inovasi portal berita
Selasa, 7 Februari 2012 Follow: Facebook twitter Dollar Kurs BI: 1 US Dollar = Rp.8,998.00   Mobile Mobile   Newsletter Newsletter   RSS RSS

Dolar Tertekan, Peluang Bagi Rupiah

Headline
inilah.com/Agung Rajasa
Oleh: Natascha & Ahmad Munjin
Rabu, 10 Maret 2010 | 08:14 WIB
INILAH.COM, Jakarta Rupiah pada perdagangan Rabu (10/3), diprediksikan menguat. Hal ini disebabkan faktor eksternal, yakni tekanan pada dolar AS.

Analis valas Monex Investindo Rizal Kawengian memprediksi, penguatan rupiah masih akan berlanjut hari ini. Pemicunya berasal dari faktor eksternal, terutama pelemahan dolar AS akibat lonjakan harga minyak mentah ke US$82 per barel. Rupiah akan diperdagangkan pada kisaran 9.180-9.250 per dolar AS, katanya kepada INILAH.COM, Selasa (9/3) petang.

Kendati demikian, dolar masih dominan terhadap euro dan mata uang Eropa lain karena perbaikan pada data tenaga kerja AS. Selain itu masih adanya ganjalan terkait masalah Yunani. Kondisi ini menjadikan dolar tidak menarik lagi, dan investor pun berbondong-bondong ke Asia. Jika kondisi Eropa masih buruk, global fund akan beralih ke Asia. Rupiah pun berpotensi menembus 9.100 pada akhir pekan, seiring kuatnya aliran dana asing ke Asia, paparnya.

Lebih lanjut ia memaparkan, kekhawatiran adanya inflasi, menyebabkan bank-bank menaikkan suku bunganya. BI pun mengantisipasinya dengan memperketat likuiditas, mengikuti sejumlah negara Asia lain. Caranya adalah dengan mengubah kebijakan lelang SBI mingguan menjadi bulanan. Ini menyebabkan bank melepaskan banyak kredit. Kika tak bisa menempatkan kelebihan likuiditas karena harus menunggu bulanan, maka bank akan melempar kredit, ulasnya.

Rizal mengatakan, meski tidak berdampak langsung, tapi pengetatan ini berdampak bagus karena mampu menopang penguatan mata uang rupiah. Imbasnya pun secara fundamental baik bagi rupiah. Ini merupakan cara untuk mengendalikan inflasi oleh BI, pungkasnya.

Di sisi lain, Albertus Christian K, periset dan analis senior di tempat yang sama menambahkan, pelemahan dolar AS hari ini dipicu rilisnya data-data penting di Eropa siang nanti. Salah satunya adalah data consumer price index (CPI) di Eropa yang menjadi salah satu indikator inflasi. Angka CPI dieskpektasikan belum akan ada perubahan di level 0,2%, ucapnya.

Karena itu, suku bunga acuan negara-negara Uni Eropa pun belum akan dinaikkan dari level 1%. Inflasi Eropa masih rendah, dibandingkan Indonesia yang hampir mencapai 4% year on year. Keaadan ini tetap mendukung arus capital inflow akibat tingginya differensiasi BI rate dengan suku bunga Uni Eropa, ujarnya.

Kamis (11/3) besok, Bank Central Eropa/European Central Bank (ECB) akan merilis laporan lengkap terkait inflasi, penetapan suku bunga, dan pertumbuhan ekonomi. Tapi dari sisi harga barang dan jasa yang beli konsumen yaitu CPI, menunjukkan stagnasi sehingga sentimennya tetap pelemahan dolar dan penguatan rupiah, imbuhnya.

Apalagi, BI rate berpeluang dinaikkan dari level 6,5% seiring ekspektasi semakin tingginya inflasi. Hal ini mendapat topang dari positifnya pertumbuhan ekonomi domestik, sehingga memicu capital inflow dan apresiasi rupiah.

Kurs rupiah di pasar spot valas antar bank Jakarta, Selasa (9/3) ditutup melemah tipis 17 poin (0,185%) terhadap dolar AS menjadi 9.190/9.200. [vin/ast/mdr] [[indosat]]
Dapatkan berita populer pilihan Anda gratis setiap pagi di sini atau akses mobile langsung http://m.inilah.com via ponsel dan Blackberry !
0 Komentar
Belum ada komentar untuk berita ini.
Kirim Komentar
Nama :
Email :
Komentar :
Silahkan isi kode keamanan berikut

Komentar akan ditampilkan di halaman ini, diharapkan sopan dan bertanggung jawab.
INILAH.COM berhak menghapus komentar yang tidak layak ditampilkan.
Gunakan layanan gravatar untuk menampilkan foto anda.
BERITA TERKINI
BERITA POPULER
RSS| Layanan Mobile| Tentang Kami| Disclaimer| Kontak Kami| Karir| Newsletter
Copyright 2008 - 2012 inilah.com, All rights reserved inilah.com.