INILAH.COM, Jakarta Paras cantik dan bodi oke saja tak cukup. Ia juga mesti ramah, cerah-ceria, murah kata-kata, dan product knowledge di atas rata-rata. Itu syarat bagi SPG, pewangi sekaligus pembuka keran rezeki di 16th IIMS 2008.
SPG (sales promotion girl) memang bukan profesi baru. Ia hadir dan dibutuhkan di banyak kegiatan besar dan penting di sektor bisnis. Tugas utamanya simpel saja: jadi penambah daya tarik sebuah hajatan plus mengingkat konsumen untuk teken transaksi. Tapi, praktiknya sungguh tak semudah teorinya.
Berlaku sebagai SPG berkelas dan profesional, tak sekadar jadi penghias, mensyaratkan sejumlah faktor. Tampang, bodi, dan keluwesan gerak tubuh adalah syarat standar. Selebihnya, ia harus melengkapi diri dengan kecakapan berkomunikasi, menguasai ilmu dasar promosi dan marketing, plus ngelotok soal produk yang dikawalnya.
Di event setingkat 16th Indonesia International Motor Show (IIMS) 2008 yang digelar 11-20 Juli di Jakarta Convention Center, kualifikasi bagi seorang SPG tentu lebih tinggi lagi. Maklum, IIMS adalah hajat level dunia, menyangkut industri otomotif yang melibatkan 20 APTM di Tanah Air, dan dihadiri orang-orang mapan.
Dan, yang terlihat sepanjang tiga hari pergelaran IIMS sejak dibuka Jumat (11/7), para SPG memang terbukti mampu menambah semarak, menambah wangi, serta menambah daya tarik pengunjung untuk minimal melongok ke satu demi satu mobil-mobil anyar yang dipamerkan. Lebih dari itu, sang SPG juga mampu membuka pintu terjadinya transaksi pemesanan mobil di setiap ATPM.
Ivonne Tjendra, misalnya, memetik manfaat ganda dengan menjadi salah satu Toyota Pretty di IIMS. Meski selama hajatan berlangsung harus bangun pagi-pagi buta karena didandani dulu sebelum menjalani tugas, ia mengaku senang. Pengalamannya berkembang, rezekinya bertambah, dan berperan pula bagi Toyota. .
Ivonne yang biasa bertugas pada shift pertama (09.00-15.30) di Plennary Hall bertutur, "Aku aku suka jadi Toyota Pretty. Bisa ketemu banyak orang dan banyak belajar, terutama tentang otomotif."
Ivonne, mahasiswi semester delapan di Fakultas Hukum Universitas Tarumanegara, menambahkan, "Aku kerap ikut kegiatan sepertiini sejak usia 16. Orangtua yang semula kurang setuju pun akhirnya mengerti dan mendukung kemauanku untuk cepat mandiri."
Ungkapan Ivonne itu jelas menyiratkan, dari pekerjaan temporer sebagai SPG ia bisa mengais rezeki. Menambah kocek. Dari situ, ia pun tak lagi harus selalu minta uang kepada orangtuanya untuk memenuhi ragam kebutuhannya sebagai remaja putri, bagian dari 'anak gaul'.
Agar lebih fasih setiap kali ada tawaran jadi SPG, Ivonne sempat mengikuti pendidikan khusus di sekolah kerpibadian John Robert Powers. Di sanalah ia belajar cara berjalan, berkomunikasi, dan lainnya dengan takaran lebih. Tak aneh jika ia lulus seleksi dan wawancara dengan bos PT Toyota Astra Motor (TAM) Johnny Darmawan.
Di IIMS, Ivonne keberatan jika ia disebut bekerja sebagai SPG. "Toyota Pretty tidak menawarkan produk, apalagi menyebut harga kepada calon pembeli. Tugas saya adalah memberi penjelasan tentang produk kepada pengunjung. Soal harga, itu tugas salesman," tukasnya.
Sebagai Toyota Pretty, Ivonne mengaku mendapat honor Rp 500 ribu per shift. Selama IIMS, ia akan bertugas 10 shift. Satu shift berdurasi 8-8,5 jam. Total, dari 80-85 jam jadi Toyota Pretty, ia mengantongi Rp 5 juta. .
Pengalaman Ivonne terbilang mumpuni. Ia, antara lain, pernah jadi SPG sebuah bengkel modifikasi, umbrella girl kegiatan balap di Sirkuit Sentul, bahkan dua kali merebut gelar Miss Autoblack Through Djarum (2005 dan 2007).
Lain lagi cerita Nidya 'Ninis' Anissa, SPG produk ban Dunlop di 16th IIMS 2008. Ia mengaku aktivitas sebagai SPG ini hanya untuk mengisi waktu liburan. "Sekarang kan pas musim libur, ya aku ikut aja. September nanti baru kuliah," ucap dara yang baru saja lulus SMA ini.
Meski terkesan iseng, bekerja sebagai SPG bukan yang pertama bagi Ninis. Sebelumnya, ia pernah jadi SPG sebuah operator telekomunikasi ternama.
Ninis yang per September nanti mulai kuliah di jurusan komunikasi Universitas Indonesia mengatakan, selain honor tetap dari pihak Dunlop, ia juga bakal dapat bonus setiap menjual 10 ban. "Dari total harga 10 ban yang terjual, aku dapat 0,25%. Sekarang, aku baru bisa menjual empat ban, nih," tuturnya.
Seperti Ivonne, Ninis juga akan bertugas 10 shift selama IIMS. Dari setiap shift, ia diganjar Rp 200 ribu. Jadi, total honornya Rp 2 juta plus bonus penjualan.
Begitulah penggalan cerira fatual Ivonne dan Ninis, dua pewangi pembukan pintu rezeki di 16th IIMS 2008. Begitu pula, tentu, para pewangi lain yang tampil di extra vaganza industri otomotif di Tanah Air ini. Mereka melakoni sebuah job temporer yang susah-susah gampang, tapi jelas menjanjikan. [I3]