inovasi portal berita
Jumat, 10 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Perdagangan Bursa Januari 2010

Saham Bakrie Kuasai 32%

Headline
istimewa
Oleh: Agustina Melani
Minggu, 28 Februari 2010 | 11:05 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Januari 2010, saham-saham grup Bakrie menguasai 32% perdagangan dari total transaksi perdagangan saham di bursa. Naik dari Januari 2009 yang hanya menguasai 17%.

Saham-saham grup Bakrie diperkirakan masih akan mendominasi nilai transaksi perdagangan di bursa pada 2010. Porsi transaksi perdagangan saham yang terbesar adalah saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Pada Kamis (25/2) saham BUMI mencatatkan nilai transaksi sekitar Rp214 miliar dengan volume 191,108 lot.

Pengamat pasar modal dari Eagle Capital, Erry Firmansyah mengatakan, saham grup Bakrie termasuk saham yang likuid dan banyak investor memiliki saham grup Bakrie. "Investor menyukai saham yang likuid sehingga bisa cepat masuk dan keluar, hal tersebut menjadi faktor dominan saham grup Bakrie," kata Erry beberapa waktu lalu.

Dominasi saham-saham grup Bakrie tersebut menimbulkan potensi pasar dengan volatilitas yang tinggi. Menurut Erry, selain saham grup Bakrie ada banyak sektor saham-saham di bursa Indonesia yang menjanjikan. Saham sektor consumer goods, infrastruktur, minyak dan gas, perbankan, serta pertambangan bisa menjadi pilihan. "Price earning ratio (PER) Indonesia masih cukup murah sekitar 15,banyak sektor yang cukup menjanjikan," kata Erry.

Pada 12 Februari 2010, Indonesia mencatatkan PER sekitar 15,45, Dow Jones-AS sekitar 15,21, Perancis sekitar 14,94 dan Filipina 14,81. Sedangkan negara lain mencatatkan PER tertinggi yaitu Jepang 35,09, China sekitar 31,76, dan Inggris sekitar 31,33.

Erry mengatakan, valuasi saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) termasuk kategori murah didukung oleh prediksi penurunan yield obligasi pada 2010 dan penguatan nilai tukar Rupiah terhadap US$ sehingga valuasi saham di BEI diperkirakan akan terus meningkat. Tapi Erry menyarankan, investor untuk tetap waspada. "Investor agar tetap waspada terkait inflasi di negara lain, dan likuiditas yang dikeluarkan pada 2008 akan kembali disedot sehingga investor juga harus tetap waspada," tambah Erry. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.