INILAH.COM, Jakarta Nilai tukar rupiah pada perdagangan Senin (8/3) masih berpotensi melanjutkan penguatan. Kondisi politik dalam negeri masih akan mempengaruhi pergerakan mata uang ini lebih lanjut. Analis valas dari Harumdana Berjangka Andri Zakarias memprediksikan, pergerakan rupiah

hari ini akan menguat. Pasalnya, masih ada
rally di bursa saham. Selain itu, juga karena aliran dana masuk yang tinggi, data-data fundamental yang menguat dan inflasi Februari turun. Bahkan, bulan ini kemungkinan akan deflasi. Rupiah akan berada di kisaran 9.200-9.350 per dolar AS, ujarnya ketika dihubungi
INILAH.COM.
Andri memperkirakan, akibat potensi deflasi itu, Bank Indonesia (BI) masih mempertahankan suku bunga pada 6,5%. Kebijakan ini juga diprediksikan masih akan berlangsung dalam jangka waktu lama. Dengan demikian, ada aliran dana masuk ke dalam negeri terutama Surat Utang Negara (SUN). Jadi masih ada
capital inflow, lanjutnya.
Di sisi lain ada kecenderungan penguatan dolar karena belum ada perbaikan signifikan pada data-data perekonomian AS. Terutama tenaga kerja yang masih tinggi meski data pekan lalu menunjukkan penurunan. Kemudian juga ada kemungkinan pemerintah China akan menaikkan suku bunga setelah melakukan pengetatan likuiditas. Hal tersebut dilakukan untuk mengerem pertumbuhan ekonomi yang ternyata masih tinggi juga. Sehingga memberikan sentimen penguatan dolar, kata Andri.
Rupiah sebenarnya memiliki peluang menuju ke level 9.000 per dolar AS. Namun, ketika hendak menembus level 9.200, langsung dibatasi oleh BI. Sebab, BI tak ingin penguatan rupiah menganggu pertumbuhan ekonomi domestik yang bisa menekan ekspor. Juga tak baik untuk bursa saham dan obligasi, pungkasnya.
Farial Anwar, Ketua Currency Management Board memperkirakan, pergerakan rupiah

hari ini akan menguat. Namun, kenaikannya akan terbatas, mengingat 9.200 sudah merupakan level maksimal untuk penguatan rupiah. Rupiah akan bergerak pada kisaran 9.225 hingga 9.270 per dolar AS, katanya ketika dihibungi terpisah.
Sementara pekan ini rupiah akan bergerak pada kisaran 9.225-9.300. Pelemahan dan penguatannya mata uang lokal ini sangat tergantung pada kondisi politik domestik. Meski keputusan dari Sidang Paripurna DPR sudah diketahui, yaitu kebijakan
bailout Bank Century bermasalah, tapi pasar masih menunggu langkah hukum berikutnya. Hal ini akan membutuhkan waktu lama, ujarnya.
Menurut Farial, sentimen penguatan rupiah masih dipengaruh bertahannya suku bunga BI rate di level 6,5%. Tingkat bunga yang tinggi ini memicu pihak asing berbondong-bondong ke Sertifikat Bank Indonesia (SBI) yang
return-nya 6,5%. Level ini sangat menjanjikan dibandingkan suku bunga dolar AS di level 0,25%, paparnya.
Selain SBI, Surat Utang Negara (SUN) pun menjadi sasaran asing menempatkan portofolio mereka yang bunganya jauh lebih tinggi di level 10-11%, bahkan 12%. Jika beralih dari dolar AS di level 0,25% ke SUN, untungnya berkali-kali lipat, di sisi
rate differential, pungkasnya.
Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Jumat (5/3) ditutup menguat 33 (0,356%) terhadap dolar AS menjadi 9.230/9.235. [vin/ast/mdr][[indosat]]