Minggu, 27 Mei 2012 | 00:48 WIB
Follow Us: Facebook twitter
Aksi Mahasiswa (rusuh) Musuh Masyarakat
Headline
inilah.com/Wirasatria
Oleh:
web - Senin, 8 Maret 2010 | 08:47 WIB
Demonstrasi berujung ricuh yang terjadi di Makassar sangat disesalkan. Mahasiswa, yang seharusnya menyuarakan nurani masyarakat, malah menjadi musuh masyarakat.

Mereka memblokade jalan dan terlibat perang batu melawan orang-orang kecil, seperti tukang becak dan sopir angkot. Aksi memalukan ini justru mengundang kebencian sekaligus menggagalkan tujuan demo itu sendiri.

Dipelopori oleh aktivis sejumlah organisasi, seperti HMI, unjuk rasa itu sebenarnya bertujuan mulia: mendorong pengusutan kasus Bank Century. Tapi para mahasiswa Makassar bertindak nekat. Mereka menutup jalan-jalan yang menghubungkan Kabupaten Gowa dengan Makassar.

Selama beberapa jam, mahasiswa melarang siapa pun melintasinya. Mereka membakar ban-ban bekas untuk menghalangi warga lewat.

Bisa dibayangkan kerugian ekonomi yang terjadi. Masuk akal jika warga--terutama orang kecil--tak bisa lagi menahan emosinya. Sopir, pedagang kaki lima, dan tukang becak--mereka yang seharusnya dibela mahasiswa--justru bersatu padu melawan mahasiswa. Tak hanya dengan masyarakat, mahasiswa juga bermusuhan dengan polisi. Permusuhan ini meledak dan meluas setelah ada anggapan bahwa kantor HMI di Makassar diserang oleh aparat kepolisian.

Mungkin saja para mahasiswa terprovokasi. Tapi seharusnya mahasiswa tidak gampan terpancing karena yang dirugikan adalah mereka sendiri. Akibat demonstrasi yang anarkistik, tujuan mereka menggelindingkan terus kasus Century justru tak tercapai. Soalnya, masyarakat justru muak melihat aksi brutal yang berlangsung selama berhari-hari itu.

Aktivis mahasiswa mestinya juga mencermati betul isu yang diperjuangkan. Sungguh keliru jika kasus Century dianggap sebagai isu yang benar-benar mewakili kepentingan masyarakat luas.

Sebab, isu ini bergulir lebih karena didorong oleh kepentingan para politikus Senayan untuk melengserkan Boediono dan Sri Mulyani. Kedua petinggi ini dinyatakan "bersalah" secara politik, tapi itu belum terbukti secara hukum.

Tidaklah sulit mengharapkan simpati publik jika isu yang digelindingkan mahasiswa menyangkut kepentingan masyarakat luas. Kita jadi ingat "masa-masa indah" gerakan mahasiswa di Yogyakarta dan Jakarta pada 1998 saat menyerukan penurunan Soeharto.

Saat itu mahasiswa dan warga bahu-membahu. Bahkan, di Yogya, ibu-ibu secara sukarela menyediakan makanan-minuman gratis di pinggir jalan.

Mahasiswa Makassar harus berintrospeksi. Mestinya mereka sadar bahwa tindakan anarkistik hanya akan mencoreng gerakan mahasiswa Indonesia. Tugas mahasiswa sebagai kaum intelektual justru mengikis habis budaya kekerasan, bukan melestarikannya.

Perlu pula dibuang jauh-jauh kebanggaan konyol bahwa yang membedakan demo di Makassar dengan di kota lainnya adalah keberanian berkelahi.

Sekali lagi, aksi-aksi semacam ini jelas tidak bermutu dan justru menjadi musuh rakyat.


WORO SEMBODHRO
Baciro, Yogyakarta (worosembodhro@yahoo.com)
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !. Kini hadir www.inilah.com di gadget Anda , dapatkan versi Android di Google Play atau klik http://ini.la/android dan versi Iphone di App Store atau klik http://ini.la/iphone
5 Komentar
trie
Kamis, 11 Maret 2010 | 10:40 WIB
bung alex,gimana kalau anda mau mencari nafkah tapi jalan di blokir, ini bukan maslah intel atau bukan, ini sudah menyangkut hajat hidup orang banyak.. sekali lagi berfikir sehat dong..
andre
Rabu, 10 Maret 2010 | 09:21 WIB
....kalopun tak ada perusakan markas hmi pun...yang namanya blokade jalan apalagi sampai rakyat pengguna tak boleh jalan...itu sudah melanggar HAM.... mas mahasiswa....dah anda gak usah berdebat pembenaran diri cara cara blokade jalan..rakyat yang pasti dirugikan secara ekonomi...niscaya rakyat tak akan simpati lagi sama anda mas mahasiswa....
I Komang Suyasa
Selasa, 9 Maret 2010 | 09:52 WIB
Pergerakan mahasiswa sekarang banyak didasari kepentingan politik. Seharusnya mereka mengerti isu yg diangkat. Untuk century, mereka harus paham bahwa isu ini lebih banyak muatan politiknya, perebutan kekuasaan. PKS pingin posisi wapres, Golkar pingin Menkeu. Saya juga yakin demo HMI diintruksikan oleh senior mereka di dua partai tsb.
koben
Senin, 8 Maret 2010 | 15:25 WIB
Aktor intelektual telah bekerja dengan baik. Image mahasiswa semakin 'tersudut' jika mahasiswa terus2an terpancing, maka Penguasa akan menemukan "DALIH" kuat untuk menghancurkan dan membungkam gerakan mahasiswa seterusnya. Karena dianggap telah Mengganggu ketertiban dan berbuat anarkis yg melanggar hukum, dan rakyat yg "muak" tidak lg simpatik dan membela mahasiswa. ENDINGNYA : selamat datang ORBA jilid II...hati2 kawan-kawan ku...Jangan kalah pintar dari "AKTOR INTELEKTUAL"
Alex
Senin, 8 Maret 2010 | 12:03 WIB
pernyataan saudara sangat tendensius dan tidak sesuai dengan fakta yang ada, anda mengatakan masyarakat, ? masyarakat yang mana yeng membenci aksi mahasiswa? yang sebenarnya terjadi adalah intel yang di organisir untuk melawan mahaiswa dengan mengatasnamakan masyarakat, SEKALI LAGI INTEL. OKE
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.