INILAH.COM, Jakarta - Harga minyak sawit mentah diprediksi akan terus menguat hingga US$800-825 per ton. Namun, tak semua sahamnya pantas dikoleksi. Beberapa saham sudah mencapai harga tinggi.
Kesimpulan itu muncul, menurut sejumlah analis, karena saham-saham CPO sudah mencapai titik tertingginya. Efek PT Astra Agro Lestari (AALI), misalnya. Produksi salah satu perusahaan sawit terbesar ini, diyakini bakal tumbuh 10% menjadi sekitar 1,2 juta ton.
Lantaran harga CPO diyakini bakal menguat, maka di tahun ini pendapatan AALI akan mencapai Rp 8,2 triliun dengan laba bersih Rp 2,5 triliun. Kalau target tersebut tercapai, berarti akan terjadi peningkatan yang cukup signifikan. Sebab, di tahun lalu, anak perusahaan Grup Astra ini hanya membukukan pendapatan Rp7,42 triliun dengan laba bersih Rp1,67 triliun.
Menarik. Tapi, ya itu tadi, harga AALI yang pada Rabu (3/3) siang menclok di level Rp24 ribu sudah tergolong tinggi. Sehingga potensi penguatannya sudah semakin tipis. Paling banter saham ini hanya bisa naik ke Rp25.500, kata sang analis. Sementara seorang kepala riset menganggap harga wajar saham ini berada di Rp 23.900.
Cap mahal juga diberikan para analis terhadap saham PT London Sumatera (LSIP) dan PT Bakrie Sumatera Plantation (UNSP). Harga wajar LSIP ditaksir hanya berada di level Rp8.700 dan UNSP di Rp300. Sementara di pasar dua saham tersebut sudah berada di kisaran Rp8.900 dan Rp520. Jadi, kesimpulan analis, dua saham CPO yang inipun tak layak dikoleksi.
Rekomendasi beli justru diberikan pada efek terbitan PT BW Plantation (BWPT). Dengan price earning ratio (PER) yang baru mencapai 11,6 kali, harga BWPT masih tergolong rendah. Sebab PER di sektor ini rata-rata sudah berada di rentang 18-23 kali.
Dengan kenaikan harga CPO serta meningkatnya produksi, kinerja BWPT dipastikan akan semakin kinclong dengan perkiraan kenaikan pendapatan sebesar 20%. Itulah yang membuat harga saham ini ditargetkan akan mencapai Rp900 dalam jangka menengah. [mdr]