Minggu, 27 Mei 2012 | 16:19 WIB
Follow Us: Facebook twitter
BI Perpanjang Lelang SBI
Bank Harus Cari Instrumen Lain
Headline
Oleh: Rosdianah Dewi
web - Jumat, 5 Maret 2010 | 16:24 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Langkah Bank Indonesia (BI) yang akan memperpanjang lelang Sertifikat Bank Indonesia (BI) adalah langkah yang tepat. Bank harus mencari instrumen lain kalau kelebihan likuiditas.

Demikian dikatakan Pengamat Pasar Uang Farial Anwar di Jakarta, Jumat (5/3). "Dalam rangka penyerapan uang beredar itu ada instrumen. Jika frekuensi lelang dikurangi, saya rasa tidak ada masalah," ucapnya.

BI sudah menyatakan akan memperpanjang profil jatuh waktu Sertifikat Bank Indonesia (SBI) dengan melakukan lelang dari semula mingguan menjadi bulanan. Perpanjangan lelang tersebut, katanya, membuat investor tidak menumpuk dana di Sertifikat Bank Indonesia (SBI) saja. Bagi bank yang mengalami kelebihan likuiditas dan menempatkan di BI, ada instrumen lain selain SBI.

Selain menempatkan dana di SBI, sebenarnya perbankan juga bisa melakukan Fine Tone Operation/FTO, kontraksi ekspansi pinjaman menarik dana atau menempatkan di pasar uang antar bank (PUAB).

Namun karena SBI bisa dibeli oleh bank bahkan juga investor asing, maka lanjut Farial sebaiknya regulator mengatur pembelian SBI oleh asing tersebut. Pasalnya, jangan sampai dana asing di SBI lebih banyak daripada dana lokal sehingga akan menggoyang kurs Rupiah. "Porsi kepemilikan asing di SBI sebaiknya dikurangi. Hal itu hanya membuat sedih regulator karena BI harus membayar bunga kepada orang asing. Sementara instrumen SBI mengendalikan uang beredar di dalam negeri. Lantas kenapa asing diberikan porsi berlebih dalam SBI sehingga akan menggoyangkan Rupiah sewaktu-waktu," tambahnya.

Seharusnya porsi asing secara bertahap dikurangi setiap kali lelang dan upayakan seminimal mungkin. Sehingga masalah eksternal dan internal tidak serta merta lari ke SBI, karena masih ada pasar saham.

Hingga saat ini, bank juga masih menikmati SBI sebagai salah satu sumber marjin bunga bersih (net interest marjin /NIM). Namun, lanjut Farial, apapun alasan perbankan sebaiknya harus mengurangi penyerapan dana perbankan jangan dibiakkan di BI. Baik melalui SBI atau surat utang negara (SUN) bertenor 1-6 bulan.

"Kita akan mejadi negara tidak bersaing. Karena sektor riil kita akan menghadapi Free Trade Area (FTA) sehingga serbuan China akan besar. Jadi dana perbankan sebaiknya jangan mengendap di SBI/SUN. Lebih baik disalurkan ke sektor riil, biar kita bersaing dengan negara lain," pungkasnya. [hid][[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.