Senin, 28 Mei 2012 | 23:17 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Kasus Pembunuhan Komandan Hamas
Menguak Tabir Mossad
Headline
istimewa
Oleh: Vina Ramitha
web - Minggu, 7 Maret 2010 | 10:02 WIB
INILAH.COM, Jakarta - Badan Intelijen Israel, Mossad, menjadi pusat perhatian setelah pembunuhan Komandan Hamas Mahmoud Mabhouh di Dubai. Mungkinkah kebusukan biro ini terkuak?

Tewasnya Mabhouh membuat Mossad menjadi sorotan internasional. Sejarah panjang mata-mata Zionis ini mulai kembali dikuak. Kecaman mengalir, karena 27 tersangka menggunakan paspor palsu dari lima negara lain. Dosen Ilmu Politik California State University yang juga penulis blog Angry Arab, As'ad Abu Khalil, mempercayai keterlibatan Mossad dalam pembunuhan tersebut. Dan mereka masih saja meremehkan kemampuan Arab sebagai lawannya, ujarnya kepada , Jumat (5/3).

Menurut Khalil, Israel berasumsi pejabat Uni Emirat Arab (UEA), terutama pihak Dubai, takkan menantang aktivitas mereka di emirat (negara bagian) tersebut. Apalagi petenis Israel Andy Ram diperbolehkan bermain di UEA ketika Dubai Championships digelar Februari 2009 lalu. Namun kini beda, karena Dubai telah memiliki Dahi Khalfan Tamim, kepala kepolisan keras kepala yang begitu yakin akan keterlibatan Israel dalam pembunuhan tersebut.

Tamim berkomitmen mengusut tuntas kasus ini. Ia bahkan mengultimatum PM Israel Benjamin Netanyahu, untuk menyeretnya ke pengadilan jika ada bukti keterlibatan Mossad. Israel memang bisa dibilang sangat santai, tak mengeluarkan pernyataan apapun sejak kasus ini ramai dibicarakan. Israel masih menganggap, mereka unggul dalam segala hal terhadap Arab, lanjut Khalil.

Namun kini teknologi sudah canggih dan merata. Tim pembunuh Dubai tak menyangka identitas mereka sudah masuk ke daftar Red Notice polisi internasional, Interpol, dan disebar ke seluruh dunia. Demikian potongan-potongan gambar dari kamera pengawas yang saat ini sedang perlahan dikumpulkan kepolisian, untuk mencari pergerakan para tersangka ketika pembunuhan terjadi.

Zionis itu berasumsi lawan mereka tak berkembang dan tak belajar dari kesalahan masa lalu, imbuhnya.

Aktivitas intelijen Israel dimulai tak lama sejak lama negara itu berdiri, pada 1948 silam. Bangsa Arab sendiri menguaknya pada 1954, akibat kegagalan intel Yahudi yang terbukti keterlibatannya dalam serangan teror terhadap Inggris dan Amerika di Mesir. Ketika dibawa ke persidangan, Israel mengatakan hal tersebut bukan kasus dan balik menuding Kairo berkonspirasi terhadap Tel Aviv.

Namun setelah itu, Menhan Israel yang sedang menjabat, Pinhas Lavon mengundurkan diri karena Mossad memang terlibat. Skandal ini pun dikenal dengan Lavon Affair. Aktivitas Mossad mulai diawasi bangsa Arab ketika mata-mata bernama Elie Cohen terbongkar identitasnya ketika diselundupkan ke Suriah. Cohen hidup di negara itu atas biaya negaranya dan mendapatkan identitas Arab palsu.

Sukses terbesar Mossad diraih ketika membunuh tersangka pelaku serangan yang menewaskan atlit Israel pada Olimpiade Munich 1972. Namun, Mossad sempat melakukan kesalahan pada 1973, ketika menghilangkan nyawa pelayan asal Maroko karena diduga sebagai target.

Blunder yang diciptakan Mossad tak luput dari kegagalan. Namun, pemerintahan Barat selalu melindungan image mata-mata Zionis ini. Bangsa Arab makin membuka matanya terhadap aktivitas Mossad, terutama karena insiden salah tangkap yang menghebohkan pada 2006. Pertengahan tahun itu, jet Israel menyerbu Beirut, di mana Mossad mengklaim menangkap tentara Iran.

Seorang petani Libanon bernama Hassan Nasrallah juga ditangkap, karena diduga bagian dari pemberontak Hizbullah. Media Arab langsung ramai memberitakan dan meragukan kapabilitas Mossad sebagai lembaga intel. Pasalnya, banyak orang Arab yang bernama Hassan Nasrallah dan seharusnya pihak Israel bisa membedakan target mereka.

Meski demikian, saat polisi Dubai menggali setiap petunjuk dalam pembunuhan komandan Mabhouh, Mossad malah menikmati lonjakan lamaran untuk mengisi jabatan. Media Israel melaporkan, pilihan untuk berkarir di Mossad menghadapi popularitas yang tak pernah ada sebelumnya sejak pembunuhan di Dubai.

Jumlah pasti daftar riwayat hidup (CV) yang dikirim ke Mossad tak diketahui. Tapi Mossad tampaknya bukan hanya memerlukan mata-mata dan pelaksana lapangan. Daftar pekerjaan saat ini meliputi ahli mesin mobil yang fasih berbahasa Arab dan Persia, penerjemah, jurumudi, insinyur berijazah dan instruktur kebugaran yang berpengalaman. [ast] [[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.