INILAH.COM, Jakarta Saham PT Bumi Resources (BUMI), Senin (1/3) diprediksikan begerak konsolidasi. Potensi pemakzulan Presiden Yudhoyono terkait skandal Century jadi pemicunya.Pengamat pasar modal, Irwan Ibrahim mengatakan konsolidasinya saham
BUMI hari ini karena sikap
wait and see pasar atas perkembangan market yang saat masih diselimuti suasana negatif. Hal ini dipicu oleh Sidang Paripurna yang mengagendakan rekomendasi DPR atas Pansus Hak Angket Skandal Bank Century pada 2-3 Mei pekan ini.
Pasar menengarai rekomendasi DPR akan bermuara pada pemakzulan (
impeachment) Presiden SBY. Karena itu,
BUMI akan konsolidasi dalam kisaran
support Rp2.150 dan Rp2.400 sebagai level
resistance-nya, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta.
Akhir pekan lalu, Kamis (25/2), saham BUMI ditutup melemah Rp25 (1,09%) menjadi Rp2.250 dengan intaraday Rp2.275 dan Rp2.225. Volume transaksi hanya mencapai 95,5 juta unit saham senilai Rp214,9 miliar dan frekuensi 2.682 kali. Berikut wawancara lengkapnya.
Bagaimana Anda memprediksi pergerakan saham BUMI awal pekan ini?Saya perkirakan masih akan konsolidasi. Sebab, pasar masih
wait and see atas perkembangan market yang saat ini masih diselimuti suasana negatif. Hal ini dipicu oleh Sidang Paripurna yang mengagendakan rekomendasi DPR atas Pansus Hak Angket Skandal Bank Century pada 2-3 Mei pekan ini. Pasar sudah memperkirakan rekomendasi DPR akan berakhir pada pemakzulan (
impeachment) Presiden SBY.
Akan bergerak di kisaran berapa?BUMI akan konsolidasi dalam kisaran
support Rp2.150 dan Rp2.400 sebagai level
resistance-nya.
Lantas, sentimen apa yang memungkinkan BUMI menguat hari ini?Saham memiliki peluang untuk bertahan jika harga minyak mengalami kenaikan di pasar Eropa pukul 15.00 hari ini. Jika harga minyak mentah di Eropa naik ke level US$81 per barel

BUMI bisa bertahan dari sentimen negatif dalam negeri. BUMI berpeluang menjadi
defensive stock di antara saham-saham sektor energi lainnya. Karena itu, IHSG
^JKSE pun tidak akan turun terlalu jauh, kalau BUMI bisa bertahan.
Sebaliknya, jika harga minyak mentah dunia justru turun ke level US$75, saham ini justru akan dilanda tekanan jual. Selain karena buruknya sentimen market domestik, pelaku pasar juga saat ini masih khawatir terkait kenaikan suku bunga diskonto di AS sebesar 25 basis poin menjadi 0,75%. Begitu juga dengan kenaikan Giro Wajib Minimum (GWM) di China menjadi 16,5%.
Jika harga minyak naik ke level US$81 per barel, apakah bisa menopang BUMI secara sustainable?Sulit juga. Sebab, permain spekulan pada harga minyak saat ini sangat cepat sehingga berpengaruh pada cepatnya baik pelemahan maupun kenaikan harga minyak ini. Hal ini dipicu juga oleh kekhawatiran pasar atas pelemahan dolar AS terhadap euro.
Bagaimana dengan aksi korporasi?Belum ada yang baru. Kalaupun ada, orang sekarang lebih fokus pada faktor politik. Artinya, dari sisi aksi korporasi tidak akan berpengaruh pada saham ini. Yang berpengaruh hanya dua saja yaitu politik dan harga minyak.
Lantas, apa rekomendasi Anda untuk BUMI?Saya rekomendasikan,
buy on weakness BUMI untuk jangka panjang. [jin/ast]