INILAH.COM, Jakarta Saham sektor komoditas seperti ADRO, masih bisa menjadi pemicu rally bursa hari ini. Namun pamor emiten sektor tambang ini sedikit berkurang tertekan aktifnya pergerakan BUMI. Hal ini diungkapkan analis pasar modal Willy Sanjaya. Menurutnya, saham PT Adaro Energy
ADRO masih diminati pasar, terutama investor asing. Namun, pesona ADRO berkurang setelah PT Bumi Resources (
BUMI) kembali aktif akhir-akhir ini.
Aktifnya BUMI telah menyedot minat investor ke saham anak usaha Bakrie ini, ujarnya kepada
INILAH.COM, Kamis (4/3). Menurutnya, ADRO memiliki kapitalisasi yang kuat, seiring kenaikan harga batubara terhadap minyak mentah.
Ini merupakan keuntungan tersendiri. Dengan aliran dana yang kuat, emiten ini bisa segera melakukan penambahan produksi dengan cepat. ADRO bisa memanfaatkan kenaikan harga batubara untuk menambah produksi dan memiliki ruang yang cukup besar untuk melakukannya, katanya.
Lebih lanjut Willy mengatakan, sektor komoditas hari ini bisa menjadi penahan dan pemicu
rally. Apalagi, Maret biasanya momen tutup buku, yang banyak dipenuhi dengan aksi
window dressing. Hari ini, investor akan kembali berspekulasi, imbuhnya.
Pada perdagangan Kamis (4/3) sesi siang, ADRO terpantau menguat Rp20 ke Rp1.850, melanjutkan kenaikan perdagangan sebelumnya Rp10 ke level Rp1.840. Salah satu pemicunya berasal dari rumor bahwa harga saham ADRO berpotensi naik ke level Rp2.500 seiring laba bersih perseroan sepanjang 2009 yang diprediksi naik hingga dua kali lipat.
Adaro Energy memang disebut-sebut bakal menjadi emiten yang memberikan profit cukup menggiurkan. Salah satunya karena emiten ini terus menyesuaikan harga batubaranya mengikuti tren harga di pasar internasional. Apalagi permintaan minyak mentah diekspektasikan meningkat untuk jangka panjang.
Tahun ini, Adaro menargetkan produksi batubara 45,1 juta ton, tumbuh 10% dibandingkan target 2009 sebanyak 41 juta ton. Sampai 2013, Adaro akan meningkatkan kapasitas produksinya hingga 80 juta ton. Sedangkan penjualan tahun ini ditargetkan mencapai 44,6 juta ton.
Untuk mencapai berbagai target tersebut, Adaro menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) US$300-350 juta atau setara Rp3-3,5 triliun. Sumber pendanaan capex akan dipenuhi dari hasil emisi obligasi global.
Adaro saat ini sedang merampungkan sejumlah proyek terkait program efisiensi. Seperti pembangkit listrik 2x30 megawatt senilai US$160 juta yang akan rampung pada 2011-2012. Pembangkit ini akan memasok kebutuhan listrik dan menekan beban energi perseroan. Adaro juga sedang membangun
overland conveyor senilai US$ 240 juta yang menyediakan alternatif transportasi, guna mengurangi biaya operasional hingga US$1-2 per ton.
Di luar itu, Adaro juga termasuk emiten yang diuntungkan pengurangan pajak royalti batubara kadar rendah dari 13,5% menjadi 9%. Soalnya, sebagian besar batubara yang diproduksi Adaro merupakan batubara kadar rendah.
Analis Citigroup Paul Chanin mengaku optimistis dengan kinerja Adaro. Ia bahkan menargetkan laba bersih Adaro dapat meningkat tiga kali lipat tahun ini, dibanding 2009. Hal ini sering langkah perseroan menetapkan ulang harga kontrak-kontraknya, termasuk meningkatkan efisiensi dan produksi, ujarnya.
Paul Chanin memprediksikan
price to earning ratio (PER) Adaro tahun ini sekitar 23,6 kali, sedangkan PER pada 2011 sekitar 15,9 kali. Berdasarkan valuasinya, harga saham ADRO masih lebih baik dibanding perusahan sejenis dan rata-rata sektor energi. Buy saham ADRO dengan tingkat risiko medium, katanya. [ast/mdr] [[indosat]]