inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS
Pasca Gempa Chile-Haiti

Pentingnya Manajemen Bencana

Headline
guardian.co.uk
Oleh: Vina Ramitha
Senin, 1 Maret 2010 | 13:44 WIB
INILAH.COM, Port au Prince - Gempa yang melanda Chile jauh lebih besar ketimbang Haiti, namun korbannya lebih sedikit. Inilah bukti pentingnya manajemen bencana pada sebuah negara.

Alasannya sederhana. Chile adalah negara yang lebih kaya dan secara otomatis, lebih siap dalam menghadapi bencana. Negara di Amerika Selatan itu memiliki peraturan gedung yang lebih ketat, respon darurat yang lebih baik, serta sejarah panjang dalam menangani bencana seismik. Sementara di Haiti, tak ada satupun yang pernah mengalami gempa bumi di dalam rumah ketika gempa mengguncang pada 12 Januari lalu. Apalagi, struktur bangunan negara di lautan Karibia itu sangat memprihatinkan.
Gempa bumi takkan membunuh atau menciptakan kerusakan, jika tak ada yang bisa dirusak, papar ahli geografi dari Purdue University yang mempelajari gempa Haiti, Eric Calais, Senin (1/3).

Para ahli merasa, Chile memang agak sedikit lebih beruntung ketimbang Haiti. Gempa yang terjadi pada Sabtu (27/2) itu, titik pusatnya 34 kilometer di dalam tanah, di lepas pantai yang mengguncang area tak berpenduduk padat. Sebaliknya gempa tektonik Haiti, terletak 13 kilometer dari permukaan dan titik pusatnya berada di pinggiran ibu kota Port au Prince yang berpenduduk tiga juta jiwa. Faktor-faktor ini juga menambah besar kerusakan.

Lembaga Survei Geologi AS (USGS) mengatakan delapan kota Haiti diguncang gempa berkekuatan 7 pada Skala Richter itu. Pemerintah setempat mengestimasi korban tewas akibat gempa itu mencapai 220 ribu jiwa. Sementara korban jiwa di Chile saat ini baru mencapai 708 jiwa. Gempa berkekuatan 8,8 pada Skala Richter yang mengguncang negara itu juga berjarak 325 kilometer dari ibukota sekaligus kota terbesar, Santiago.

Berbicara soal energi yang dilepaskan ketika gempa melanda, yang terjadi di Chile 501 kali lebih kuat ketimbang Haiti. Namun energi itu termakan jarak yang cukup jauh dari titik pusat. Haiti juga diperparah oleh tanah di bawah Port au Prince yang memang tak stabil. Jika bisa dibuat perbandingan, Port au Prince bak berdiri di atas jelly, ujar ahli geologi University of Miami, Tim Dixon.

Penduduk Haiti juga dilanda kepanikan yang teramat sangat, ketika bangunan yang mereka bangun dengan susah payah itu runtuh di tangan mereka. Banyak yang tewas karena berpegangan pada pilar semen yang hancur berkeping-keping di tangan mereka. Penduduk negara termiskin di kawasan tersebut tak tahu harus bereaksi seperti apa dan bagaimana cara melindungi diri sendiri ketika terjadi gempa.

Penduduk Chile, di sisi lain, membangun rumah dan perkantoran mereka sedemikian rupa sehingga tetap stabil ketika gempa menerjang. Rangka besi pada bangunan Chile memiliki desain untuk bergoyang bersama ayunan seismik, bukan melawannya. Hal ini dibenarkan oleh Direktur Eksekutif Architecture for Humanity, Cameron Sinclair. Menurutnya, Chile memang mengalami kerusakan. Namun tak separah di Haiti di mana bangunan runtuh berkeping-keping.
Bangunan di Chile juga tak mahal, namun cukup tahan gempa. Haiti tak memiliki aturan konstruksi bangunan, papar pemimpin lembaga yang membantu merancang bangunan di 36 negara, pasca bencana.

Pihaknya telah menerima 400 permintaan untuk membantu Haiti sehari setelah gempa menerjang. Sejauh ini, hingga dua hari setelah gempa, ia mengaku belum menerima satupun permintaan dari Chile. Mendukung pernyataan Sinclair, seorang arsitek Haiti, Patrick Midy, hanya mengetahui tiga bangunan tahan gempa di negaranya itu.

Sinclair mengatakan, membangun kembali Haiti tak bisa dilakukan hanya dengan memperbaiki blueprints arsitektur negara itu. Namun juga pemerintahannya atau dalam manajemen bencana. Seperti Chile, di mana Presiden Michelle Bachelet terus menerus memberikan laporan menit ke menit, mengenai apa yang terjadi di negaranya. Ini saja mengindikasikan seperti apa disaster management Chile, lanjutnya.

Di Haiti, beberapa waktu pertama setelah terjadi gempa, penduduknya bahkan tak tahu apakah Presiden Rene Preval tewas atau masih hidup. Istana Presiden yang sekaligus kediamannya, ikut kolaps seperti banyak gedung pemerintahan lainnya. Televisi, jaringan telepon, dan radio di negara itu mati total.

Gempa besar terakhir menimpa Chile pada 1960 dan gempa Sabtu kemarin merupakan yang ketiga kalinya gempa di atas 8,7 SR menimpa negara itu. Haiti, sebelum 12 Januari lalu, merasakan gempa terakhir 250 tahun. Jarak waktu itulah yang juga sebuah faktor penting, dalam artian, tak satupun penduduk di Haiti saat ini yang pernah merasakan gempa bumi. [ast]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.