Apa yang dilakukan Pansus Century selama sekitar 3 bulan terakhir ini, dalam konteks demokrasi adalah memainkan peran kontrol terhadap kebijakan pemerintah ?
Betapa sentral peran kontrol, kritik, dan pengawasan terhadap kekuasaan itu, justru
karena setiap kekuasaan, menurut Lord Acton, cenderung korup (power tends to corrupt).
Untuk tidak menjejali isi kepala kita dengan macam-macam trik politik yang tengah dimainkan oleh para elit, alangkah baiknya kalau sebagai bangsa, kita sama-sama menarik pelajaran berharga dari dari Kasus Century ini.
Pertama, bagi pemerintah yang sedang berkuasa, inga, inga! Power tends to corrupt!. Acton sengaja menyelipkan kata "tends" (cenderung) pada ungkapan tersebut, karena di situ ternyata ada proses.
Kasus bailout Bank Century tidak ujug-ujug bermasalah. Ia telah melalui sebuah proses pergulatan di dalam batin para pengambil kebijakan.
Pergulatan antara bakat-bakat baik manusia melawan bakat-bakatnya yang jahat. Nah, bakat mana yang paling dominan atau yang menang dalam pergulatan itu, hanya para pelakunya yang tahu.
Kedua, bagi Anggota Dewan yang terhormat. Pada awalnya politik diartikan siapa mendapatkan apa, atau siapa menyantap apa. Setelah tiga bulan disandera oleh kasus Century, apa yang akan Anda dapatkan, atau siapa yang akan Anda santap? Masih ada maling-maling besar yang sedang bebas menghirup udara kenikmatan hidup.
Sementara di desa-desa, di pedalaman-pedalaman, di pantai-pantai nelayan, ribuan orang-orang kecil hanya bisa tersenyum dengan bibirnya yang kering.
Ir. Sarjito
Volunteer NGO, tinggal di Lhokseumawe-NAD