INILAH.COM, Jakarta Meski terbilang baru dalam percaturan politik, keberanian Lili Wahid terus berkibar. Terutama setelah membelot dari fraksinya dalam voting yang mendapat sorotan publik.
Bernama lengkap Hj. Lili Chodidjah Wahid, perempuan kelahiran Jombang 4 Maret 1948 silam ini bersikukuh memilih opsi C pada voting terbuka di lanjutan Rapat Paripurna mengenai penetapan kesimpulan laporan Panitia Angket DPR RI tentang Pengusutan Kasus Bank Century. Lili menyakini proses bailout Bank Century itu menyimpang.
Namun, partainya yaitu PKB, yang merupakan pendukung partai penguasa, mengeluarkan kebijakan yang cenderung membiarkan pelanggaran hukum. Lili pun menolak mengikuti fraksinya yang memilih atas alternatif dua yang menggabungkan opsi A dan C. Ini adalah suara hati nurani, dan saya meyakini sebagai kebenaran, tegasnya.
Menjadi berbeda, bukan perkara gampang. Selain aksinya dikatakan sebagai tindakan indispliner partai, Lili dikucilkan di komunitasnya. Saya cuma melihat perubahan sikap mereka kepada saya, dalam artian sampai ketemu saja tidak mau salaman. Buat saya tidak masalah, toh yang dinilai orang bukan saya tapi mereka sendiri, katanya, baru-baru ini.
Menurut Lili, perbedaan pendapat itu sebenarnya merupakan hal lumrah dalam suatu relasi. Ia pun mengambil contoh Bung Karno, yang ketika suatu masa sempat mengobarkan ganyang Amerika. Namun, tetap berkawan dengan para duta besar Amerika. Dari saya muda, contoh seperti itu menunjukkan perbedaan pendapat seharusnya tidak membawa masalah dengan perkawanan,tuturnya.
Sementara terkait tudingan Ketua PKB Muhaimin Iskandar bahwa Lili memiliki kelainan, ibu beranak tiga ini justru mengatakan, dirinya hanya ingin memperbaiki kondisi komunitasnya yang dianggapnya memiliki masalah, karena cenderung berideologi pragmatisme. Tak tanggung-tanggung Lili pun menyindir sang ketua.
Seharusnya kalau Muhaimin cerdas, dia melihat itu sebagai pelengkap, dia cuma ke atas. Ya udah di bawah dilengkapi. Karena pragmatisme itu, hilang sudah ideologi awal PKB. Pasti ke depan akan menurun popularitas PKB karena tidak memahami keinginan arus bawah, konsituennya sendiri, keluhnya.
Lili memang dikenal kritis terhadap kebijakan pemerintah yang dianggap merugikan masyarakat. Bersama politisi perempuan dari partai lain, Lili menjadi inisiator koalisi politisi perempuan di parlemen. Demikian pula saat mencuat skandal Bank Century, Lily bersama delapan anggota DPR dari lintas fraksi berinisiatif membentuk Tim Sembilan.
Tim inilah yang menggagas usulan penggunaan hak angket DPR untuk mengusut kasus pengucuran dana Rp6,7 triliun ke Bank Century. Langkah Lili ini merupakan gebrakan, mengingat tidak ada satupun politisi PKB yang berani menyatakan mendukung Pansus Century, apalagi menjadi inisiator.
Pelbagai upaya pun dilakukan untuk menjegal Lili. Salah satunya adalah dengan tidak menyertakannya dalam pansus Bank Century. Namun, Lili tetaplah Lili, yang tak hilang semangatnya.
Saya sudah hitung dari awal tidak mungkin dimasukan dalam pansus, karena mulut saya tidak bisa di rem oleh fraksi atau DPP. Bagi saya kalau sudah kebenaran ya kebenaran tidak bisa ditawar, ujarnya panjang lebar.
Adik kandung mendiang Gus Dur ini merasa, menyuarakan kebenaran adalah kewajibannya yang hakiki sebagai warga negara. Oleh karena itu ia tidak gentar sekalipun dikenakan sanksi.
Silahkan sanksinya apa saja. Saya menunggu sanksi itu, dipecat sekalipun karena menurut saya kebenaran itu mahal kalau harus dibeli dengan pemecatan. Silahkan! Dunia yang akan menilai, tukasnya.
Meski terhitung baru dalam kancah politik nasional, Lili sudah lama mengenal politik. Ketika masih berusia sekitar 19 tahun, Lili sempat dicalonkan menjadi anggota DPR. Namun dia memutuskan membatalkan pencalonan karena sudah banyak anggota keluarganya yang menjadi caleg. Tak heran, mengingat Ia lahir dari keluarga Wahid Hasyim yang dekat dengan aktivitas politik.
Namanya baru mulai dikenai publik ketika memilih mendukung kepengurusan PKB hasil Muktamar Ancol awal 2008 yang mencuatkan Muhaimin Iskandar dan Lukman Edy masing-masing sebagai ketua umum dan sekjen.
Kala itu, Lily berseberangan dengan kakaknya, Gus Dur. Karena jasanya itulah Lily Wahid selanjutnya ditempatkan sebagai Wakil Ketua Dewan Syuro DPP PKB. Pada Pemilu 2009, Lili selanjutnya melenggang ke DPR setelah memenangkan pertarungan di daerah pemilihan (Dapil) Jawa Timur II. [ast/mdr]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi
di sini
atau akses mobile langsung
http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !