INILAH.COM, Jakarta - PT Adaro Energy Tbk (ADRO) berpeluang menggenjot penjualan batu bara ke China dan India menyusul indikasi pemulihan ekonomi global yang berpotensi meningkatkan permintaan sumber energi itu.
Kekurangan pasokan listrik di India dan China mendorong peningkatan permintaan batu bara untuk pembangkit listrik di negara berpertumbuhan ekonomi tertinggi pertama dan kedua dunia itu.
Perseroan mengapalkan sebanyak 3,5 juta ton batu bara ke China dan 3 juta ton ke India pada 2008, dari total volume produksi sebanyak 38,5 juta ton. Pada tahun ini, Adaro berencana mengekspor sekitar 33 juta ton batu bara dari total volume produksi perseroan yang sebanyak 42 juta ton.
Sepanjang tahun 2009, Adaro mencatat volume penjualan sebanyak 41,4 juta ton batubara. Angka tersebut naik 2,8 juta ton atau 7,05% dari tahun sebelumnya, yang sebanyak 39,8 juta ton. Adapun volume produksi batubara Adaro di tahun 2009 naik 2,1 juta ton atau 5,45% dari 38,5 juta ton menjadi 40,6 juta ton.
Analis Credit Suisse Haider Ali memperkirakan, keuntungan Adaro pada tahun ini akan meningkat menyusul kenaikan harga jual batu bara untuk kontrak pengiriman pada 2009.
Pada penutupan perdagangan bursa kemarin harga saham ADRO menguat Rp10 ke Rp1.840. [san/cms]