INILAH.COM, Jakarta Paparan publik industri peritel PT Matahari Putra Prima (MPPA) akhir pekan lalu membawa harapan. Terutama karena fokus bisnis perseroan pada sektor makanan. Seperti apa? Achmad Nurcahyadi, analis BNI Securities mengatakan, di tengah flatnya bisnis fashion di PT Matahari Department Store (
LPPF), PT Matahari Putra Prima (
MPPA) mempunyai kesempatan menggunakan momentum ini untuk menggenjot bisnis makanan.
Terlepas dari LPPF bertumbuh atau tidak, Hypermart sedikit banyak akan menyumbangkan pendapatan, katanya kepada
INILAH.COM, Senin (8/3).
Menurutnya, meksipun pertumbuhan Matahari Food Business (MFB) lebih pesat, pendapatan Matahari Departemen Store (MDS) selama ini lebih tinggi.
Karena itu, stagnannya bisnis fashion LPPF menjadi momentum untuk menggenjot bisnis makanan. Diharapkan kontribusi MFB yang lebih tinggi pada pendapatan PT Matahari Putra Prima (
MPPA) dibandingkan MDS, ujarnya.
Seperti diketahui, Matahari Putra Prima berencana menjual seluruh saham pada salah satu bisnis utamanya, Matahari Department Store kepada CVC Capital Partners (CVC) melalui Meadow Asia Company Limited (MAC) senilai Rp7,2 triliun.
Meskipun LPPF dijual, namun imbasnya akan tergantung apakah aksi ini dikonsolidasikan dalam laporan keuangan MPPA mendatang atau tidak. Jika penjualan LPPF dimasukkan dalam laporan MPPA, maka perhitungannya tidak akan banyak berubah. Yang disayangkan, jika dikonsolidasikan, ternyata tidak memberikan dampak yang signifikan,ulasnya.
Sebaliknya, jika penjualan LPPF tidak dimasukkan dalam laporan keuangan MPPA, akan ada penurunan saham dan pembaginya semakin kecil. Alhasil,
earning per share (EPS) maupun
price earning (PE) MPPA akan semakin menarik.
Selain MDS yang lebih bagus pertumbuhannya dibandingkan ritel, pendapatan yang positif juga akan membuat valuasi MPPA lebih baik. Semua itu tergantung pada penurunan jumlah floating, kenaikan laba bersih, dan pengaruhnya ke EPS ataupun PE serta nilai
price book value (PBV), imbuhnya.
MPPA akan mengembangkan bisnis hypermart ke depan, dengan membangun 10 hingga 15 gerai per tahun dengan lokasi yang tepat. Perseroan pun mengganggarkan belanja modal sekitar Rp900 miliar untuk pembukaan gerai hypermart, mengembangkan sistem IT dan existing bisnis Matahari yang sudah ada.
Achmad menilai, hal ini positiif. Apalagi secara keseluruhan kinerja Matahari cukup efisien, ketimbang peritel sejenisnya. Dengan toko yang sedikit, pendapatan MPPA cukup besar. Berbeda dengan Ramayana yang tokonya banyak, namun revenuenya sedikit, ulasnya.
Namun, imbuhnya, ada juga sisi negatifnya yakni utangnya perseroan yang cukup tinggi. Matahari juga kurang mampu fokus pada usaha yang sudah menjadi expertise-nya. Salah satunya, departemen store yang berusaha masuk ke pangsa pasar Mitra Adi Perkasa. Dari sisi ini Matahari kurang, sehingga galerinya tidak berhasil, imbuhnya.
Di sisi lain, dana hasil penjualan MDS sebagian besar akan digunakan untuk membayar utang perseroan, dengan alolasi dana mencapai Rp 3,4 triliun. Saat ini outstanding loan perseroan mencapai Rp 3,5-4,2 triliun karena fluktuasi bunga.
Sebanyak Rp1,8 triliun akan digunakan untuk melunasi obligasi dolar AS dan Rp500 miliar dalam bentuk obligasi rupiah. Jatuh tempo obligasi tersebut jatuh pada 2011.
Sementara itu, utang perseroan kepada delapan bank mencapai Rp 300-400 miliar. Bank-bank tersebut di antaranya, PT Bank Negara Indonesia (BNI), PT CIMB Niaga, PT Bank HSBC, dan PT Bank Mizuho.
Achmad menilai, aksi MPPA untuk mengenerate utang merupakan hal positif. Mekipun ia menyayangkan hal ini tidak diikuti peningkatan pendapatan yang signifikan, misalnya berutang 10 ribu, hanya bisa berjualan 10 ribu. Dari sisi managemen liabilitisnya harus diperbaiki. Ada perbandingannya dari utang yang harus dibentuk, apakah dari ekuti, obligasi, atau pinjaman bank, ujarnya. [ast/mdr]