INILAH.COM, Jakarta Setelah Chile, para pakar menanti sebuah gempa besar di Sumatera. Wilayah Padang dinilai semacam sumbu gempa dan diasumsikan akan terjadi dalam kurun waktu 10 tahun.
Geolog Senior Awang H Satyana mengatakan, potensi gempa di Indonesia dengan di Amerika Selatan termasuk Haiti dan Chili sama-sama berbahaya. Namun pengamatan selama berpuluh tahun, Sumatra lebih aktif.
Untuk di Sumatra, lempeng Hindia di Sumatera terus-menerus bergerak menekan ke utara, ujarnya di Jakarta, kemarin. Ia mengatakan seluruh kota di pantai barat Sumatera dan pantai selatan Pulau Jawa sangat rawan terhadap gempa, termasuk Yogyakarta, Cilacap, Banyumas, Sukabumi, dan Pelabuhan Ratu.
Meskipun di Amerika selatan termasuk Haiti terdapat titik potensial yang mirip, tetapi jumlahnya tidak sebanyak di Sumatera. Ahli geologi hanya bisa melihat potensi gempa, tetapi tidak bisa menentukan kapan waktunya. Jika ada sebuah daerah yang berada di area rawan gempa dan lama tidak terjadi gempa, hal tersebut bukan berarti aman, melainkan sedang membangun gaya. Harus diwaspadai, tegas Awang.
Ia menegaskan manusia tidak bisa memprediksikan kapan terjadi gempa. Saat ini yang bisa dilakukan hanya mengetahui skala waktu, yang bisa jadi adalah bulanan atau tahunan.
Ada satu gempa besar yang diramalkan banyak ahli akan terjadi di Sumatera. Gempa itu diperkirakan lebih besar daripada gempa terakhir yang berpusat di 53 km Kota Pariaman.
Gempa besar tersebut belum terjadi kemungkinan karena adanya penggembosan di berbagai wilayah sekitarnya di Nias dan Bengkulu misalnya. Padang itu semacam pentil atau sumbu gempa. Asumsinya dalam 10 tahun akan terjadi, tandas Awang.
Ia mengatakan Indonesia sering terjadi gempa karena merupakan pertemuan tiga lempeng. Hal itu yang menyebabkan Indonesia memiliki potensi gempa paling tinggi di dunia. Ibaratnya masyarakat Indonesia sleeping with earthquake, imbuh Awang.
Sementara untuk memperkecil korban ditentukan oleh faktor besarnya gempa dan manusia yang tinggal di wilayah itu. Gempa diukur dengan skala richter menyangkut kekuatan gempanya. Sedangkan skala Mercalli berhubungan dengan tingkat kerusakan yang diakibatkan oleh sebuah peristiwa gempa.
Daerah rawan gempa harus menyesuaikan diri dengan kondisi alamiah yang melekat, ada pengukuran kode bangunan sebelum dibangun agar tahan gempa. Misalnya Jakarta bangunannya harus tahan terhadap gempa 7 skala richter, ujar Awang.
Sementara bagi masyarakat umum seperti di Padang sudah terdapat rambu-rambu yang memberikan solusi ketika terjadi gempa. Masyarakat di wilayah yang potensial gempanya tinggi sudah diberikan simulasi dan dididik untuk mengantisipasi gempa.
Sosialisasi pada masyarakat di Indonesia sudah cukup, Padang sebagai prototipe. Potensi gempa dan tsunami di pantai barat Sumatera lebih berbahaya daripada pantai selatan pulau Jawa, karena topografi pantainya yang terbuka dan landai ke laut. Kalau ingin aman, ya tinggal di Kalimantan atau Papua, tegas Awang.
Di Simeuleue ada teknologi model rumah yang bentuk bangunannya bertingkat. Jadi ketika ada tsunami maka air akan melalui kolong rumah itu. Sementara jika sedang berada di kantor, maka tidak dianjurkan lari ke arah tangga karena merupakan alat evakuasi kebakaran bukan untuk gempa.
Yang paling baik adalah berlindung di pilar-pilar utama, dan yang paling mudah adalah mendekat lift karena merupakan pilar utama. Manusia Indonesia sudah saatnya beradaptasi dengan alam. Tiga benda minimal utama yang harus disiapkan untuk menghadapi gempa adalah peluit, senter dan air mineral, tegas Awang.
Lalu mengapa korban gempa dan tsunami dahsyat di Chili bisa diminimalisir? Deputi Bidang Jasa Ilmiah LIPI Jan Sopaheluwakan mengatakan episentrum gempa sangat tergantung dari skala dan kedalaman dari permukaan bumi. Di Haiti kedalaman episentrumnya dangkal yakni 30 km-an jadi korbannya sangat besar, sedangkan di Padang 50 km-an, katanya.
Ia mengatakan masyarakat harus dilatih jika ingin mengurangi korban jiwa. Chili, Hawai dan Jepang sudah lebih baik dari Indonesia dalam hal edukasi. Agar korban minimal, selain bangunan yang tahan gempa, pemerintah harus meningkatkan peran setiap institusi baik LIPI, BMKG dan BNPB, tegas Ian. [mdr] [[indosat]]