INILAH.COM, Jakarta - Pada penutupan perdagangan Senin (8/3) Rupiah berada di kisaran 9.175 atau menguat 55 poin dibanding penutupan pekan lalu 9.230.
Hal itu disampaikan Direktur Currency Management Farial Anwar saat dihubungi INILAH.COM, Senin (8/3). Fahrial mengatakan, serbuan hotmoney yang terus masuk ke Indonesia sehingga memberikan penguatan terhadap rupiah. Penempatan instrumen yang memberikan return tinggi seperti saham,surat utang negara, surat berharga Indonesia dan saham menjadi daya tarik investor.
"Dengan serbuan hotmoney pasti ada konversi dari dolar AS ke rupiah sehingga rupiah menguat cukup bagus di bawah 9.200," kata Farial.
Sementara itu, pasar modal regional relatif menguat yang berdampak penguatan indeks saham Indonecia mencapai level 2.600. Sehingga rupiah juga alami penguatan. Fahrial mengatakan, dengan adanya asing masuk ke Indonesia memberikan sentimen positif ke rupiah dan pasar modal. Sedangkan hasil pansus century sudah tidak menjadi faktor kekuatiran pelaku pasar. Ia memperkirakan, rupiah di kisaran 9.150-9.225.
Farial memprediksikan, rupiah akan menguat pada perdagangan Selasa (9/3). Bila rupiah tembus di bawah 9.200 maka kemungkinan pembelian rupiah lebih banyak. Fahrial berharap, pembelian rupiah tidak terlalu banyak. Menurutnya, Bank Indonesia tetap mempertahankan suku bunga 6,5% menjadi daya tarik investor. "Capital inflow akan terus masuk ke Indonesia sehingga ada potensi rupiah lanjutkan penguatan," tambah Fahrial.
Selain itu, krisis ekonomi Yunani memberikan potensi bagi emerging market. Fahrial mengatakan, krisis ekonomi Yunani yang terjadi dikuatirkan berdampak ke negara lain, sehingga investor melirik emerging
market. [hid]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !