inovasi portal berita
Sabtu, 11 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,993.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Noynoy, Pemimpin Simpatik yang Pragmatik

Headline
Oleh: Karim Raslan
Senin, 8 Maret 2010 | 10:54 WIB
SETELAH menyaksikan krisis Bank Century yang tak berkesudahan, warga Indonesia pasti paham bahwa tiga minggu adalah waktu yang sangat lama dalam politik.

Filipina sedikit berbeda. Dalam 21 hari terakhir, Senator Benigno 'Noynoy' Aquino III, kandidat presiden unggulan, dengan sabar telah membenahi kampanye yang awalnya kacau.

Bersama calon wakil presidennya, Senator Max Roxas (satu lagi anggota sebuah dinasti politik), dengan sabar Noynoy telah berhasil mengendalikan sebuah kumpulan yang tadinya sulit disatukan, yang terdiri dari aktivis LSM, akademisi, orang-orang kiri dari partai Liberal dan 'pembenci' Presiden Gloria Macapagal Arroyo.

Dengan tindakannya itu, Noynoy membuktikan tiga nilai karakter penting: keyakinan dan kepercayaan diri yang tidak banyak omong, pemikiran rasional dan hati-hati, serta keteguhan untuk tidak terlibat dengan berbagai kepentingan bisnis dan politik.

Saat bertemu dengan Noynoy dalam kampanye di Tacloban, Leyte kampung halaman Imelda Marcos, yang suaminya, Ferdinan, adalah musuh besar klan Aquino saya terkejut melihat betapa dia adalah sosok santun dan simpatik. Tidak seperti yang banyak orang pikir, putra Cory Aquino ini adalah pemimpin pragmatik dan mementingkan proses.

Namun, tidak bisa disangkal bahwa sifatnya ini sempat tertutup bayang-bayang kenaikannya yang begitu mendadak dalam kancah politik Filipina dia langsung mendapat sorotan ketika ibundanya meninggal karena kanker tahun lalu.

Terlebih lagi, warisan garis Aquino ini jatuh ke pundak Noynoy pada saat yang benar-benar tepat, ketika negara ini sedang bersiap menjelang pemilu presiden yang berikut. Bermacam tragedi keluarga yang telah menimpanya waktu umurnya 23 tahun, ayahnya, Benigno, Jr. ditembak di landasan bandara Manila tahun 1983 telah membuat Noynoy tidak terlalu ingin mencalonkan diri menjadi presiden. Apalagi dia juga hampir terbunuh pada saat pemerintahan ibunya, ketika tiga pengawalnya tewas. Peluru dari serangan ini masih bersemayam di tenggorokannya.

Ketika bertemu langsung, Noynoy sangat ramah dan bicaranya lugas. Sosoknya sama sekali tidak tampak seperti 'putra mahkota'. Ketika ditanya mengenai kebijakan open skies untuk Filipina yang ingin dijalankannya, dia menjelaskan alasannya secara bertahap.

Perhatian saya yang paling utama adalah kesejahteraan rakyat saya. Mereka butuh pekerjaan. Industri manufaktur kita semakin lemah. Pasta gigi dan shampo saja kita impor dari Thailand! katanya.

Jadi apa opsi kita? dia bertanya.
Menurutnya, outsourcing proses bisnis dan pariwisata adalah area pertumbuhan yang penting. Lihat saha Leyte dan Samar. Hotel-hotel di sana tidak memadai, dan infrastrukturnya parah.

Saya kagum dengan Bali. Pulau tujuan wisata ini telah berkembang dari beberapa ratus ribu wisatawan saja, hingga berhasil menyedot tiga juta wisatawan, sebagian karena kebijakan open skies. Filipina harus melakukan pendekatan yang sama. Kita harus memberi kemudahan bagi wisatawan berkunjung, dengan memperbaiki jalan-jalan dan bandara-bandara kita.

Jawaban Noynoy juga sama gamblangnya ketika ditanya tentang jutaan tenaga kerja Filipina di luar negeri.
Ya, mereka memang menghasilkan jutaan peso untuk Filipina (saat ini tercatat US$1,5 miliar per bulan), katanya. Tapi, ada kerugian sosial. Begitu banyak keluarga terpisah, anak-anak harus tumbuh tanpa orangtua mereka.

Kita harus menciptakan lapangan pekerjaan di negara kita sendiri. Kita harus berusaha menurunkan tarif listrik, memperbaiki infrastruktur dan menegakkan hukum, katanya.

Sebagai tetangga dekat China dan sekutu Amerika Serikat sejak lama, Noynoy menerapkan sikap berdamai. Kita harus mencari cara untuk mempertahankan hubungan dengan teman lama kita [Amerika Serikat], sekaligus bekerjasama dengan kekuatan-kekuatan baru, dengan cara yang saling menguntungkan. Saya pikir perusahaan-perusahaan China sudah menyadari kompleksitas pasar Filipina, setelah masalah ZTE, jelasnya, mengacu pada skandal yang melibatkan suami Arroyo dan ZTE, perusahaan China yang ingin menyediakan jaringan broadband nasional di Filipina, sebelum permainan kotor di belakangnya terkuak.
Noynoy memang telah diuntungkan oleh warisan kekuatan keluarganya. Tapi jangan lantas berpikir kalau dia tidak punya ide dan substansi. Terlepas dari garis keturunannya, kandidat berusia 50 ini telah melalui hidup yang keras dan traumatik.
Hal itu telah membuatnya kuat dan mempersiapkannya untuk menghadapi pertarungan pemilu yang sengit dengan konglomerat properti, Manuel Villar. Bila Noynoy keluar sebagai pemenang tanggal 10 Mei nanti, integritas dan kecerdasannya akan memajukan Filipina dan mengejutkan negara-negara tetangganya. [mor]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.