalan memantulkan kilau saksofon perak Lucki.
Lucki tampaknya semakin bersemangat. Lantunan lagu pun beralih dengan manisnya ke You Make Me Smile karya Kenny G. Semakin ramai kerumunan, Ia pun semakin bergaya, seperti dalam konser megah kelas profesional di Paris. Tuts saksofonis pun terus naik turun mengiringi lengkingan saksofonnya. Gairah malam telah bangkit,penikmat seni pun saling curi pandang dan berbagi rasa.
Lucki, yang biasa mangkal di jembatan HI, setiap Sabtu dan Minggu sore sampai malam, mengaku mengantongi Rp 30 ribu sekali 'mentas'. Namun, manggung dari jembatan ke jembatan, bukan berarti tak berprestasi.
Bakat terpendam yang baru disadari tiga tahun lalu itu, diakui beberapa musisi anak negeri. Sebutlah grup rape Saykoji, dan warna kasik White Shoes and The Couples Company. Mereka pernah mengajak Lucki apik kolaborasi. "Saksofonis sekarang sudah jarang. Kalau ngambil dari profesional mungkin bayarannya mahal, sementara saya berapa saja jalan," Lucki blak-blakan.
Mengapa memilih jembatan sebagai media ekspresi? Sementara fasilitas publik yang dimanfaatkan peminta-minta, asongan, dan pedagang pernak-pernik gelang tangan. "Di sini strategis. Ramai, nguji mental, promosi gratis, sekalian cari makan," jawab lajang ini.
Bunyi saksofon paling lantang di antara instrumen melodis lain. Maka, sungguh sia-sia jika ia terkurung, sembunyi di balik studio musik kedap suara. "Saksofon itu ekspresif. Kalau di Eropa, mereka mainkan di emperan, taman, di atas gedung, atau tempat terbuka lainnya," tambah Lucki.
Usahanya menarik perhatian publik, cukup berhasil. Orang selalu memberi atensi beragam. Uang recehan pada pundi rezekinya diletakkan di ujung sepatu dekilnya selama pentas. Tampilan Lucki tergolong necis, dengan kaus gombrong dengan jeans navy belel, dan kupluk rasta ala Bob Marley.
Meski menggoda mata, tidak lantas pentas saksofon berlangsung mulus selurus Jl Sudirman di bawah jembatan. Lucki kerap kucing-kucingan dengan aparat Trantib yang siap menyergapnya. Pernah ia lobi sang juragan jalan itu, namun pekerjaan itu sia-sia. Malahan, oknum itu memerasnya.
Lagi-lagi Lucki mesti berhenti berangan-angan untuk sekolah musik profesional jurusan andal saksofon. "Kadang saya kecewa, dengan mereka yang hanya kagum atau mengajak saya
kerjasama bukan karena suara saksofonnya. Tapi, mereka menanyai kehidupan dan perjalanan saya. Tidak ada yang bicara soal karya, boro-boro mengapresiasi musik jalanan ini," keluhnya panjang lebar.
Cita-cita Lucki cukup realistis, yakni membuat saksofon diterima semua lapisan orang. Turunnya musik elegan ke jembatan, bukan berarti merendahkan nilainya. Justru Ia ingin membuktikan bahwa saksofon alat musik instrumen lintas kasta. "Bukan cuma bule-bule atau bos kantoran saja yang bisa menikmati saksofon, tapi semua orang, gelandangan, pedangan asongan, loper koran, jiwa mereka patut berbahagia dengan nada ini," tuturnya.
Bahwa benar sepeninggal saksofonis andal Embong Raharjo, Indonesia tidak kekurangan bakat peniup saksofon. Dan tidak mustahil pula pria seperti Lucki bisa jadi komposer dunia seperti Dave Koz. Maka negeri inipun akan memiliki manusia-manusia seni berlebel maha karya. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.