INILAH.COM, Abu Dhabi - Prospek perdamaian Timur Tengah, terutama Palestina-Israel, bergantung pada bagaimana Negara Yahudi itu bereaksi dan mengambil sikap terhadap langkah paling akhir yang diajukan dunia Arab.
Anggota Liga Arab dan juga Palestina berulang kali menyampaikan janji mendukung pencapaian perdamaian dengan Israel berdasarkan rencana proses perdamaian Arab yang menyerukan solusi dua-negara dengan perbatasan sebelum perang 1967, demikian sebuah artikel di harian berbahasa Inggris Gulf News, seperti dilansir Xinhua, Senin (8/3).
Dalam pertemuan baru-baru ini, para menlu negeri anggota Liga Arab menyetujui rencana memprakarsai pembicaraan perdamaian tak langsung antara pihak Palestina dan Israel. Langkah tersebut diharapkan memberi dorongan bagi proses perdamaian setelah terhenti cukup lama.
Liga Arab menyetujui usul yang didukung AS itu yang telah diberi kerangka waktu selama empat bulan. Kedua pihak dijadwalkan memulai pembicaraan menyusul lawatan utusan AS untuk Timur Tengah George Mitchell.
Namun, pertanyaan yang muncul bukan mengenai meyakinkan dunia Arab tentang pentingnya perdamaian atau membicarakan pihak Palestina ikut membuat perjanjian. Sebab itulah, tak berguna sama sekali jika AS terus mendorong pihak itu saja. Israel hendaknya ditekan agar mau ikut dalam proses perdamaian, lanjutnya.
Bentrokan-bentrokan antara pasukan Israel dan warga Palestina yang beribadah di halaman Masjid Al Haram Al Sharif, akhir pekan lalu. Ini merupakan indikasi bagaimana Israel terus bertindak sebagai pasukan pendudukan. Presiden Palestina Mahmoud Abbas memperingatkan bahwa provokasi ini bisa mengarah ke perang agama di kawasan.
Harian tersebut juga menyatakan, jika Israel masih bersikap keras kepala atas rencana itu, mungkin sudah waktunya dunia Arab juga menghentikan semua keterikatan, dialog dan usaha untuk mencapai perdamaian. [*/vin]