INILAH.COM, Jakarta Saham grup Bakrie masih akan mendrive penguatan bursa hari ini, melanjutkan kenaikan pada perdagangan sebelumnya. Beberapa saham grup ini menjadi pilihan sejumlah analis.
Purwoko Sartono, analis riset dari Panin Sekuritas memprediksikan, saham grup Bakrie masih berpotensi menguat hari ini. Terutama mengingat kenaikan kemarin yang secara teknikal belum maksimal.
Namun, penguatan ini hanya bersifat terbatas. Karena belum ada aksi korporasi yang akan berpengaruh pada pergerakan emiten ini, ujarnya kepada INILAH.COM, Rabu (3/3).
Menurutnya, sentimen positif berasal dari sidang paripurna DPR hari kedua yang mengagendakan rekomendasi akhir Pansus skandal Bank Century. Pasar akan segera mendapat kejelasan terkait arah politik dalam negeri, katanya.
Beberapa saham Bakrie yang akan menguat terbatas antara lain PT Bakrie & Brothers (BNBR) yang akan bergerak di support resistance Rp75-80, kemudian PT Energi Mega Persada (ENRG) yang bergerak di kisaran Rp158-160, PT Bakrie Telecom (BTEL) di level Rp143-150 dan PT Darma Henwa (DEWA) yang bergerak di Rp108-115, Rekomendasi trading buy untuk emiten-emiten ini,ujarnya.
Saham Bakrie lain yang akan mendrive pergerakan bursa antara lain PT Bakrieland Development (ELTY), diprediksi berada di level support resistance Rp225-240. Kemudian saham PT Bakrie Sumatra Plantation (UNSP) di level di Rp510-530.
Kami melihat UNSP berpeluang untuk menguat dalam jangka pendek. Jika tembus, terbuka kemungkinan terus menguat ke Rp550-an. Untuk support masih berada di Rp500-510, ucapnya.
Purwoko menjelaskan, UNSP adalah salah satu saham grup Bakrie yang cenderung tertahan pergerakannya kemarin, menyusul rights issue perseroan. Selesainya rights issue membuka peluang saham ini untuk bergerak menguat.
Rights issue UNSP diakhiri dengan PT Danatama Makmur melakukan private placement saham baru UNSP senilai Rp1,4 triliun, atau 28% dari saham baru yang diterbitkan. Saham ini merupakan saham yang tidak diambil pemegang saham.
Pemegang saham UNSP mengambil sekitar 70% saham baru yang diterbitkan. BNBR yang menjadi pemegang saham pengendali UNSP telah menyerap 50% saham baru. Jadi, BNBR bertahan menjadi pemegang mayoritas di UNSP.
Dalam rights issue UNSP menawarkan 9,45 miliar saham senilai Rp525/saham. UNSP meraih dana total Rp4,96 triliun untuk mengakuisisi aset Domba Mas serta membeli 3 perusahaan perkebunan yang bergerak di bidang kelapa sawit serta karet.
Demikian pula PT Bumi Resources (BUMI) yang memiliki support resistance di Rp2.300-2.400. Selain didukung saham Xstrata yang terus naik, selesainya Century akan menghilangkan ancaman untuk BUMI, pungkasnya.
Senada dengan Christine Salim, Head of Research Samuel Sekuritas yang menjagokan BUMI. Menurutnya, munculnya berbagai berita negatif, seperti sengketa pajak, tertundanya non pre-emptive right serta deferred stripping cost mendorong koreksi BUMI hingga 25% dari level tertinggi tahun ini.
Namun, koreksi harga yang terjadi merupakan kesempatan mengakumulasi. Kami rekomendasikan maintain buy BUMI, ujarnya. Saham BUMI ditargetkan dapat mencapai harga Rp3,625/saham.
Saat ini BUMI diperdagangkan pada price earning (PE) 2010-2011 sebesar 12,7-9,3 kali, dibandingkan rata-rata sektor 13,7-9 kali. Christine mengatakan, pihaknya belum merevisi proyeksi BUMI, akibat pending rilis kinerja 2009. Namun ia menyarankan investor tidak hanya melihat sejarah BUMI, tapi fokus pada prospek.
Saat ini beredar kabar bahwa Tata Power, yang memegang 30% kepemilikan di Kaltim Prima Coal (KPC) dan Arutmin membukukan penurunan laba bersih 82% pada kuartal IV 2009. Hal ini terkait write off atas biaya pengupasan tangguhan (deferred stripping cost) sebesar 3,7 miliar rupee atau US$76,1 juta di KPC dan Arutmin.
Deferred stripping cost merupakan biaya yang timbul apabila rasio aktual pengupasan tanah (stripping ratio) lebih tinggi dari rasio rata-rata yang diestimasi. Biaya pengupasan tangguhan ini akan dibebankan sebagai biaya produksi atau diamortisasi pada periode dimana rasio aktual lebih rendah dari rata-rata estimasi.
BUMI sebagai pemegang 70% kepemilikan di KPC dan Arutmin pun mempertimbangkan write off deferred stripping cost dan dibukukan sebagai one time adjustment di 2009. Biaya tersebut merupakan non cash item sehingga tidak berdampak terhadap arus kas.
Dengan mengacu pada beban yang dicatat Tata sebesar US$76 juta, maka diperkirakan potential one-time adjustment 2009 di level BUMI sebesar US$253 juta. Proyeksi laba bersih 2009 kami adalah sebesar US$413 juta, katanya.
Menurutnya, pencatatan one-time adjustment (net after tax dan minority interest) berpotensi menurunkan laba bersih 2009 hingga US$124 juta atau EPS Rp86.7/saham. Namun biaya tersebut merupakan tax deductible sehingga berpotensi menurunkan beban pajak. [mdr]