Minggu, 27 Mei 2012 | 00:48 WIB
Follow Us: Facebook twitter
HMI Makassar Hendaknya Mawas Diri
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh:
web - Minggu, 7 Maret 2010 | 10:26 WIB
Sebagai alumnus HMI Makassar ingin ikut serta berbagi rasa prihatin atas kasus demonstrasi anarkis massa Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Makassar baru-baru ini.

Mengimbau Mahasiswa di Kota Makassar, Sulawesi Selatan,untuk mengedepankan kesantunan dan cara simpatik dalam berunjuk rasa demi menghindari berulangnya bentrok terbuka dengan warga. Ingat, penyampaian aspirasi yang tidak santun, menutup jalan umum, justru menuai antipati warga.

Coba bayangkan, bagaimana kalau di antara kendaraan yang terhadang itu sedang mengangkut orang sakit atau perempuan yang hendak melahirkan? Bagaimana demo/aksi unjuk rasa dengan tujuan "membela" rakyat, justru malah menghambat atau bahkan mematikan ekonomi rakyat kecil?

Karenanya, Mahasiswa perlu berhati-hati saat berunjuk rasa agar gerakannya tidak ditunggangi kepentingan tertentu. Cara berunjuk rasa mahasiswa wajib diubah menjadi lebih santun. Kalau terus-menerus memblokade jalan, warga pun sangat mudah terpancing emosinya karena merasa dirugikan.

Kejadian terakhir (5 Maret) merupakan puncak kemarahan rakyat atas aksi sok pahlawan dari Mahasiswa Makassar yang nampak selalu merasa bangga dengan ciri khas demo premanismenya.

Tuntutan pencopotan Kepala Kepolisian Daerah Sulawesi Selatan dan Barat Irjen Adang Rochajana serta Kepala Kepolisian Wilayah Kota Besar Makassar Komisaris Besar Gatta Chaeruddin sebagai hal berlebihan. Ini satu contoh betapa mahasiswa perlu waspada dan kritis karena masalah terjadi akibat ulah oknum, bukan kebijakan institusi.

Pernyataan Ketua HMI Cabang Makassar yang tegas menolak bermusyawarah jika kedua pejabat Polri tersebut belum dicopot, menunjukan bahwa watak anarkis sudah menjadi jati diri kelompoknya. Kebencian menjadi panglima, sementara nalar dan akhlaq Islami dikesampingkan.

Pelajaran bisa diambil dari Ketua HMI Cabang Semarang, Agus Thohir yang tegas-tegas mengecam kekerasan yang dilakukan antara HMI Makassar dan kepolisian.

Dengan jujur dirinya mengakui sebagai anak muda sering melakukan tindak arogansi. Selain itu juga berani mendeklarasikan bahwa HMI Semarang melawan segala bentuk kekerasan yang terjadi di manapun dan juga ingin agar aksi kekerasan di Makassar tidak merusak citra baik HMI.

Pelajaran ini penting bagi penghapusan budaya solidaritas buta di kalangan Mahasiswa. Saya setuju dengan Rektor Universitas Hasanuddin Idrus Paturusi bahwa sah-sah saja mahasiswa emosional. Namun, mahasiswa mestinya memahami bahwa kerusuhan beberapa hari terakhir dipicu sesuatu yang tidak wajar.

Sikap warga yang mendahului pelemparan batu dalam unjuk rasa di Universitas Islam Negeri Alauddin dan Universitas Negeri Makassar patut dicurigai bermisi provokasi yang menjurus pada situasi rusuh.

Kalau terus-menerus berunjuk rasa dengan cara kurang simpatik, isu sentral pergerakan jadi bergeser dan sangat mudah dimanfaatkan pihak tertentu.

Pernyataan Ketua Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Sulawesi Selatan Amran Razak yang meminta mahasiswa mengelola semangat saat berunjuk rasa, patut dijadikan bahan mawas diri.

Benar, bahwa kehebohan diperlukan untuk menarik perhatian media. Namun, mahasiswa sebaiknya tidak membuang energi untuk hal-hal yang tidak perlu dalam kondisi yang mudah dimanfaatkan, tanggung jawab moral sebagai mahasiswa yang lebih mengutamakan dialog hendaknya menjadi prioritas dalam melakukan aksi unjuk rasa.

Andi Basso
andi_basso@yahoo.com
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
3 Komentar
helmi
Senin, 8 Maret 2010 | 12:45 WIB
yang melakukan demo sampai ujung2nya anarkis ini, paling2 mahasiswa yang tidak niat kuliah tau yang nilainya pas2-an dan yang bisanya cuma menghabiskan duit orang tuanya saja. percuma sekolah,bukannya tambah pintar tapi tambah bodoh dan bikin malu dunia pendidikan
hari zam
Senin, 8 Maret 2010 | 10:38 WIB
Mahasiwa skr sudah keterlaluan masa menyampaikan aspirasi Rakyat dngan cara rusuh n anarkis...rakyat yg mana yg anda bela....santun dikit knpa....lht akibat klakuan anda...bnyak fasilitas umum yg rusak....lht di maksar tuh bkn dapat simpati dari masyarakat malah anda mendapatkan perlawanan dr warga....
Akin
Senin, 8 Maret 2010 | 09:23 WIB
Goods........komentar anda mencerminkan sosok tauladan..
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.