INILAH.COM, Jakarta Rencana kenaikan harga elpiji telah meresahkan masyarakat. Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pun merosot. Sudah seharusnya pemerintah lebih adil dalam pengelolaan energi domestik. Survei konsumen BI mengungkapkan, IKK pada Februari 2010 tercatat turun 5,2 poin menjadi 105,3. Penurunan dipicu kondisi ekonomi makro enam bulan mendatang yang lebih rendah terutama dipicu ekspektasi konsumen terhadap rencana pemerintah menaikkan harga gas elpiji.
Pengamat energi dan perminyakan Kurtubi mengatakan, permasalahan kenaikan gas elpiji secara umum tidak bisa dilepaskan dari anjloknya produksi minyak nasional. Padahal, secara khusus, Indonesia memiliki stok gas yang melimpah di Irian Jaya. Hanya saja, gas tersebut dijual dengan harga yang sangat murah ke China senilai US$3,35 sen per mmbtu.
Keadaan itu, menurutnya, sama artinya dengan mensubsidi rakyat dan industri di China sebagai konsumen. Sementara konsumen dalam negeri menjerit-jerit, seperti gas untuk pabrik pupuk, keramik, dan listrik, katanya kepada
INILAH.COM, di Jakarta, Selasa (9/3).
Bahkan, lanjut Kurtubi, PT Pupuk Iskandar Muda di Aceh, berani membeli gas di atas harga US$7 per mmbtu. Sementara gas dari Tangguh, dijual senilai US$3,35 sen per mmbtu ke China. Harga jual gas elpiji untuk rakyat miskin 3 kilo gram dalam satuan kalori juga jauh lebih mahal ketimbang gas Tangguh itu.
Begitu juga dengan gas 12 kg, yang saat ini dijual Rp70 ribu per tabung yang harganya di kisaran US$10 per mmbtu. Rakyat mengkhawatirkan elpiji akan dinaikkan sementara penjualan gas ke China tidak dibenahi. Gas rakyat yang sudah mahal, itupun akan dinaikkan. Ini tidak
fair, tukasnya.
Sementara penjualan LNG Badak di Kalimantan Timur ke Jepang, dalam pekan ini harganya sudah mencapai US$13 per mmbtu. Hal ini dipicu kenaikan harga minyak mentah dunia ke level US$82 per barel

, ungkapnya.
Di sisi lain, pemerintah mengakui penjualan gas Blok Tangguh, ke China merugikan rakyat. Hal ini terbukti, dengan dibentuknya tim renegosiasi dengan pihak China. Masalahnya, sampai detik ini tidak ada kabar apapun dari renegosiasi itu. Tidak pernah dilaporkan ke rakyat apa hasil kerjanya, timpalnya.
Ia meragukan, apakah China mau menaikkan harga beli dari level US$3,35 sen per mmbtu ke angka US$13. Penjualan ke Jepang sangat dinamis mengikuti pergerakan harga minyak. Sedangkan penjualan ke China terikat kontrak.
Kurtubi berpendapat, jika pihak China tidak mau menaikkan harga beli gas Blok Tangguh, lebih baik dialokasikan ke pasar domestik. Alhasil, harga elpiji pun tidak perlu naik. Jika gas Tangguh dijual dengan harga elpiji 12 kg di level US10 per mmbtu, pemerintah bukan subsidi, justru akan untung, imbuhnya.
Karena itu, imbuhnya, pemerintah tidak perlu menaikkan harga elpiji, jika manajemen gas nasional dikelola secara benar. Sumber-sumber gas dalam negeri harus diatur untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Kurtubi menekankan, perminyakan nasional secara keseluruhan harus dibenahi. Sebab, model pengelolaan selama ini sangat merugikan rakyat. Ia meminta pemerintah untuk tidak menaikkan harga elpiji sebelum berhasil menaikkan harga jual gas ke China.
Dengan kata lain, pemerintah harus berhenti mensubsidi konsumen dan rakyat China dengan murahnya penjualan gas. Subsidi itu harus diberikan ke rakyat sendiri, pungkasnya. [mdr] [[indosat]]