INILAH.COM, Jakarta - Bursa saham mengalami rebound pada hari kedua perdagangan. Saham tambang PT Adaro Energy (ADRO) pun diyakini menjadi motor penggeraknya. Hal ini diungkapkan pengamat pasar modal Bumiputera Capital Ridwan Noviyanto. Menurutnya, ADRO akan menguat seiring meningkatnya kebutuhan batubara dunia dan domestik. ADRO unggul karena produksi batubaranya berkalori tinggi.
Apalagi, korporasi juga akan mengeluarkan laporan keuangannya hari ini dan menikmati kinerja baiknya sepanjang 2009, katanya ketika dihubungi
INILAH.COM, Selasa (2/3).
Perbaikan ekonomi China dan India, akan memicu kenaikan permintaan batubara sebagai sumber energi alternatif terbesar setelah minyak mentah. Sedangkan dari dalam negeri, emiten ini juga diuntungkan konstruksi pembangkit listrik 10 ribu megawatt milik Perusahaan Listrik Negara (PLN), yang membutuhkan batubara cukup tinggi.
ADRO yang tak banyak mengekspor, bisa memasok kebutuhan PLN tersebut dengan menambah kapasitas produksi. Ini bukan perkara yang sulit bagi ADRO, jelasnya.
Ridwan menambahkan, peningkatan produksi bisa segera dilakukan karena perusahaan memiliki dana yang cukup. Dana tersebut diperoleh dari penjualan obligasi, serta
standby loan yang belum banyak dialokasikan. Hal ini bisa digunakan ADRO untuk mengakuisisi pertambangan batubara dalam waktu cepat. Sementara emiten lain masih bingung mencari dananya, tandas Ridwan.
ADRO memang menargetkan produksi batubara tahun ini bisa mencapai 45 juta ton. Kenaikan produksi tersebut bakal mengerek pendapatan ADRO ini sekitar 10% hingga 15% pada tahun ini. Produksi ADRO tahun lalu mencapai 40,59 juta ton.
Namun, karena ADRO hanya berhasil menjual 31,56 juta ton batubara, perseroan akan mengalihkan penjualannya dari pasar AS ke Asia, seperti Jepang, Korea, Taiwan, China, India, Malaysia, dan Hong Kong. Pertimbangannya, harga batubara di AS lebih rendah. Selain itu, kondisi perekonomian negara-negara Asia jauh lebih menjanjikan ketimbang ekonomi AS.
Menurut analis pasar modal dari Bhakti Securities Reza Nugraha, peningkatan pasokan batubara ke China dan India adalah hal lumrah. Salah satu penyebabnya adalah, harga minyak dunia saat ini yang terus merangkak naik menembus level US$80 per barel. Padahal kedua negara itu merupakan pengguna energi terbesar di dunia, imbuhnya.
Perseroan juga menganggarkan belanja modal sekitar US$200-250 juta untuk meningkatkan produksi batubara dan efisiensi biaya perusahaan tahun ini. Dana yang berasal dari pinjaman dan kas internal tersebut, sebagian besar akan digunakan untuk membangun
conveyor belt. Proyek tersebut sudah mulai dibangun dan rencananya bakal selesai satu setengah tahun hingga dua tahun lagi.
ADRO memang saham yang tak dapat dipandang sebelah mata. Selain memiliki pangsa pasar 4-5% di pasar internasional, di dalam negeri, Adaro menempati peringkat nomor dua produsen minyak mentah.
Likuiditas ADRO cukup tinggi, rata-rata mencapai US$20 juta per hari dengan kapitalisasi pasar sekitar US$6,2 miliar. Sedangkan cadangan batubara Adaro tercatat 930 juta ton batubara atau setara cadangan produksi selama 23 tahun ke depan.
Tak heran bila perseroan menargetkan peningkatan produksi batubara hingga dua kali lipat dari sekitar 41 juta ton pada akhir 2009 menjadi 80 juta ton pada 2014. Sementara dari sisi arus kas, kondisi keuangan Adaro juga tergolong sehat. Hingga empat tahun mendatang, arus kas tahunan Adaro diprediksi mencapai US$172-706 miliar. [ast/mdr]