INILAH.COM, Jakarta - Sebagai parpol koalisi, seharusnya PPP ikut mendukung kebijakan pemerintah dengan memilih opsi A dalam paripurna DPR soal Bank Century. Karena itu, mantan Ketua Kampanye SBY-Boediono, Hatta Rajasa mengaku kecewa.
"Memang saya yang selama ini dituakan dalam koalisi, ya tentu saya manusia sekali kalau saya mengatakan kekecewaan. Jadi buat saya kejujuran, keikhlasan, kebenaran, kesetiaan itu adalah fundamen di dalam kehidupan," tegas Hatta di Istana Negara, Jakarta, Kamis (4/3).
Hatta menolak mengomentari mengenai isu akan adanya reshuffle pasca putusan paripurna tersebut. "Saya tidak punya ruang untuk bicara hal ini. Presiden akan menyampaikan pidato pada jam 8 malam," tuturnya
Menko Perekonomian ini mengatakan, terkait pidato SBY tersebut, tidak ada pengumpulan menteri-menteri yang berasal dari parpol koalisi. "Sementara ini tidak ada," ujar Ketua Umum PAN ini.
Dijelaskan dia, kegagalan (berkoalisi) dalam hidup merupakan hal yang biasa. Bahkan, lanjut Hatta, kadang-kadang harus menghadapi realitas seperti itu. "Dan kita tidak boleh mengatakan ini adalah suatu akhir, atau kiamat itu tidak. Ini biasa dalam kehidupan," imbuhnya.
Hatta dengan tegas menampik, pasca sikap PPP tersebut, dapat mempengaruhi pada dukungan parpol koalisi melorot. "Insya Allah tidak ada," katanya.
Pada Rabu (3/3) malam, rapat paripurna DPR yang dipimpin Ketua DPR Marzuki Alie akhirnya memutuskan pemberian Fasilitas Pinjaman Jangka Pendek (FPJP) dan Penyertaan Modal Sementara (PMS) bagi Bank Century bermasalah. Keputusan itu diambil melalui voting yang akhirnya memenangkan opsi tersebut.
Sebanyak 325 anggota Dewan dari enam fraksi mendukung opsi tersebut dan sisanya sebanyak 212 anggota Dewan memilih opsi A yang menyatakan bahwa pemberian FPJP dan PMS bagi Bank Century tidak bermasalah karena dilakukan untuk mencegah krisis dan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku. [jib]