Selasa (2/3) massa aliansi Emas Bangsa yang terdiri dari KAMMI Daerah Semarang, BEM UNDIP, BEM UNNES dan BEM Polines aksi turun ke jalan untuk menyerukan pengawalan kasus century.
Aksi direncanakan dari pusat videotro lalu ke DPRD dan diakhiri siaran di RRI di jalan Ahmad Yani Semarang.
Seperti biasanya anggota polisi selalu mengamankan jalannya aksi oleh mahasiswa. Ada hal yang aneh saat memasuki kawasan RRI masa aksi tidak diperbolehkan masuk ke halaman RRI Semarang, padahal biasanya massa aksi bisa masuk di kawasan RRI.
Setelah lobi dengan pihak RRI dan polisi, mahasiswa tetap ditolak masuk. Padahal sehari sebelumnya telah menemui pihak RRI dan diperbolehkan masuk dan perwakilan massa aksi melakukan siaran langsung dari RRI.
Untuk hari itu seperinya RRI dan Polisi dari Polres Semarang Selatan sepakat untuk tidak menerima kehadiran massa aksi.
Keinginan massa aksi sederhana saja, masuk halaman RRI dan mendengarkan perwakilan mahasiswa yang mengikuti siaran RRI dengan mengemukakan apa saja tuntutan dari aliansi Emas Bangsa.
Sembari lobi dengan polisi dan pimpinan RRI, massa aksi yang telah menunggu lebih dari satu jam bentrok dengan polisi. Akhirnya polisi mengeluarkan senjata andalannya, yaitu 2 ekor anjing besar untuk mengusir massa aksi.
Keberadaan anjing ini tentunya mengagetkan massa aksi, namun dari mahasiswa tidak ada korban. Dalam aksi-aksi biasanya polisi tidak pernah menyandingkan anjing dengan para demonstran, jadi patut dipertanyakan.
Setiap aksi yang menyangkut pemerintahan SBY selalu massa aksi ditindak represif dan polisi kurang mampu memahami keinginan massa aksi.
Dalam proses lobi para penanggungjawab aksi berani menjaminkan dirinya bila terjadi kerusuhan di halaman RRI, namun pihak polisi dan RRI tetap tidak mebiarkan masuk massa aksi.
Apakah ini sikap yang memang telah diperintahkan atasan, untuk tidak permisif pada massa aksi yang menghujat pemerintahan saat ini.
Bila demokrasi harus berhadapan dengan binatang-anjing, maka itulah usaha untuk melanggengkan rezim, bentuk ketakutan akan suara rakyat. Merdeka !!!
Ibnu Dwi Cahyo
KAMMI Daerah Semarang