Minggu, 27 Mei 2012 | 16:03 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Ekspor ke China Naik
BPS: Bukan Karena ACFTA
Headline
Rusman Heriawan - inilah.com
Oleh: Mosi Retnani Fajarwati
web - Senin, 1 Maret 2010 | 12:54 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Nilai ekspor Indonesia ke Cina meningkat dan hampir menyamai nilai ekspor ke Uni Eropa. Namun kenaikan tersebut bukan disebabkan dampak AC-FTA.

"Ekspor ke China sudah hampir sama dengan keseluruhan ekspor Uni Eropa, yang (US$) 1,05 (miliar) itu," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan di kantornya, Senin (1/3).

Berdasar data yang dipaparkan BPS, nilai ekspor Januari 2010 mencapai US$11,57 miliar atau turun 13,29% dibanding Desember 2009. Sementara bila dibanding Januari 2009 naik 58,99%. Untuk ekspor non migas Januari 2010 mencapai US$9,23 miliar atau turun 14,87% dibanding Desember 2009. Dan bila dibanding ekspor Januari 2009 naik 47,61%.

Menurut urutan negara ekspor, ekspor non migas terbesar tercatat ke Jepang US$1,32 miliar, disusul China US$1,01 miliar, dan Amerika Serikat US$997,7 juta. Dengan kontribusi ketiganya mencapai 36,01% dan
ekspor ke Uni Eropa (27 negara) sebesar US$1,05 miliar.

Menurut Rusman, kenaikan angka ekspor ke China untuk bulan Januari 2010, bukanlah disebabkan dampak dari diterapkannya kebijakan AC-FTA. "Kita masih belum bisa katakan itu pengaruh dr FTA, jadi belum. Itu
kan dibuka Januari," ujarnya.

Rusman optimis, apabila masyarakat Indonesia dan pemerintah melihat keberadaan AC-FTA bukan sebagai ancaman, maka akan memperkecil defisit perdagangan. "Pokoknya kalau kita melihat itu ancaman, bisa amburadul, tapi belum tentu kalau cerdas memanfaatkan peluang," ujarnya.

Pada saat pemberlakuan AC-FTA, Rusman mengatakan, neraca perdagangan Indonesia memang sudah defisit. "Sehingga nanti kalau defisit mengecil atau sama antara ekspor impor (China), atau lebih tinggi ekspor
dibanding impor, itu berarti kita yang memnanfaatkan peluang itu.

Sedangkan untuk nilai impor Januari 2010 mencapai US$9,54 miliar atau turun 7,35% dibanding Desember 2009 yang besarnya US$10,3 miliar. Namun jika dibanding Januari 2009, nilainya meningkat US$2.942,7
juta atau 44,58%.

Impor non migas Januari 2010 mencapai US$7,59 miliar atau turun US$618,4 juta (7,54%) dibanding impor Desember 2009, sedangkan jika dibanding bulan yang sama 2009 terjadi peningkatan US$2.266,9 juta atau
42,62%.

Impor migas Januari 2010 mencapai US$1,96 miliar atau turun US$138,2 juta (6,6%) dibanding impor Desember 2009. Sebaliknya terjadi peningkatan US$675,8 juta (52,74%) dibanding Januari 2009.

Berdasarkan negara pemasok impor non migas terbesar selama Januari 2010 masih ditempati Cina dengan nilai US$1,41 miliar dengan pangsa 18,56%, Jepang US$1,07 miliar dengan pangsa 14,12%, dan Singapura US$0,78 miliar dengan pangsa 10,34%. Total impor non migas dari ASEAN mencapai 22,41% dan Uni Eropa 8,91%.

Adapun nilai defisit antara ekspor dan impor non migas ke Cina yang tercatat pada Januari 2010 sebesar US$397 juta. [mre/hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.